Kapal penjelajah Jepang Suzuya (1934)

Kapal penjelajah berat pesawat terbang tahun 1934

Suzuya (鈴谷) adalah sebuah kapal penjelajah berat kelas Mogami milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.[4]

Suzuya-1.jpg
Suzuya mengarungi lautan.
(Kekaisaran Jepang)
Nama: Suzuya
Asal nama: Sungai Suzuya di Karafuto
Dipesan: 1931 (Tahun Fiskal)
Pembangun: Arsenal Angkatan Laut Yokosuka
Biaya: 24.833.950 Yen
Pasang lunas: 11 Desember 1933
Diluncurkan: 20 November 1934
Mulai berlayar: 31 Oktober 1937[1]
Dicoret: 20 Desember 1944
Nasib: Tenggelam pada 25 Oktober 1944 di Pertempuran Samar 11°45.2′N 126°11.2′E / 11.7533°N 126.1867°E / 11.7533; 126.1867Koordinat: 11°45.2′N 126°11.2′E / 11.7533°N 126.1867°E / 11.7533; 126.1867
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis: Kapal penjelajah kelas-Mogami
Berat benaman:
  • 8500 t (8400 ton panjang) (resmi, awalnya)
  • 13670 t (13450 ton panjang) (final)
Panjang: 200,6 meter (658 ft)
Lebar: 20,2 meter (66 ft)
Daya muat: 5,9 meter (19 ft)
Tenaga: 154000 shp (115000 kW)
Pendorong:
Kecepatan:
  • 37-knot (69 km/h) (awalnya)
  • 35,5 knot (65,7 km/h) (final)
  • Jangkauan: 8032 nmi (14875 km) pada 14 knot (26 km/h)
    Kapasitas: 2243 ton minyak berat
    Awak kapal: 850-950 orang
    Senjata:
    Pelindung:
  • Sabuk: 100-125 mm
  • Geladak:35-60 mm
  • Turet senjata:25 mm
  • Pesawat yang
    diangkut:
    3 x pesawat terbang apung
    Fasilitas penerbangan: 2 katapel pesawat terbang

    Namanya berasal dari Sungai Suzuya di Karafuto (sekarang Sakhalin). Sekarang sungai tersebut bernama Susuya (bahasa Rusia: Сусуя) setelah lepas dari kekuasaan Jepang usai Perang Dunia II berakhir.

    KonstruksiSunting

    Suzuya lahir pada 20 November 1934 di Yokosuka merupakan kapal ketiga dari kelas Mogami. Pada saat peluncurannya, Kaisar Hirohito secara langsung menjadi saksinya. Meskipun penyempurnaan pembangunannya selesai pada tahun 1936, Suzuya harus "mondok" lagi selama setahun (plus bonus 2 tahun lagi karena harus mengantri) untuk mendapatkan modifikasi berat badan dan persenjataannya. Alasan dari modifikasi tersebut didasarkan hasil dari percobaan yang dilakukan pada Mogami untuk menemukan kelemahannya dan kemudian mengaplikasikan solusinya pada Suzuya dan Kumano (membuat desain akhir mereka berdua jadi berbeda dari Mogami dan Mikuma, serta dapat juga dianggap sebagai sub-kelas yang terpisah dari kelas Mogami, yakni kelas Suzuya).

    Masa dinasSunting

    Baru pada tahun 1939, Suzuya resmi dapat mulai bertugas dan bergabung bersama ketiga saudarinya membentuk Divisi Penjelajah ke-7 yang menjadi bagian dari Armada Ke-2. Menjelang dimulainya Perang Pasifik, Suzuya sempat berpartisipasi dalam aksi tembakan peringatan menyusul Pertempuran Ko Chang, bagian dari Perang Prancis-Thailand,[5] yang merembet sampai wilayah perairan Jepang. Selain itu, ia juga ikut dalam operasi pendudukan ke Indochina Prancis (sekarang sudah tergabung menjadi negara Vietnam).

    Pada saat penyerangan ke Pearl Harbor dimulai, Suzuya yang tergabung dalam Armada Ekspedisi Selatan Pertama dibawah komando Laksamana Madya Jisaburo Ozawa[4] berpartisipasi dalam invasi Malaya dan juga pengejaran 'Force Z' yang berakhir dengan kegagalan pencarian dari pihak armada tersebut. Kemudian Suzuya dan Kumano berturut-turut ditugaskan untuk menginvasi Sarawak, Anambas, Endau, Palembang, dan Pulau Bangka di Jawa dan sepanjang Sumatra dalam serangkaian operasi Kampanye Hindia Belanda.

    Sebelum dimulainya Serangan Samudra Hindia, Suzuya juga berperan penting dalam pendudukan di Kepulauan Andaman. Sementara di operasi tersebut, Suzuya ambil bagian dalam operasi minor untuk menghancurkan armada transportasi Inggris di wilayah utara Teluk Bengal. Kemudian Suzuya bergerak dari wilayah barat ke timur kekuasaan Kekaisaran Jepang, menyusul kekalahan Jepang di Pertempuran Midway dimana Suzuya melakukan kesalahan dengan tidak menyadari dan melaporkan pergerakan Mikuma yang akan menabrak Mogami dan menyebabkan kedua kakaknya rusak parah.[butuh rujukan]

    Suzuya setelahnya banyak terlibat di wilayah Pasifik dan Solomon seperti pada Pertempuran Kepulauan Solomon Timur dan Pertempuran Kepulauan Santa Cruz, dimana Suzuya tidak terlibat secara langsung karena pertempuran yang sifatnya sangat jarak jauh sekali. Ia baru terlibat pertempuran aktif pada Pertempuran Kolombangara, Pertempuran Empress Augusta Bay, Pertempuran Laut Filipina, dan Pertempuran Teluk Leyte.

    NasibSunting

    Tepatnya pada Pertempuran Samar (25 Oktober 1944), Suzuya mengakhiri perjalanan hidupnya setelah berulang kali menerima gelombang serangan total 40 pesawat pembom Avenger. Walaupun tak ada satu pun yang mengenai tubuhnya dengan telak, satu bom yang luput dari sasaran justru memantik salah satu torpedo "Long Lance"-nya dan meledak serta memaksa semua krunya meninggalkan Suzuya yang tenggelam perlahan-lahan.

    KaptenSunting

    No. Nama Foto Pangkat Masa jabatan
    Mulai Selesai
    1 Shibata Yaichirō [6] Kapten 1 Desember 1937 15 November 1938
    2 Kubo Kyuuji [6] Kapten 15 November 1938 15 November 1939
    3 Takayanagi Gihachi [6] Kapten 15 November 1939 15 Oktober 1940
    4 Kimura Masatomi [6] Kapten 15 Oktober 1940 24 November 1942
    5 Ono Takeji [6] Kapten 24 November 1942 7 September 1943
    6 Takahashi Yuuji [6] Kapten 7 September 1943 1 September 1944
    7 Teraoka Masao [6] Kapten 1 September 1944 25 Oktober 1944

    Catatan kakiSunting

    1. ^ Lacroix, Japanese Cruisers, hal. 794
    2. ^ a b Watts, Japanese Warships of World War II, hal. 99
    3. ^ Campbell, Naval Weapons of World War Two, hal. 185-187
    4. ^ a b Whitley, Cruisers of World War Two, hal. 181-184
    5. ^ Patton, Japanese Heavy Cruisers of World War Two, hlm. 47-52
    6. ^ a b c d e f g http://www.combinedfleet.com/suzuya.htm

    Daftar pustakaSunting

    • Jonathan B. Parshall,Anthony P. Tully (2005). Shattered Sword: The Untold Story of the Battle of Midway. Dulles, Virginia: Potomac Books. ISBN 1-57488-923-0. 
    • Robert Lundgren (2014). The World Wonder'd: What Really Happened Off Samar. Ann Arbor, Michigan: Nimble Books. hlm. 288. ISBN 978-1608880461. 
    • Brown, David (1990). Warship Losses of World War Two. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-914-X. 
    • Campbell, John (1985). Naval Weapons of World War Two. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-459-4. 
    • Cox, Robert Jon (2010). The Battle Off Samar: Taffy III at Leyte Gulf (5th Edition). Agogeebic Press, LLC. ISBN 0-9822390-4-1. 
    • D'Albas, Andrieu (1965). Death of a Navy: Japanese Naval Action in World War II. Devin-Adair Pub. ISBN 0-8159-5302-X. 
    • Dull, Paul S. (1978). A Battle History of the Imperial Japanese Navy, 1941-1945. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-097-1. 
    • Howarth, Stephen (1983). The Fighting Ships of the Rising Sun: The drama of the Imperial Japanese Navy, 1895-1945. Atheneum. ISBN 0-689-11402-8. 
    • Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869-1945. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-893-X. 
    • Lacroix, Eric; Linton Wells (1997). Japanese Cruisers of the Pacific War. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-311-3. 
    • Patton, Wayne (2006). Japanese Heavy Cruisers in World War II. Squadron Signal Publications. ISBN 0-89747-498-8. 
    • Watts, Anthony J. (1967). Japanese Warships of World War II. Doubleday & Company. 
    • Whitley, M.J. (1995). Cruisers of World War Two: An International Encyclopedia. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-141-6. 

    Pranala luarSunting