Kartasura, Mataram

(Dialihkan dari Kasunanan Kartasura)

Karaton Kartasura ing Nagari Mataram (bahasa Jawa: (ka) (ra)ꦠꦺꦴ (to)ꦤ꧀ (n) (ka) (r) (ta)ꦱꦸ (su) (ra)ꦲꦶ (hi) (ng) (na) (ga)ꦫꦶ (ri) (ma) (ta) (ra)ꦩ꧀ (m)) adalah karaton dan bekas ibu kota keempat dari Kesultanan Mataram pasca Kutagede, Karta dan Plered. Karaton ini didirikan oleh Susuhunan Hamangkurat II pada tahun 1680. Tinggalan yang masih tersisa hingga saat ini di antaranya adalah sebagian dinding Cepuri, Baluwarti, Taman Kraton (Gunung Kunci), Gedong Piring, Gedong Obat, Dalem Pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu. Beberapa toponim tersebut antara lain Kemasan (pengrajin emas), Gerjen (tukang jahit), Sayangan (kerajinan tembaga), Kunden (kerajinan gerabah), Pandean (tukang besi), Jagalan (tukang jagal hewan), Ngabean (Pangeran Hangabei), Singopuran (P. Singopuro), Mangkubumen (P. Mangkubumi), Purbayan (P. Purboyo).

Karaton Kartasura
Keraton Kertasura
Karaton Kartasura Map.jpg
Peta Kartasura, sketsa oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.
Jeniskaraton (istana), telah hancur
LetakKartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah
Koordinat7°33′25″S 110°44′25″E / 7.557082831131126°S 110.74026636549284°E / -7.557082831131126; 110.74026636549284
DibangunRebo Pon, 27 Ruwah, 1603 Alip J (11 September 1680 M)
Dibangun untukHamangkurat II
Tahun didirikan1680
Kartasura, Mataram berlokasi di Jawa
Kartasura, Mataram
Lokasi Kartasura di pulau Jawa
Bangunan benteng yang tersisa dari karaton Kartasura

Ibu kota Mataram 1680–1755Sunting

Pada abad ketujuh belas Kartasura merupakan ibu kota Kesultanan Mataram antara tahun 1680–1755 pasa Plered. Pada periode ini biasa disebut sebagai era Mataram-Kartasura. Akibat dari Perjanjian Giyanti kekuasaan Mataram berakhir yang kemudian terbagi menjadi dua kekuasaan baru.

Beberapa peristiwa yang terjadi di era ini, diantaranya:

  • Hubungan yang rumit dengan VOC
  • Geger Pacinan, pemberontakan dan runtuhnya karaton (1743)
  • Perjanjian Giyanti (1755)

Sejarah singkatSunting

 
Sisa benteng karaton Kartasura

Tahun 1600 J Raden Trunajaya dibantu Karaeng Galesong memberontak pemerintah Mataram yang beribu kota di Karaton Plered. Susuhunan Hamangkurat I mengamankan diri beserta keluarganya. Setelah pasukan Trunajaya memenangkan pertempuran, mereka segera meninggalkan Karaton Plered dan membangun kekuatan baru di Kabupaten Kediri. Raden Trunajaya mengangkat dirinya sebagai raja yang berkuasa atas seluruh tanah Jawa.

Sementara itu Susuhunan Hamangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di desa Ajibarang Kabupaten Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Hamangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya dia wafat. Sesuai permintaannya sebelum meninggal, jenazah Susuhunan Hamangkurat I dimakamkan di desa Tegalarum Kabupaten Tegal.

Pangeran Adipati Anom (putra Hamangkurat I) menyatakan diri sebagai susuhunan baru menggantikan bapaknya, dia bergelar Susuhunan Hamangkurat II. Seluruh kekuatan yang masih setia segera dikumpulkan dan dipusatkan di kota Tegal, mereka bersepakat merebut kembali takhta Jawa yang sedang dalam genggaman Trunajaya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Hamangkurat II meminta bantuan kekuatan tempur kepada Belanda di Batavia.

Tahun 1601 J Susuhunan Hamamangkurat II mengerahkan pasukan tempur yang sangat besar untuk menyerang Trunajaya di Kabupaten Kediri. Pasukan Kediri kewalahan menghadapi kekuatan Mataram yang dibantu serdadu Belanda dengan persenjaataan modern. Setelah melalui pertempuran dahsyat, Raden Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Kekuasaan Mataram berhasil dikembalikan oleh Susuhunan Hamangkurat II.

Usai menumpas pemberontakan Trunajaya, Hamangkurat II menarik pasukannya menuju Kabupaten Semarang, kemudian dia memberi perintah kepada Pangeran Nrangkusumo agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi kawasan permukiman. Dalam kurun waktu dua tahun hutan Wanakerta sudah berubah menjadi sebuah kota yang besar.

Pada hari Rebo Pon, tanggal 27 Ruwah, tahun Alip 1603 J, bertepatan dengan tanggal 11 September 1680 M, Susuhunan Hamangkurat II secara resmi menempati karaton dan ibu kota yang baru. Sejak saat itu nama "Wanakerta" diganti dengan nama "Kartasura".

Bacaan lebih lanjutSunting

  • Ricklefs, Merle Calvin (1983). "The Crisis of 1740–1 in Java: the Javanese, Chinese, Madurese and Dutch, and the Fall of the Court of Kartasura" [Krisis 1740–1 di Jawa: Orang Jawa, Tionghoa, Madura, dan Belanda, dan Runtuhnya Keraton Kartasura]. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (dalam bahasa Inggris). The Hague. 139 (2/3): 268–290. 
  • Pemberton, John, (1994) On the subject of "Java" Ithaca : Cornell University Press.ISBN 0-8014-2672-3
  • Ricklefs, M.C. (1978) Modern Javanese historical tradition: A study of an original Kartasura chronicle and related materials. London : School of Oriental and African Studies.
  • Ricklefs, M.C. (1993) War, culture and economy in Java, 1677–1726: Asian and European imperialism in the early Kartasura period. Sydney : Asian Studies Association of Australia in association with Allen and Unwin.

Koordinat: 7°34′27″S 110°47′8″E / 7.57417°S 110.78556°E / -7.57417; 110.78556