Kadipaten Sumenep: Perbedaan revisi

10 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
 
[[Berkas:Labhang Mesem.jpg|thumb|290px|''Labhang Mesem'' (pintu tersenyum), sebuah bangunan di Kompleks [[Keraton Sumenep]]. Arsitekturnya dipengaruhi oleh [[Yunani Kuno|Arsitektur Yunani]].]]
Wilayah Sumenep mulai dibawah pengaruh Kerajaan Majapahit semenjak awal pendirian pembangunnya, dengan rajanya [[Raden Wijaya]] yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana. Selain itu [[Arya Wiraraja]] yang semula menjadi Adipati Sumenep dibawah Kerajaan Singhasari diangkat sebagai adipati di wilayah timur Majapahit meliputi [[Blambangan]] dan [[Lumajang|Lamajhang]], sesuai janji [[Raden Wijaya|Prabu Kertarajasa Jayawardhana]] ketika meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dalam membabat tanah Jawa. Sebagai ganti kedudukannya di Sumenep, ditunjuklah adik dari Arya Wiraraja yang bernama Arya Bangah sebagai adipati selanjutnya di wilayah Kadipaten Sumenep dengan gelarnya Arya Wiraraja II. Pada masa pemerintahannya, wilayah Kadipaten Sumenep yang notabene sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Majapahit diberi keistimewaan dari dibebaskannya upeti sampai dengan pemerintahan [[Hayam Wuruk|Prabu Rajasanegara]] berkuasa atas Majapahit. Selanjutnya ketika Kerajaan Majapahit diperitah oleh [[Wikramawardhana|Prabu Wikramawardhana]], wilayah ini kembali diwajibkan menyetor upeti kepada Kerajaan Majapahit. Pada masa pengaruh Lerajaan Majapahit, wilayah Kadipaten Sumenep meliputi seluruh Pulau Madura den pulau-pulau yang ada di sekitarnya, seperti Pulau Sapudi, Kangean dan Masalembo.
 
==Pengaruh Kesultanan Demak terhadap pemerintahan Kadipaten Sumenep ==
1.518

suntingan