Arkeologi: Perbedaan revisi

21 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
k
Di Indonesia, perkembangan arkeologi dimulai dari lembaga-lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan, seperti [[Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen]] yang kemudian di [[Jakarta]] mendirikan [[museum]] tertua, sekarang menjadi [[Museum Nasional Indonesia]]. Lembaga pemerintah pada [[masa Kolonial]] yang bergerak di bidang arkeologi adalah [[Oudheidkundige Dienst]] yang banyak membuat survei dan pemugaran atas bangunan-bangunan purbakala terutama [[candi]]. Pada [[masa Kemerdekaan]], lembaga tersebut menjadi [[Dinas Purbakala]] hingga berkembang sekarang menjadi berbagai lembaga seperti [[Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala]] dan [[Balai Arkeologi]] yang tersebar di daerah-daerah dan [[Direktorat Purbakala]] serta [[Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional]] di Jakarta. Di samping itu, terdapat beberapa perguruan tinggi yang membuka jurusan arkeologi untuk mendidik tenaga [[sarjana]] di bidang arkeologi. Perguruan-perguruan tinggi tersebut adalah [[Universitas Indonesia]] (Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya), [[Universitas Gadjah Mada]] ([[Jurusan Arkeologi, UGM|Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya]]), [[Universitas Hasanuddin]] (Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra), dan [[Universitas Udayana]] (Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra dan Budaya).
 
Ahli arkeologi Indonesia, yang umumnya merupakan lulusan dari keempat perguruan tinggi tersebut, berhimpun dalam [[Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia]] atau IAAI. Tokoh-tokoh arkeologi Indonesia yang terkenal antara lain adalah [[Soekmono|R. Soekmono]] yang mengepalai pemugaran [[Candi Borobudur]], dan [[Raden Pandji Soejono|R.P. Soejono]], yang merupakan pendiri dan ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia pertama dan mantan kepala [[Pusat Penelitian Arkeologi Nasional]].
 
Disiplin Arkeologi Indonesia masih secara kuat diwarnai dengan pembagian kronologis, yaitu periode [[Prasejarah]], periode [[Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Hindu-Buddha|Klasik]] (zaman Hindu-Buddha), periode [[Islam]], serta periode [[Kolonial]]. Oleh karena itu, dalam arkeologi Indonesia dikenal spesialisasi menurut periode, yaitu [[Arkeologi Prasejarah]], [[Arkeologi Klasik]], [[Arkeologi Islam]], serta [[Arkeologi Kolonial]]. Satu keistimewaan dari arkeologi Indonesia adalah masuknya disiplin [[Epigrafi]], yang menekuni pembacaan [[prasasti]] kuna. Pada perkembangan sekarang telah berkembang minat-minat khusus seperti [[etnoarkeologi]], [[arkeologi bawah air]], dan [[arkeometri]]. Terdapat pula sub-disiplin yang berkembang karena persinggungan dengan ilmu lain, seperti [[Arkeologi Lingkungan]] atau [[Arkeologi Ekologi]], [[Arkeologi Ekonomi]], [[Arkeologi Seni]], [[Arkeologi Demografi]], dan [[Arkeologi Arsitektur]].<!-- Mulai terjemahkan di sini:
507

suntingan