Buka menu utama

Perubahan

562 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
k
clean up, replaced: Rujukan → Referensi
}}
:''"Aren" dialihkan ke halaman ini. Untuk komune di Perancis, silakan lihat [[Aren, Perancis]] dan untuk kotamadya di Spanyol, silakan lihat [[Arén]]''
'''Enau''' atau '''aren''' (''Arenga pinnata'', [[familia|suku]] [[Arecaceae]]) adalah palma yang terpenting setelah [[kelapa]] (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti ''nau'', ''hanau'', ''peluluk'', ''biluluk'', ''kabung'', ''juk'' atau ''ijuk'' (aneka nama lokal di [[Sumatra]] dan [[Semenanjung Malaya]]); ''kawung'', ''taren'' ([[bahasa Sunda|Sd.]]); ''akol'', ''akel'', ''akere'', ''inru'', ''indu'' (bahasa-bahasa di [[Sulawesi]]); ''moka'', ''moke'', ''tuwa'', ''tuwak'' (di [[Nusa Tenggara]]), dan lain-lain. <ref name=heyne_447-455>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.</ref>
 
Bangsa [[Belanda]] mengenalnya sebagai ''arenpalm'' atau ''zuikerpalm'' dan bangsa [[Jerman]] menyebutnya ''zuckerpalme''. Dalam [[bahasa Inggris]] disebut ''sugar palm'' atau ''Gomuti palm''.
 
== Pemerian ==
[[Berkas:Aren_pinnaAren pinna 070612 042 stgd.jpg|thumb|left|200px|Pohon enau {{br}}[[Situgede, Bogor Barat, Bogor|Situgede]], [[Bogor]], [[Jawa Barat]]]]
Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 [[meter|m]]. Berdiameter hingga 65 [[sentimeter|cm]], batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ''ijuk'', ''injuk'', ''juk'' atau ''duk''. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari [[pelepah daun]] yang menyelubungi batang.
 
[[Daun]]nya majemuk menyirip, seperti daun [[kelapa]], panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 &nbsp;cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan [[lilin]] di sisi bawahnya.
 
Berumah satu, [[bunga]]-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan [[diameter]] sekitar 4 &nbsp;cm, beruang tiga dan berbiji tiga, <ref name=steenis1981_139>[[Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis|Steenis, CGGJ van]]. 1981. ''Flora, untuk sekolah di Indonesia''. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 139.</ref> tersusun dalam untaian seperti rantai.
Setiap [[tandan]] mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna [[hijau]] sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.
 
[[Gula aren]] diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan [[serbuk sari]] yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang [[bambu]] untuk menampung cairan yang menetes.
 
Cairan manis yang diperoleh dinamai [[nira]] (alias ''legen'' atau ''saguer''), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.
 
Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah [[nangka]] dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula ''gandu''). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak [[kelapa]], agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai [[gula semut]].
Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi [[cuka]]. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.
 
Nira mentah (segar) bersifat pencahar (''laksativa''), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan [[roti]].<ref name="heyne_447-455>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.<"/ref>
 
=== Kolang-kaling ===
[[Berkas: Aren pinna 080813 1988 K srna.jpg|thumb|left|200px|Buah aren dan kolang-kaling]]
Buah aren (dinamai ''beluluk'', ''caruluk'' dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (''[[endosperma]]'') yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air [[kapur]] beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.<ref name="heyne_447-455>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.<"/ref>. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai ''buah atep'' (''buah atap'') atau ''[[kolang-kaling]]''.
 
[[Kolang-kaling]] disukai sebagai campuran es, [[manisan]] atau dimasak sebagai [[kolak]]. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan [[Ramadhan]].
Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai [[papan]], [[kasau]] atau dibuat menjadi tongkat. [[Empulur]] atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan [[sagu]], meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air.
 
Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau [[cambuk]].<ref name="heyne_447-455>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.<"/ref>
 
== Ekologi dan penyebaran ==
Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal usul dari wilayah [[Asia]] tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari [[India]] timur di sebelah barat, hingga sejauh [[Malaysia]], [[Indonesia]], dan [[Filipina]] di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m [[dpl.]]. <ref name="steenis1981_139>[[Cornelis Gijsbert Gerrit Jan van Steenis|Steenis, CGGJ van]]. 1981. ''Flora, untuk sekolah di Indonesia''. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 139.<"/ref> Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing [[sungai]].
 
Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai [[hewan]]. [[Musang luwak]] diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di [[Bangka]], pada masa lalu orang-orang [[Tionghoa]] memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan [[babi hutan]] yang berpesta buah enau yang berjatuhan. <ref name="heyne_447-455>Heyne, K. 1987. ''Tumbuhan Berguna Indonesia'', jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 447-455.<"/ref>
 
=== Perbanyakan ===
:Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.
 
== RujukanReferensi ==
{{reflist}}
* Phang Wien Ho et al. ''A Guide to the Botanic Gardens Jungle''. Pusat Sains Singapura (1983). ISBN 9971-88-010-5.
65.219

suntingan