Jalur kereta api Rancaekek–Tanjungsari

Jalur kereta api Rancaekek–Tanjungsari adalah salah satu jalur kereta api nonaktif di Jawa Barat dengan panjang lintas kurang lebih 11,232 km. Jalur ini secara de facto termasuk dalam Wilayah Aset II Bandung.[1][2]

Jalur kereta api Rancaekek–Tanjungsari
COLLECTIE TROPENMUSEUM Pas gereedgekomen spoorweg met viaduct TMnr 60052206.jpg
Viaduk Jatinangor
Ikhtisar
JenisJalur lintas cabang
SistemJalur kereta api rel ringan
StatusTidak beroperasi
TerminusRancaekek
Tanjungsari
Stasiun5
Operasi
Dibangun olehStaatsspoorwegen
Dasar hukum pembangunanWet 4 Januari 1916 Staatblad No. 36
Dibuka13 Februari 1921
Ditutup1942
PemilikPT Kereta Api Indonesia (pemilik aset jalur dan stasiun)
OperatorWilayah Aset II Bandung (de facto)
Data teknis
Panjang lintas11,232 km
Lebar sepur1.067 mm
Kecepatan operasi20 s.d. 40 km/jam
Jembatan Cikuda Jatinangor, dikenal juga dengan julukan "Jembatan Cincin" karena struktur pelengkung seperti layaknya jembatan kereta api di Eropa.

Dalam sejarahnya, direncanankan pembangunan jalur kereta api dari Rancaekek–Tanjungsari–Sumedang yang bertujuan untuk menjangkau perkebunan di daerah Jatinangor, serta mendukung pertahanan militer di wilayah Sumedang. Dimulailah pengerjakan segmen Rancaekek–Tanjungsari pada tahun 1917 yang diresmikan pada tanggal 13 Februari 1921.[3] Akan tetapi jalur kereta api segmen Tanjungsari–Sumedang gagal dibangun sebagai akibat dari Depresi Besar dan kondisi kas negara Hindia-Belanda yang terpuruk dalam Perang Dunia I.[4]

Jalurnya sendiri dinonaktifkan pada tahun 1942 karena dibongkar oleh pekerja romusa Jepang.[5] Walaupun demikian sebagian dari jejak-jejak jalur tersebut masih ada, seperti Jembatan Cincin Cikuda, Viaduk Jatinangor, dan Stasiun Tanjungsari. Stasiun yang tersisa hanyalah Stasiun Tanjungsari yang kini diubah menjadi kantor sekretariat Persatuan Purnawirawan ABRI Tanjungsari.[6]

Pada 13 September 2018 Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengumumkan akan melakukan reaktivasi jalur ini beserta dua jalur lainnya, yaitu Cikudapateuh–Ciwidey dan Banjar–Cijulang.[7] Akan tetapi, tanah tempat jalur ini sangat sukar direaktivasi mengingat jalur ini sudah padat permukiman penduduk.[2] Saat ini, proses reaktivasi sudah mencapai tahap pemetaan jalur dan penertiban lahan.[8]

Dari sisi reaktivasi, jalur ini sebenarnya sangat strategis karena berdekatan dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) dan jalan akses menuju Bandar Udara Internasional Kertajati.[9]

Jalur yang terhubungSunting

Lintas aktifSunting

Lintas nonaktifSunting

Tidak terhubung dengan lintasan kereta api nonaktif manapun.

Layanan kereta apiSunting

Tidak ada layanan kereta api yang dijalankan di jalur ini.

Daftar stasiunSunting

Nomor Nama stasiun Singkatan Alamat Letak Ketinggian Status Foto
Lintas - Bandung–Banjar–Maos
Segmen Rancaekek–Tanjungsari
Diresmikan pada tanggal 13 Februari 1921
oleh Staatsspoorwegen Westerlijnen
Termasuk dalam Daerah Operasi II Bandung
1603 Rancaekek RCK Rancaekek Wetan, Rancaekek, Bandung km 172+977 lintas BogorBandungBanjarKutoarjoYogyakarta
km 0+000 lintas RancaekekTanjungsari
+668 m Beroperasi  
- Bojongloa - km 4+685 Tidak beroperasi
- Cikeruh - Cikeruh, Jatinangor, Sumedang km 4+810 Tidak beroperasi  
- Cileles - km 8+139 Tidak beroperasi
- Tanjungsari - Jalan SS, Tanjungsari, Tanjungsari, Sumedang km 11+232 +855 m Tidak beroperasi

Keterangan:

  • Stasiun yang ditulis tebal merupakan stasiun kelas besar dan kelas I.
  • Stasiun yang ditulis biasa merupakan stasiun kelas II/menengah, III/kecil, dan halte.
  • Stasiun yang ditulis tebal miring merupakan stasiun kelas besar atau kelas I yang nonaktif.
  • Stasiun yang ditulis miring merupakan halte atau stasiun kecil yang nonaktif.

Referensi: [10][11][12]


RujukanSunting

  1. ^ Durohman, Ibad. "Perjalanan Gugatan Warga Jatinangor Atas Lahan Rel KA di Jabar". detiknews. Diakses tanggal 2018-11-08. 
  2. ^ a b Idris, Muhammad. "Sulitnya Hidupkan Rel KA Rancaekek-Tanjungsari, Banyak Rumah Warga". detikfinance. Diakses tanggal 2018-11-08. 
  3. ^ Perquin, B.L.M.C. (1921). Nederlandsch Indische staatsspooren tramwegen. Bureau Industria. 
  4. ^ Mulyana, Agus. (2017). Sejarah Kereta Api di Priangan. Bandung: Penerbit Ombak. hlm. 186. ISBN 602-258-453-1. 
  5. ^ Nusantara., Tim Telaga Bakti; Indonesia., Asosiasi Perkeretaapian (1997). Sejarah perkeretaapian Indonesia (edisi ke-Cet. 1). Bandung: Angkasa. ISBN 9796651688. OCLC 38139980. 
  6. ^ "Sulitnya Mencari Jejak Rel yang Hilang". Metrum. 27 Oktober 2018. Diakses tanggal 8 November 2018. 
  7. ^ "Ridwan Kamil Bakal Bangun Lintasan Kereta Api di Jalur Selatan - Warta Kota". Warta Kota. 2018-09-13. Diakses tanggal 2018-11-08. 
  8. ^ "Jawa Barat di Instagram "Happy weekend wargi Jabar 🤩 . Ada informasi yang menarik dan keren nih di awal bulan Februari 😎 . Inilah prioritas reaktivasi jalur Kereta…"". Instagram. Diakses tanggal 2020-02-04. 
  9. ^ "Menuju Transportasi Jabar Juara". Humas Jabar. 9 September 2019. Diakses tanggal 1 Februari 2020. 
  10. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  11. ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  12. ^ Arsip milik alm. Totok Purwo mengenai Nama, Kode, dan Singkatan Stasiun Kereta Api Indonesia