Betania Jezamin Setiawan, S.M., M.Sc., CFA. atau akrab disapa Jezzie (lahir di Jakarta, 1 Agustus 1988; umur 31 tahun) adalah akademisi dan praktisi keuangan Indonesia. Ia merupakan pendiri dan CEO GandengTangan, perusahaan rintisan teknologi finansial Indonesia.[1] Ia memulai kariernya sebagai analis keuangan sebelum memusatkan perhatiannya terhadap kewirausahaan sosial. Ia aktif sebagai pembicara publik tentang bisnis dan mengajar sebagai dosen di Universitas Paramadina.[2][3]

Jezzie Setiawan
CEO Of Gandeng Tangan Jezzie Setiawan.jpg
LahirBetania Jezamin Setiawan
1 Agustus 1988 (umur 31)
Jakarta
KebangsaanIndonesia
AlmamaterInstitut Teknologi Bandung (ITB)
Universitas Exeter
PekerjaanDosen
Dikenal atasPendiri dan CEO GandengTangan
Orang tuaBudi Setiawan (ayah)
Amelia Farina Salim (ibu)
KerabatEmil Salim (kakek)

Jezzie menamatkan S-1 di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan S-2 di Univeristas Exeter, Inggris. Minatnya pada bidang ekonomi dipengaruhi oleh sosok sang kakek, Emil Salim, yang merupakan salah seorang begawan ekonomi di Indonesia. Jezzie awalnya bekerja di bidang bisnis dan manajemen untuk bank komersial dan perusahaan sekuritas. Di bidang yang ia geluti, ia mengantongi sertifkat CFA dan lisensi Wakil Manajer Investasi. Pada akhir 2013, ia bergabung dalam gerakan TurunTangan yang diprakarsai oleh Anies Baswedan dan bertemu Darul Syahdanul, yang kelak mendampinginya sebagai CEO GandengTangan.

Bertekad untuk membangun sistem pendukung bagi wirausahawan sosial, Jezzie memutuskan untuk mengakhiri karirenya di perbankan dan perusahaan pada akhir 2014. Dibantu oleh Nur Roni Dinnurohman, ia menggagas GandengTangan sebagai platform urun dana untuk mendukung wirausahawan sosial lewat pinjaman modal. Kini, GandengTangan telah menjelma menjadi platform P2P Lending pembiayaan usaha mikro. Di sini, semua orang bisa melakukan investasi pinjaman untuk usaha mikro mulai dari Rp50.000.

Kehidupan awalSunting

Jezzie melewati masa kecil dan menyelesaikan pendidikannya di Jakarta. Ia lahir dari pasangan Budi Setiawan (ayah) dan Amelia Farina Salim (ibu). Ibunya adalah putri dari Emil Salim, yang dikenal sebagai ahli ekonomi Indonesia. Tamat dari SMA Negeri 8 Jakarta pada 2006, Jezzie masuk ke Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia tertarik menekuni bidang ekonomi dari membaca tulisan Emil Salim, kakeknya.[4] Di bangku perkuliahan, Jezzie mulai membangun pengalaman di bidang investasi dan penjualan saat mengikuti program Integrative Business Experience. Ia mendapat kesempatan bergabung dengan Tim Promosi Pemasaran di perusahaan Catalyst. Di sana, ia bersama timnya mencatatkan penjualan tertinggi sehingga didapuk sebagai Tim Pemasaran Terbaik.[5]

Pada November 2009, setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya, Jezzie bekerja di PT Bank Panin. Ia memegang posisi sebagai manajer akun yang mengelola segmen UKM dan Komersial. Selama di posisi ini, Jezzie mencatatkan peningkatan penjualan dan kredit. Pada semester kedua 2010, pencapaiannya melampaui target individu perusahaan dan membuatnya mendapat penghargaan sebagai salah seorang manajer akun berkinerja terbaik PT Bank Panin. Sejak Mei 2011, ia memegang posisi analis kredit, tetapi berhenti pada Agustus 2011 untuk melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Exeter, Inggris.[6]

Selama di Inggris, ia aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) serta mulai menaruh perhatian terhadap masalah sosial dan ekonomi Indonesia. Menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang fantastis tetapi hanya digarap oleh para pemodal besar, Jezzie memikirkan konsep untuk menghubungkan antara investor dan wirausaha sosial, yang kelak diwujudkannya melalui GandengTangan.[6]

Kembali ke Tanah Air pada akhir 2012, ia sempat menjadi relawan dan mengajar di Kelompok Belajar Anak (KBA) Muara Baru, Jakarta sebagai guru bahasa Inggris. Pada Mei 2013, ia bekerja di Indo Premier Securities sebagai analis riset ekuitas hingga Oktober 2013. Setelah itu, ia menjadi analis bisnis untuk perusahaan pribadi Ananda H. Siregar hingga Juli 2014, sebelum mendirikan GandengTangan.

Sembari bekerja, ia membagi waktunya di dunia kerelawanan. Pada akhir 2013, ia bergabung dengan TurunTangan, gerakan sosial yang diprakarsai oleh Anies Baswedan untuk mendorong orang-orang yang memiliki integritas tinggi, profesional dan kompeten agar tidak apatis, melek politik, dan terlibat dalam politik. Di sini, Jezzie berkenalan dengan Darul Syahdanul, yang kelak bergabung di tim GandengTangan.

GandengTanganSunting

IdeSunting

 
Jezzie dan tim pada tahun kedua GandengTangan

Pada akhir 2014, Jezzie memutuskan berhenti mengejar karier di perusahaan besar. Ia memilih "berkontribusi lebih banyak dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa". Ia mendapat titik balik setelah melakukan perjalanan ke daerah terpencil di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perjalanannya ke bagian timur Indonesia mengukuhkan tekadnya untuk berperan mengurangi kemiskinan dan memberi akses ke peluang yang sama bagi semua orang Indonesia. Ia melihat apabila kelompok masyarakat digerakkan dan diberi modal, mereka akan mampu bangkit dari kemiskinan dengan memanfaatkan potensi lokal.[5][7]

Awalnya, Jezzie sempat berpikir berinvestasi sendiri untuk wirausaha sosial. Namun, ia merasa kemampuan investasinya akan terbatas apabila ia melakukan seorang diri. Di sisi lain, ia mendapati ternyata sudah banyak wirausahawan sosial muncul tetapi mereka kesulitan permodalan. Peraturan dan kebijakan perbankan tidak mengakomodasi para pelaku usaha kecil untuk mendapatkan modal. Mereka tidak bisa mendapatkan akses pendanaan ke perbankan karena faktor tidak adanya jaminan, pembukuan, maupun riwayat kredit yang dimiliki. "Banyak dari mereka yang harus meminjam dari rentenir dengan bunga yang tinggi," ujar Jezzie dalam wawancara dengan GeoTimes.[8]

Jezzie memikirkan banyak kemungkinan, termasuk membentuk badan amal atau LSM sebelum diperkenalkan oleh temannya pada Kiva, situs web asal Amerika Serikat yang memungkinkan wirausahawan sosial mendapat pinjaman dana dari hasil urun dana. Siapapun dapat berpartisipasi sebagai pemberi pinjaman dan mendapatkan uang mereka kembali setelah peminjam usai mencicilnya. Model Kiva dan konsep urun dana menarik bagi Jezzie. Walaupun di Indonesia sudah terdapat situs penggalangan dana model donasi seperti Kitabisa.com,[9] Jezzie percaya bahwa wirausahawan sosial tidak bisa mengandalkan donasi, melainkan harus "berjalan secara mandiri dan berkelanjutan".[1] Ia memutuskan membuat Kiva versinya sendiri yang ia namakan GandengTangan. Pada Maret 2015, GandengTangan resmi diluncurkan melalui situs web gandengtangan.org.

GandengTangan mengusung layanan peminjaman dana berkonsep crowdlending untuk memberdayakan iklim usaha dengan modal bergulir. Setiap orang dapat melakukan investasi pinjaman mulai dari Rp50.000 dan menentukan wirausahawan mana yang ingin didukung. Lewat konsep ini, Jezzie ingin menunjukan bahwa setiap orang mampu memberikan dampak sosial yang lebih dari sekadar kemurahan hati.[10] Dengan mengambil pinjaman usaha, pelaku usaha akan termotivasi untuk bekerja keras dan membayar pinjaman. Mereka akan belajar untuk mengatur keuangan dengan lebih efisien agar hutang tidak menumpuk dan bisa lunas sesuai tenggat waktu yang diharapkan. Adapun dana dari para donatur akan dikembalikan secara berkala oleh peminjam dana, sehingga bisa diolah kembali dengan meminjamkannya pada pemilik usaha lainnya.[5][11][12]

PengembanganSunting

Dalam rentang setahun sejak diluncurkan, GandengTangan memperoleh aliran pendanaan sebesar Rp300 juta dari 600 investor individual. Dana tersebut telah mendanai 12 usaha berdampak sosial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.[13][14] Pencapaian ini membawa Jezzie mendapat penghargaan "Marketeers Netizen Award" oleh Marketeers pada 2016.[13]

Pada awal 2017, Jezzie dan timnya mendapatkan dana dari investor malaikat, yang bersedia mendukung gagasan mereka.[15] Seiring itu, GandengTangan menjelma menjadi platform peer-to-peer lending pembiayaan usaha mikro. Melalui penambahan konsep peer-to-peer lending, GandengTangan merekrut mitra lapangan yang disebut GT-Trust untuk mencari dan menyaring peminjam.[16][17]

Per 1 Februari 2019, GandengTangan telah resmi terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada 1 April 2019, GandengTangan meluncurkan aplikasi untuk perangkat bersistem operasi Android.[18] Hingga Juni 2019, GandengTangan telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp12 miliar yang terhimpun dari 15.000 pendana.[1] Pendanaan yang telah terhimpun disalurkan untuk 2.000 usaha mikro di berbagai wilayah di Indonesia.[17]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c https://gandengtangan.co.id/about
  2. ^ https://www.paramadina.ac.id/manajemen
  3. ^ https://news.microsoft.com/id-id/2017/04/21/studi-microsoft-hanya-20-perempuan-yang-memilih-bekerja-di-industri-stem-science-technology-engineering-mathematic/
  4. ^ Emil Salim (2010). Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 979-709-495-9. 
  5. ^ a b https://ink.library.smu.edu.sg/cgi/viewcontent.cgi?article=1004&context=catalyst
  6. ^ a b https://gandengtangan.co.id/blog/kabar-rantau-com-gandeng-tangan-untuk-perubahan/
  7. ^ https://cantik.tempo.co/read/810119/dhini-hidayati-perempuan-yang-malu-dengan-ipk-tinggi/full&view=ok
  8. ^ https://gandengtangan.org/blog/the-geo-times-magazine-mandiri-bersama/
  9. ^ http://jurnal.untidar.ac.id/index.php/komunikasi/article/downloadSuppFile/769/58
  10. ^ https://indonesiatatler.com/society/ceo-of-gandeng-tangan-jezzie-setiawan-talks-challenges-collaborations-and-plans-to-expand
  11. ^ http://video.metrotvnews.com/kick-andy/yNLEXMWb-gandengtangan-org-wadah-bagi-pengusaha-sosial-yang-membutuhkan-modal
  12. ^ http://unltd-indonesia.org/2016/01/20/gandengtangan-org-situs-crowdlending-untuk-social-enterprise/
  13. ^ a b https://marketeers.com/gandeng-tangan-solusi-pendanaan-umkm-dengan-bunga-0/
  14. ^ http://www.medcofoundation.org/menjadi-wirausahawan-sosial-dengan-platform-digital/
  15. ^ https://id.techinasia.com/platform-crowdlending-gandengtangan-raih-pendanaan-pre-seed
  16. ^ https://gandengtangan.co.id/about
  17. ^ a b https://dailysocial.id/post/aplikasi-gandengtangan
  18. ^ https://id.techinasia.com/gandengtangan-aplikasi-mobile

Pranala luarSunting