J. Mario Belougi

Aktivis asal Indonesia

Jouries Mario Belougi (lahir 5 Mei 1975) adalah seorang aktivis Indonesia. Belougi berperan penting dalam gerakan pembebasan demokrasi dari dogmatisme pemerintah pada 1990-an. [1] Dia merupakan penggerak aksi penolakan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan jajak pendapat di Timor Timur 1999. [2] Nama Belougi menjadi kontroversi setelah disebut sebagai dalang insiden pengibaran bendera di Filipina di Pulau Miangas pada 2005. [3]

J. Mario Belougi
J. Mario Belougi, em Bolaang Mongondow, Sulawesi do Norte, 2020.jpg
Lahir5 Mei 1975
Manado, Indonesia
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PekerjaanAktivis
Partai politikIndependen

BiografiSunting

J. Mario Belougi lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 5 Mei 1975. Pada tahun 1980, Belougi bersama keluarganya pindah ke Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Di sini awal mula Ia mengenal kehidupan jalanan dan berafiliasi dengan komunitas akar rumput. Ia mengawali karirnya dalam dunia aktivisme pada usia 15 tahun, dengan menjadi aktivis jalanan di Kota Makassar. Kehidupan jalanan yang keras kemudian membawa Belougi ke dunia pergerakan dan menjadi demonstran di Indonesia pada era 90-an. Dia menjadi buronan pihak berwajib pada tahun 1994 atas perannya membangun gerakan pro-demokrasi melawan sikap otoriter dan dogmatisme pemerintah yang mengurung kebebasan dan merampas hak-hak dasar rakyat dalam demokrasi dan politik. [2] [4]

Pada era pemerintahan Presiden B. J. Habibie, Belougi berpartisipasi dalam urusan sosial dan kemanusiaan setelah timbulnya gejolak politik antara rakyat pro-kemerdekaan dan pro-integrasi Timor Timur. Dia pernah dikabarkan menjadi korban Pembantaian Gereja Katolik Liquiçá pada April 1999, dan menjadi penggerak aksi penolakan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSC), 11 Juni 1999, tentang Misi PBB untuk melaksanakan jajak pendapat di Timor Timur (UNAMET). Ia bersama sejumlah rekannya diamankan oleh Pasukan Perdamaian Internasional (INTERFET) atas tindakan provokatif yang dilakukan terhadap awak media Australia di Kamp Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di perbatasan Timor-Barat. [1] [2] [4]

Pasca pemungutan suara pada 30 Agustus 1999, Belougi menggelar aksi damai untuk Timor Timur di Palu, Sulawesi Tengah, dalam orasinya Belougi meminta semua pihak menghormati hak-hak demokrasi dan politik rakyat Timor Timur yang memilih untuk merdeka, dan tidak menyalahkan Presiden B. J. Habibie atas lepasnya Timor Timur dari NKRI. Solidaritas Belougi terhada rakyat Timor ditanggapi beragam. Mantan Gubernur Timor Timur, Mario Viegas Carrascalao turut mengapresiasi Belougi sebagai aktivis pro-demokrasi dan pemimpin pergerakan tanpa kekerasan, sementara tokoh pro-integrasi, José Abilio Osorio Soares menyebut tindakan Belougi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap demokrasi dan kedaulatan negara. [1] [2]

Aktivitas Belougi kemudian menjadi kontroversi setelah ia diduga sebagai dalang "Insiden Pengibaran Bendera Filipina di Pulau Miangas" tahun 2005, sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang mengabaikan kedaulatan lingkungan, hak-hak demokrasi dan Poltik yang berdampak pada kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi rakyat di pula-pulau terluar. Kejadian ini mengundang perhatian publik Internasional dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Indonesia dengan membangun fasilitas umum seperti pelabuhan dan bandar udara, serta memberi legalitas kewarganegaraan (WNI) kepada warga yang tinggal di pulau-pulau terluar untuk ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi dan pembangunan nasional. [1] [5]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d Orm, Ampere. "Menelusuri Jejak Belougi Pejuang Tak Dikenal dari Tapal Batas". Kabarpemuda.com (Indonesia). Diakses tanggal 30-8-2020. 
  2. ^ a b c d Aglionby, John. "Soldiers Blamed for Massacre in East Timor". The Guardian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27-01-2018. 
  3. ^ Research and Policy Center. "Highlighting the Case of the Philippine Flag Raising on Miangas Island". Politicbrin.go.id. Diakses tanggal 18-10-2018. 
  4. ^ a b "Profil J. Mario Belougi". Diarsipkan dari versi asli tanggal 30-8-2020 (Sumber: KNPI Toraja Utara). 
  5. ^ "Sejarah Wilayah Perbatasan Miangas-Filipina, 1928-2010" (PDF). kemendikbud.go.id. Diakses tanggal 14-11-2021. 

Pranala luarSunting