Buka menu utama

Perubahan

17 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
Insiden di tahap kedua dimulai pada tahun 1989 setelah kembalinya peserta pelatihan GAM dari Libya.<ref name=Aspinall_Islam_110>{{cite book|last=Aspinall|title=Islam and Nation|pages=110}}</ref> Operasi yang dilakukan GAM antara lain operasi merampok senjata, serangan terhadap polisi dan pos militer, pembakaran dan pembunuhan yang ditargetkan kepada polisi dan personel militer, informan pemerintah dan tokoh-tokoh yang pro-Republik Indonesia.
 
Meskipun gagal mendapatkan dukungan yang luas, tindakan kelompok GAM yang lebih agresif ini membuat pemerintah Indonesia untuk memberlakukan tindakan represif. Periode antara tahun 1989 dan 1998 kemudian menjadi dikenal sebagai era [[Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998|''Daerah Operasi Militer'' (DOM) Aceh]] ketika militer Indonesia meningkatkan operasi kontra-pemberontakan di Aceh.<ref name=Schulz_p4>{{cite book|last=Schulz|title=Op cit|page=4}}</ref> Langkah ini, meskipun secara taktik berhasil menghancurkan kekuatan gerilya GAM, telah mengakibatkan korban di kalangan penduduk sipil lokal di Aceh. Karena merasa terasing dari Republik Indonesia setelah operasi militer tersebut, penduduk sipil Aceh kemudian memberi dukungan dan membantu GAM membangun kembali organisasinya ketika militer Indonesia hampir seluruhnya ditarik dari Aceh atas perintah presiden [[Habibie]] pada akhir era 1998 setelah [[kejatuhan Soeharto]].<ref>Leonard Sebastian, "Realpolitik: Indonesia's Use of Military Force", 2006, Institute of Southeast Asian Studies</ref> Komandan penting GAM telah entah dibunuh (komandan GAM Pasè [[Yusuf Ali (tokoh GAM)|Yusuf Ali]] dan panglima senior GAM [[Keuchik Umar]]), ditangkap ([[Ligadinsyah Ibrahim]]) atau lari (Robert, Arjuna dan Daud[[Ahmad Kandang]]).<ref>{{cite book|last=Aspinall|title=Islam and Nation|page=113}}</ref>
 
=== Tahap ketiga ===
1.502

suntingan