Buka menu utama

Perubahan

Sejauh ini belum banyak referensi yang bersifat ilmiah dan secara proporsional menjelaskan tentang riwayat Kerajaan Nan Sarunai mengingat usia kerajaan ini yang sudah sangat tua. Sumber-sumber yang digunakan selama ini adalah cerita tutur yang termaktub dalam Hikayat [[Banjar]]. Sejarah Indonesia pada umumnya dalam menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertumpu pada historiografi tradisional, seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (Sartono Kartodirdjo, 1993:7). Informasi yang diperoleh dari Hikayat [[Banjar]] ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya. <ref name=" Ideham "/> Hikayat [[Banjar]] ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman. <ref name=" Ideham "/> Namun, sebagian besar isi dari hikayat ini lebih banyak menceritakan tentang kerajaan-kerajaan setelah era Kerajaan Nan Sarunai, yakni [[Kerajaan Negara Dipa]], [[Kerajaan Daha]], dan [[Kesultanan [[Banjar]]. <ref name=" Ideham "/> Riwayat Nan Sarunai sangat sedikit disinggung, terutama menjelang keruntuhannya. <ref name=" Ideham "/> Kisah tentang Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat [[Banjar]] lebih menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian Suku [[Dayak Maanyan]] ([[wadian]]) yang kemudian ditransformasikan secara turun temurun. <ref name=" Arifin Anis "/> Tradisi lisan orang [[Dayak Maanyan]] mengisahkan bahwa mereka sudah memiliki negara suku bernama Nan Sarunai. <ref name=" Arifin Anis "> MZ Arifin Anis, 1994, “Struktur birokrasi dan sirkulasi elite di Kerajaan Banjar pada abad XIX”, tesis Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta </ref> Nyanyian wadian menceritakan peristiwa tragis tentang runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai akibat serangan dari Kerajaan [[Majapahit]] pada sekitar abad ke-13. <ref name=" Ideham "/>
 
Menurut Johannes Jacobus Ras (1968), Hikayat [[Banjar]] terbagi menjadi dua versi., Versiversi pertama merupakan versi yang telah diubah dan disusun pada masa [[Kesultanan Banjar]] yang secara definitif telah memeluk agama Islam, sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa yang memeluk agama Hindu (Ras, 1968:238). Dari analisis Ras ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat [[Banjar]] memang hanya mendapat porsi yang sedikit karena, Negara Dipa, yang banyak dibahas dalam Hikayat [[Banjar]] versi kedua, baru muncul setelah era Kerajaan Nan Sarunai berakhir.<ref name="Sutopo Ukip"/>
 
Kerajaan Nan Sarunai adalah suatu pemerintahan purba yang diperkirakan sudah eksis sejak zaman Sebelum Masehi. Salah satu bukti adalah ditemukannya peninggalan arkeologis yang diduga kuat berasal dari zaman di mana Kerajaan Nan Sarunai masih eksis. Jejak arkeologis Nan Sarunai di masa purba itu adalah sebuah candi yang ditemukan di [[Amuntai]]. [[Amuntai]] adalah salah satu tempat yang sangat mungkin menjadi tempat bermukim orang-orang Suku [[Dayak Maanyan]] yang kemudian mendirikan peradaban Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1996, dilakukan pengujian terhadap candi tersebut. Hasil penyelidikan itu cukup mengejutkan karena hasil pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di [[Amuntai]] tersebut menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (Kusmartono & Widianto, 1998:19-20). Jika penelitian ini benar adanya, maka usia Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur (berdiri pada abad ke-5 M) yang selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara.<ref name="Sutopo Ukip"/>
 
Berdasarkan hasil penelitian tentang pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di [[Amuntai]] menghasilkan angka kisaran tahun [[242]]-[[226]] SM, maka dapat disimpulkan bahwa usia Kerajaan Nan Sarunai sangat panjang karena kerajaan ini runtuh pada tahun 1362 M.<ref name="Sutopo Ukip"/> Akan tetapi, perlu dicerrnati lagi bahwa kendati Kerajaan Nan Sarunai diperkirakan sudah ada sejak zaman Sebelum Masehi, namun yang dimaksud dengan kerajaan pada masa itu kemungkinan besar masih berbentuk sangat sederhana.<ref name="Sutopo Ukip"/> Pusat pemerintahan Kerajaan Nan Serunai diduga beberapa kali perpindahan di sekitar [[Kabupaten Hulu]] Sungai dan [[Kabupaten Tabalong]] saat ini, namun masih di seputaran Sungai Tabalong.<ref name="Sutopo Ukip"/> Selain di Pulau Hujung Tanah, leluhur etnis Maanyan konon pemah bermukim di tempat yang bemama Margoni, yakni sebuah tempat yang selalu diliputi awan.<ref name="Sutopo Ukip"/> Tempat yang dimaksud mungkin simbolisasi dari negeri khayangan atau setidak-tidaknya negeri di atas gunung).<ref name="Sutopo Ukip"/> Dengan arti kiasan itu juga bisa dilihat kemungkinan bahwa yang dimaksud nenek moyang Suku [[Dayak Maanyan]] adalah dewa-dewa yang bersemayam di tempat yang selalu diliputi awan alias khayangan.<ref name="Sutopo Ukip"/>
 
Orang-orang [[Suku Dayak]] Manyaan sempat menetap di sebuah tempat yang bernama Pupur Purumatung. <ref name=" Babe Kuden "> Babe Kuden, "Pangeran Samudra dari [[Dayak Maanyan]]?", dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005</ref> Semua anggota kelompok etnis Suku Maanyan tinggal dan menjadi satu di tempat ini. <ref name=" Babe Kuden "/> Pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pemah berlokasi di daerah yang bernama Lili Kumeah. <ref name=" Babe Kuden "/> Konon, Lili Kumeah didirikan oleh Datu Sialing dan Damung Gamiluk Langit yang memimpin anggota masyarakat etnis Maanyan atau warga Kerajaan Nan Sarunai. <ref name=" Babe Kuden "/>
 
Kerajaan Nan Sarunai adalah suatu pemerintahan purba yang diperkirakan sudah eksis sejak zaman Sebelum Masehi. Salah satu bukti adalah ditemukannya peninggalan arkeologis yang diduga kuat berasal dari zaman di mana Kerajaan Nan Sarunai masih eksis. Jejak arkeologis Nan Sarunai di masa purba itu adalah sebuah candi yang ditemukan di [[Amuntai]]. [[Amuntai]] adalah salah satu tempat yang sangat mungkin menjadi tempat bermukim orang-orang Suku [[Dayak Maanyan]] yang kemudian mendirikan peradaban Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1996, dilakukan pengujian terhadap candi tersebut. Hasil penyelidikan itu cukup mengejutkan karena hasil pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di [[Amuntai]] tersebut menghasilkan kisaran angka tahun antara [[242]] hingga [[226]] Sebelum Masehi (Kusmartono & Widianto, 1998:19-20). Jika penelitian ini benar adanya, maka usia Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dibandingkan dengan [[Kerajaan Kutai Martadipura]] di [[Kalimantan Timur]] (berdiri pada abad ke-5 M) yang selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara.<ref name="Sutopo Ukip"/> Berdasarkan hasil penelitian tentang pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di [[Amuntai]] menghasilkan angka kisaran tahun 242-226 SM, maka dapat disimpulkan bahwa usia Kerajaan Nan Sarunai sangat panjang karena kerajaan ini runtuh pada tahun 1362 M.<ref name="Sutopo Ukip"/> Akan tetapi, perlu dicerrnati lagi bahwa kendati Kerajaan Nan Sarunai diperkirakan sudah ada sejak zaman Sebelum Masehi, namun yang dimaksud dengan kerajaan pada masa itu kemungkinan besar masih berbentuk sangat sederhana.<ref name="Sutopo Ukip"/> Pusat pemerintahan Kerajaan Nan Serunai diduga beberapa kali perpindahan di sekitar [[Kabupaten Hulu Sungai]] dan [[Kabupaten Tabalong]] saat ini, namun masih di seputaran Sungai Tabalong.<ref name="Sutopo Ukip"/> Selain di Pulau Hujung Tanah, leluhur etnis Maanyan konon pemah bermukim di tempat yang bemama Margoni, yakni sebuah tempat yang selalu diliputi awan.<ref name="Sutopo Ukip"/> Tempat yang dimaksud mungkin simbolisasi dari negeri khayangan atau setidak-tidaknya negeri di atas gunung.<ref name="Sutopo Ukip"/> Dengan arti kiasan itu juga bisa dilihat kemungkinan bahwa yang dimaksud nenek moyang Suku [[Dayak Maanyan]] adalah dewa-dewa yang bersemayam di tempat yang selalu diliputi awan alias khayangan<ref name="Sutopo Ukip"/>
 
== Silsilah Raja-raja ==
553

suntingan