Madihin: Perbedaan revisi

14 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
penggantian teks otomatis dengan menggunakan mesin AutoWikiBrowser, replaced: beliau → dia
k
k (penggantian teks otomatis dengan menggunakan mesin AutoWikiBrowser, replaced: beliau → dia)
'''Madihin''' (berasal dari kata [[madah]] dalam [[bahasa Arab]] yang berarti "nasihat", tapi bisa juga berarti "pujian") adalah sebuah genre puisi dari [[suku Banjar]]. [[Puisi rakyat anonim]] bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis [[Banjar]] di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar.
 
[[Tajuddin Noor Ganie]] (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah [[folklor Banjar]] di Kalsel.
Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar [[Bakarasmin)]] yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar).
 
Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut [[Pamadihinan]]. Pamadihinan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok.
 
Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni : (1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh [[gendang Madihin)]], dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik.
 
Tradisi [[Bamadihinan]] masih tetap lestari hingga sekarang ini. Selain dipertunjukkan secara langsung di hadapan publik, Madihin juga disiarkan melalui stasiun radio swasta yang ada di berbagai kota besar di Kalsel. Hampir semua stasiun radio swasta menyiarkan Madihin satu kali dalam seminggu, bahkan ada yang setiap hari. Situasinya menjadi semakin bertambah semarak saja karena dalam satu tahun diselenggarakan beberapa kali lomba Madihin di tingkat kota, kabupaten, dan provinsi dengan hadiah uang bernilai jutaan rupiah.
==== Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel ====
 
Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air kita. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra. Saking terkesannya, beliaudia ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus) kepada Jon Tralala.
Selain [[Jhon Tralala]] dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim Pamadihinan terkenal, antara lain : [[Mat Nyarang]] dan [[Masnah]] pasangan Pamadihinan yang paling senior di kota Martapura), [[Rasyidi]] dan [[Rohana]](Tanjung), [[Imberan]] dan [[Timah]] (Amuntai), [[Nafiah]] dan [[Mastura]] Kandangan), [[Khair]] dan [[Nurmah]] (Kandangan), [[Utuh Syahiban]] Banjarmasin), [[Syahrani]] (Banjarmasin), dan [[Sudirman]](Banjarbaru).
Madihin mewakili [[Kalimantan Timur]] pada Festival Budaya Melayu.
 
Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun sekali, jika tidak, tuah magisnya akan hilang tak berbekas. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah [[ritus adat]] yang disebut [[Aruh Madihin]]. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Menurut Saleh dkk (1978:131), Datu Madihin diundang dengan cara membakar dupa dan memberinya [[sajen]] berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan [[minyak likat baboreh]]. Jika Datu Madihin berkenan memenuhi undangan, maka Pamadihinan yang mengundangnya akan kesurupan selama beberapa saat. Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan menuturkan syair-syair Madihin yang diajarkan secara gaib oleh Datu Madihin yang menyurupinya ketika itu. Sebaliknya, jika Pamadihinan yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang dibakarnya habis semua, maka hal itu merupakan pertanda mandatnya sebagai Pamadihinan telah dicabut oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur secara sukarela dari panggung pertunjukan Madihin
 
 
 
== Rujukan ==
# [[Tajuddin Noor Ganie]], 2006. [[Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar Berbentuk Madihin dalam buku Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel]], Penerbit [[Rumah Pustaka Folklor Banjar]], Jalan Mayjen Soetoyo S, Gang Sepakat RT 13 Nomor 30, Banjarmasin, 70119).
# [[Tajuddin Noor Ganie]], [[Madihin]], Ikon Kecerdasan Linguistik Etnis [[Banjar]] di [[Kalimantan Selatan]]
# [http://www.banjaristi.web.id/2012/01/pagelaran-dan-struktur-madihin.html Pargelaran dan Struktur Madihin]
 
 
==Pranala luar==
* [http://www.youtube.com/watch?v=Wld1k-r-hjo Madihin bubuhan Indragiri Hilir]
* [http://www.youtube.com/watch?v=tLTjM8PsI38 Madihin oleh John Taralal]
 
 
[[Kategori:Seni di Indonesia]]
2.559.000

suntingan