Kadipaten Sumenep: Perbedaan revisi

28 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Kadipaten Sumenep''' (Atau sering dikenal sebagai ''Kadipaten Madura Timur'' atau ''Madura Wetan''), adalah sebuah monarki yang pernah menguasai bagian timur [[Pulau Madura]] dan kepulauan-kepulauan di lepas pantai [[Selat Madura]] dan [[Laut Bali]]. Pusat pemerintahannya berada di [[Kota Sumenep]] sekarang.
 
Pada tahun [[1269]], dimasa pemerintahan Arya Wiraraja wilayah ini berada dibawah pengawasan langsung [[Kerajaan Singhasari]] dan [[Kerajaan Majapahit]]. Pada tahun [[1559]], dimasa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Ario Kanduruwan, wilayah yang terletak di Madura Timur ini berada pada kekuasaan penuh Kesultanan Demak dan baru pada pemerintahan Pangeran Lor II yang berkuasa pada tahun [[1574]], wilayah Kadipaten Sumenep berada dibawah pengawasan langsung [[Kesultanan Mataram]].
 
Pada tahun [[1705]], akibat perjanjian Pangeran Puger dengan [[VOC]], wilayah ini berada dalam kekuasaan penuh Pemerintahan Kolonial. Selama Sumenep jatuh kedalam wilayah pemerintahan [[Hindia Belanda]], wilayah ini tidak pernah diperintah secara langsung, para penguasa Sumenep diberi kebebasan dalam memerintah wilayahnya namun tetap dalam ikatan-ikatan kontrak yang telah ditetapkan oleh Kolonial Kala itu. Selanjutnya pada tahun [[1883]], Pemerintah Hindia Belanda mulai menghapus sistem sebelumnya (keswaprajaan), Kerajaan-kerajaan di Madura termasuk di Sumenep dikelola langsung oleh ''Nederland Indische Regening'' dengan diangkatnya seorang Bupati. Semenjak itulah, sistem pemerintahan ''Ke-adipatian'' di Sumenep berakhir.
 
Peninggalan Kadipaten Sumenep yang terkenal dan masih dapat disaksikan sampai saat ini antara lain [[Keraton Sumenep]], [[Masjid Jamik Sumenep]] dan [[Asta Tinggi Sumenep|Asta Tinggi]] yang berada di pusat [[Kota Sumenep]].
 
Seperti halnya keraton-keraton di [[Jawa]], budaya halus dan tata krama yang sopan serta bahasa sehari-hari yang santun juga menjadi identitas budaya, baik di seputar lingkungan [[Keraton Sumenep]] maupun di lingkungan masyarakat Sumenep pada umumnya. Walaupun Keraton Sumenep saat ini sudah tidak berfungsi lagi sebagai istana resmi Adipati Sumenep ataupun pusat pengembangan budaya [[Suku Madura|Madura]], tetapi kebiasaan peninggalan masa kejayaan Kadipaten Sumenep masih sangat terasa, tak heran jika banyak orang menjuluki Sumenep sebagai ''Solo of Madura''.
 
== Mata Pencaharian Penduduk ==
1.518

suntingan