Buka menu utama

Kampung Kapitan merupakan sebuah kawasan cagar budaya yang terletak di kota Palembang, Sumatera Selatan. Kawasan ini terletak di tepi sungai Musi tepat di sisi barat jembatan Ampera yang dikenal juga dengan daerah tuju ulu. Dahulu kawasan ini adalah tempat yang pertama kali menjadi kawasan tempat tinggal bagi warga tionghoa pada masa penjajahan belanda.[1]

Kawasan ini dinamakan dengan kampung kapitan karena di kawasan ini terdapat 3 rumah perwira. Kampung ini didirikan pada tahun 1644 abad XVI.[2] Meski sudah berusia ratusan tahun bangunan bangunan yang ada di tempat ini masih ditinggali.

SejarahSunting

Lioang Taow Ming adalah seseorang yang memiliki pengaruh kuat pada komunitas Cina. Karena hal itu ia lalu diangkat sebagai perwira oleh pemerintahan belanda dan diberikan kepercayaan untuk mengatur wilayah 7 ulu dan sekitarannya.[3]

Pimpinan masyarakat Cina Palembang yang pertama adalah Tjoa Kie Tjuan yang memiliki pangkat mayor. Masa kepemimpinannya adalah dari tahun 1830-1855 di kawasan 7 ulu. Setelahnya kemudian putranya Tjoa Han Him dengan pangkat kapiten atau kapten menggantikan ayahnya dan diberikan wewenang dan kebebasan untuk mengatur wilayahnya sendiri. Tjoa Han Him juga dipercaya untuk mengawasi pajak. Pada masa kepemimpinannya daerah ini diberi nama Kampung Kapitan yang merupakan gelar dan julukannya[4].

Awalnya pemerintahan Belanda memberikan wilayahnya karena merasa khawatir terhadap golongan keturunan cina di Palembang. Namun seiring perkembangannya, masyarakat Cina kemudian menjadi perantara perdagangan dan mendapatkan posisi istimewa dalam pemerintahan Belanda.[5]

Kawasan kampung kapitan dahulu memang menjadi sentral perdagangan kota, sehingga pedagang yang kelelahan melakukan persinggahan di rumah kapitan untuk beristirahat[2].

Ruang Terbuka dan BangunanSunting

Terdapat ruang terbuka di depan rumah Kapiten, pada tahun 1937 ruang tersebut memiliki peranan yang penting sebagai pertemuan jalur jalur pejalan kaki. Fungsi dari ruang terbuka lainnya adalah sebagai taman dimana terdapat tanaman hias yang dihiasi dengan delapan pot bunga besar di tepi ruang terbuka[3].

Seiring perkembangan zaman, ruang terbuka yang terletak di depan rumah kapiten mulai dipenuhi oleh pemukiman. Pada tahun 2014 dibangun sebuah restoran kapiten yang membuat akses menuju ruang terbuka dari arah sungai terhalangi oleh tembok. Juga dibangun taman yang menghalangi wujud bangunan rumah kapiten [3].

Terdapat 15 kelompok bangunan yang berbentuk rumah panggung yang ada di kawasan ini. Dimana tiga diantaranya adalah rumah perwira. Rumah kapiten terdiri dari rumah utama dan rumah abu. Rumah utama seluas 4.000 meter persegi dan dipisahkan oleh ruang terbuka di bagian tengah. Rumah ini masih ditinggali oleh keturunan dari Tjoa hanhim. Sedangkan rumah Abu memiliki luas 1.700 meter persegi dan digunakan untuk mengumpulkan benda benda keluarga marga tjo seperti foto dan juga tempat disimpannya abu dari keluarga yang sudah dikremasi disimpan[2]. Rumah Kapiten memiliki gaya arsitektural palembang, cina dan kolonial.

ReferensiSunting

  1. ^ "Kampung Kapitan Jejak Pertama Keturunan Tionghoa". m.tribunnews.com. 14-06-2015. Diakses tanggal 2 April 2019. 
  2. ^ a b c Febriati, Widya Fransiska (2007). "Analisis Potensi Pariwisata pada Kampung Kapiten di Palembang": 2. Diakses tanggal 1 April 2019. 
  3. ^ a b c Adiyanto, Johannes (Agustus 2016). "Kajian Perubahan Tata Ruang Terbuka pada Kawasan Bersejarah dengan Metode Space Syntax ( Studi Kasus Kawasan Kampung Kapitan di Palembang )". Perencanaan Wilayah dan kota. 27: 105–117. 
  4. ^ "Asita Memilih Ketua Baru Periode 2014-2018". palembang-tourism.com. Diakses tanggal 2019-04-02. 
  5. ^ Adiyanto, Johannes (Juli 2006). "Kampung Kapiten Interpretasi "Jejak" Perkembangan Permukiman dan Elemen Arsitektural". Dimensi Teknik Aritektur. 34: 15.