Jonggol, Bogor

kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Jonggol adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Jonggol
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenBogor
Populasi
 • Total210,778 jiwa
Kode Kemendagri32.01.06 Edit the value on Wikidata
Desa/kelurahan14
Situs webkecamatanjonggol.bogorkab.go.id

SejarahSunting

Asal Usul JonggolSunting

Kata Jonggol menurut beberapa sumber bukan berasal dari serapan kata Bahasa Sunda. Ada beberapa versi terkait asal usul nama Jonggol, antara lain:

  • Pertama, berasal dari Jawa Kuno yaitu Janggala yang dalam Kamus Besar Bahasa Jawa Kuno-Indonesia Depdikbud berarti sebuah pepohonan luas yang tidak digarap. Penamaan ini diperkiraan dilakukan sekitar tahun 1628, dimana Pasukan khusus Kesultanan Mataram yaitu Pasukan Kejawar bentukan Raden Joko Kahiman (Adipati Mrapat/Dalem Banyumas), yang pada saat itu singgah sementara untuk mempersiapkan penyerbuan Mataram ke Sunda Kelapa dengan membuka hutan yang kemudian mereka berinama dengan Jonggol, hal tersebut dikuatkan dengan ditemukannya penggunaan nama Jonggol untuk beberapa tempat di daerah Banyumas, seperti Watu Jonggol di Sumpiuh, Banyumas, Curug Jonggol (Jenggala) di Baturaden, Banyumas dan Dukuh Jonggol, Aditirto, Pejagoan.
  • Kedua, konon nama Jonggol berasal dari Bahasa Tionghoa. Dimana sejak abad 17 orang-orang keturunan Tionghoa mulai memasuki wilayah tersebut.
  • Ketiga, menurut Kuncen dari Makam Mbah Jago, Gunung Payung. Kata Jonggol berasal dari kata Jogol yang artinya adalah saling berkelahi. Dikisahkan pada zaman dahulu, Mbah Jago yang merupakan seorang pendekar dan penyebar Agama Islam melakukan dakwahnya ke wilayah Rawa Jaha dengan cara berkelahi dengan para pendekar lokal di wilayah tersebut.

Selain ketiga versi tersebut, ada beberapa versi asal usul kata Jonggol yang dianggap hanya cocokologi:

  • Jong Gold (Bahasa Belanda), Kata Jong Gold yang berarti emas muda konon untuk menunjukan warna buah durian yang banyak tumbuh di daerah tersebut.
  • Jungle (Bahasa Inggris), Kata Jungle disebutkan untuk menunjukan/mendeskripsikan kondisi Jonggol pada saat salah satu penjelajah asal Inggris mengunjungi wilayah tersebut pada masa kekuasaan Raffles di Nusantara, khususnya Buitenzorg.

Kawedanan JonggolSunting

 
Kawedanan Jasinga (biru), Kawedanan Depok (oren), Kawedanan Leuwiliang (merah), Kawedanan Cibinong (kuning), Kawedanan Buitenzorg (hijau toska), Kawedanan Jonggol (hijau).

Jonggol sebelum tahun 1990an merupakan Kota Kecamatan terbesar dan termaju di wilayah Timur Kabupaten Bogor. Seiring dengan masuknya industrialisasi di wilayah Gunung Putri dan Cileungsi, Bogor, membuat Kota Jonggol meredup dan tidak lagi menjadi Kota pusat di wilayah timur Kabupaten. Jonggol juga dahulunya dikenal sebagai sebuah distrik atau Kawedanan, sebuah daerah otonom yang wilayahnya saat ini telah terpecah menjadi bagian dari beberapa daerah antara lain, Kabupaten Bogor (yaitu: Jonggol, Cileungsi, Gunung Putri, Klapanunggal, Sukamakmur, Cariu, Tanjungsari, Bogor); Kabupaten Bekasi/ Kota Bekasi (yaitu: Cibarusah, Serang Baru, Bojongmangu, Jatisampurna); Kota Depok (yaitu: Cimanggis); Jakarta Timur (yaitu: Ciracas, Cipayung) dan Kabupaten Karawang (yaitu: Tegalwaru, Pangkalan). Kawedanan atau distrik Jonggol ini mulai dihapuskan pada tahun 1957. Sejarah penamamaan Kawedanan ini sempat mengalami beberapa kali perubahan mulai dari Rawa Jaha, Kemudian Rawalo, Tjibaroesa hingga Jonggol, perubahan nama ini terjadi beralasan mulai dari pemindahan pusat Kawedanan hingga kebijakan dari pemerintah Kolonial Belanda. Pusat Kawedanan sempat berpindah tempat beberapa kali mulai dari Dayeuh (sekarang bagian dari Desa Sukanegara, Jonggol, Bogor). Kemudian, Kauman (Sekarang Desa Cileungsi, Cileungsi, Bogor), selanjutnya Kampung Babakan (sekarang bagian dari Desa Cibarusahkota, Cibarusah, Bekasi) hingga yang terakhir Kampung Pojok Salak/Rawa Jaha (sekarang menjadi alun-alun Jonggol).[1]

JulukanSunting

Jonggol memiliki cukup banyak julukan populer, baik yang berkembang dari masyarakat lokal, tokoh nasional, para pelancong hingga media populer:

  • "Jonggol, Kota Seribu Curug". Julukan ini telah lama tersemat pada Jonggol, bahkan sejak Kecamatan Jonggol masih meliputi Sukamakmur, Cariu dan Tanjungsari. Karena, wilayah Jonggol dikenal sejak dulu memiliki banyak sekali curug.
  • "Jonggol, Tibet Van Java". Belakangan ini banyak pelancong di media sosial terkesima dengan keindahan alam di Jonggol, terutama di daerah Gunung Kanaga (Antajaya), Puncak Kuta dan Curug Mariuk (Cibadak) yang menurut mereka nuansa atau 'vibes' nya seperti di Tibet atau Bhutan.
  • "Jonggol, Kota Durian". Julukan ini disematkan oleh para pelancong yang pernah mengunjungi Jonggol. Memang Durian, merupakan salah satu komoditas unggulan dari daerah Jonggol, terutama di Desa Cibodas, Singajaya, Singasari, Sukajaya dan Pabuaran.
  • "Jonggol, Wakwaw!". Julukan ini sempat populer ketika salah satu pemain di sinetron Emak Ijah Pengen ke Mekah yaitu Sony Wakwaw, kerap melontarkan kalimat candaan "Bapak mana? Dimana? Di Jonggol". Akibatnya nama Jonggol sempat sangat populer akibat sinetron tersebut, meski bermakna guyonan.

Kandidat Ibukota IndonesiaSunting

Jonggol.[2] Pernah digadang-gadang sebagai alternatif paling realistis untuk memindahkan ibu kota, Jonggol terletak hanya 40 kilometer di sebelah tenggara Jakarta. Rencana ini sudah didengungkan sejak masa pemerintahan presiden Soeharto. Alasan lain dipilihnya Jonggol adalah wilayah ini dinilai masih memiliki lahan yang sangat luas dan berada di dataran tinggi yang relatif tinggi. Karena, berdasarkan Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 1 Tahun 1997. Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol Sebagai Kota Mandiri, total luas lahan yang tercakupi berkisar 657,25 km² dan berada di ketinggian +260 m hingga +1800 m.[2]

AksesSunting

Dari Jakarta untuk mengakses Jonggol bisa melalui Alternatif Cibubur-Cileungsi (Transyogi) keluar dari Pintu Tol Cibubur atau Pintu Tol Jatikarya sejauh 23 km. Jalan Transyogi Jonggol juga menjadi alternatif bagi warga ke Bandung sekitar 90 km dan Cianjur 50 km dari Jonggol melalui Cikalong Kulon bila Jalan Tol Jakarta–Cikampek dan Jalan raya wisata Puncak.

Tokoh dari JonggolSunting

Potensi Wisata Jonggol dan SekitarSunting

Wilayah Kecamatan Jonggol maupun Jonggol Raya (Bakal DOB Kabupaten Bogor Timur/Ex Kawedanan Jonggol) dinilai sebagai daerah dengan potensi wisata yang besar, karena didukung oleh kondisi alam di wilayah tersebut. Namun tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai akibatnya potensi yang besar tersebut tidak termanfaatkan dengan optimal. Potensi wisata yang ditawarkan di daerah ini berupa alam pegunungan, air terjun, telaga, sungai, sejarah hingga flora dan fauna. Berikut potensi wisata di wilayah ini:

  • Kecamatan Jonggol
    • Prasasti Pasir Awi, Sukajaya dan Pabuaran.
    • Goa Ciwadon, Cibodas.
    • Curug Cisedong, Cibodas.
    • Bendungan Cipamingkis, Bendungan dan Sukasirna.
    • Wisata Air Kali Dayeuh, Sukanegara.
    • Pantai Doro, Sukajaya.
    • Geger Gunung Kinayungan, Sukajaya.
    • Jonggol Garden, Cibodas.
    • Wonderful Jonggol, Cibodas.
    • Telaga Citra Indah, Sukamaju dan Setu Sari.

Jumlah bangunanSunting

Gedung / Menara: 2 Unit

Wisma: 2 Unit

Rumah Sakit Umum: 5 Unit

Restoran: 7 Unit

Toko / Supermarket: 10 Unit

Perumahan: 9 Unit

Sekolah: 13 Unit

Pasar ; 12 Unit

MediaSunting

  • Indopos
  • Jawa Pos
  • Bali Post
  • Koran Surya
  • Radar Bogor
  • Tribun Jabar
  • DAAI TV 59 UHF
  • Radio Khatulistiwa 1026 AM
  • C Radio 1062 AM
  • Radio Nusantara Jaya 1395 khz
  • RPN radio ronda ng daos
  • Poskota
  • Draba PT Radio

Kelurahan/desaSunting

  1. Balekambang
  2. Bendungan
  3. Cibodas
  4. Jonggol
  5. Singajaya
  6. Singasari
  7. Sirnagalih
  8. Sukajaya
  9. Sukamaju
  10. Sukamanah
  11. Sukanegara
  12. Sukasirna
  13. Weninggalih
  14. Sukagalih

ReferensiSunting

  1. ^ [1] tempo.co
  2. ^ a b "Tempointeraktif.Com - Pemindahan Ibu Kota ke Jonggol Lebih Realistis". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-08. Diakses tanggal 2019-08-11.