Jembul Tulakan: Perbedaan antara revisi

24 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
k
penggantian teks otomatis dengan menggunakan mesin AutoWikiBrowser, replaced: beliau → dia (2)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Namun demikian +Namun))
k (penggantian teks otomatis dengan menggunakan mesin AutoWikiBrowser, replaced: beliau → dia (2))
'''Jembul Tulakan'''<ref>http://www.ticjepara.com/2008/11/jembul-tulakan.html</ref> adalah tradisi budaya di Desa [[Tulakan, Donorojo, Jepara| Tulakan]] Kecamatan [[Donorojo, Jepara| Donorojo]] Kabupaten [[Jepara]]
 
'''Jembul Tulakan'''<ref>http://www.ticjepara.com/2008/11/jembul-tulakan.html</ref> adalah tradisi budaya di Desa [[Tulakan, Donorojo, Jepara| Tulakan]] Kecamatan [[Donorojo, Jepara| Donorojo]] Kabupaten [[Jepara]]
 
 
== Tujuan Penyelenggaraan ==
 
== Peralatan dan Simbol-simbol ==
Dalam pelaksanaan Sedekah Bumi Tulakan atau dikenal juga dengan Upacara Jembul Tulakan ini, disuguhkan dua macam Jembul.
 
Jembul yang besar di depan atau sering disebut '''Jembul Lanang''', sedangkan jembul kecil berada di belakang disebut dengan '''Jembul Wadon'''. Khusus Jembul Lanang dihiasi dengan iratan bambu tipis sedangkan Jembul Wadon tidak. ''Jembul Lanang'' di dalamnya terdapat bermacam-macam makanan kecil, seperti jadah (gemblong), tape ketan, apem, dan sebagainya. Sedangkan ''Jembul Wadon'' berisi lauk-pauknya.
Upacara Jembul Tulakan ini dimulai dengan mencuci kaki petinggi atau sekaaran dikenal dengan kepala desa dengan kembang setaman. Aktivitas ini dilakukan oleh perangkat desa, sebagai perlambang kepada Ratu Kalinyamat. Pada masa sekarang masyarakat lebih memaknai sebagai bentuk permohonan agar tercipta kehidupan yang tenteram, bersih dari malapetaka dan segala kesulitan yang menimpa penduduk. Di samping itu sekaligus untuk mengingatkan kepada petinggi agar selalu bersih dalam segala tindakan dan langkahnya, tidak melanggar larangan-larangan agama, larangan pemerintah, serta menerapkan asas kejujuran dan keadilan dalam memimpin masyarakat desa Tulakan.
Setelah pencucian kaki petinggi, maka dilakukan selamatan sebagai lambang permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Desa Tulakan tetap selamat sentosa dan hasil bumi pada tahun mendatang melimpah ruah sehingga kehidupan penduduk Tulakan menjadi sejahtera, cukup sandang, pangan dan papan.
Acara mengitari Jembul sebanyak tiga kali merupakan inti dari proses Jembul Tulakan. Kegiatan mengitari Jembul dilakukan oleh petinggi diikuti oleh ledek atau penari tayub dan para perangkat desa. Prosesi ini dilakukan untuk menggambarkan kembali suasana pada waktu Ratu Kalinyamat melakukan pemeriksaan terhadap para nayoko projo yang datang menghadap beliaudia sekaligus untuk menyerahkan hulu bekti yang dibawanya. Kesetiaan para nayoko projo ini ditunjukkan sewaktu ratu melakukan pertapaannya. Suasana ini pada masa sekarang lebih diartikan sebagai pengingat-ingat agar para pemimpin desa Tulakan selalu menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada staf perangkat desanya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dengan pemantauan tersebut akan tercipta keadaan desa yang aman sentosa.
Di samping memantau para pembantunya, pemimpin desa juga perlu memerhatihan rakyat yang dipimpinnya, dengan turun langsung mengenal masyarakat secara dekat dari pedudukuhan–pedukuhan yang ada, sehingga terciptalah kondisi desa yang tertib.
Pemimpin benar-benar dapat bertindak mengayomi dan ''nganyemi'' dalam arti melindungi dan menciptakan ketenteraman desa yang dipimpinnya.
Syaratnya adalah sedekah bumi di Kademangan Tulakan harus tetap didatangi oleh masyarakat Dukuh Pejing. Waktu pelaksanaan sedekah bumi Pejing tidak boleh bersamaan dengan sedekah bumi Tulakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu dilaksanakannya sedekah bumi Tulakan, masyarakat Pejing masih bisa mendatangi. Adapun pembagian waktunya, sedekah bumi Tulakan dilakukan pada hari Senin Pahing maka sedekah bumi Pejing dilakukan seminggu kemudian yaitu Senin Wage.
Syarat utama lainnya adalah tidak adanya jembul dalam rangkaian upacara, adapun keramaian yang diperbolehkannya Tayub.
Berbagai persyaratan telah disetujui oleh Mbah Cabuk dan kembalilah beliaudia ke Pejing untuk melakukan sedekah bumi sendiri.
Tradisi Jembul Tulakan dilaksanakan setiap bulan Apit (Dzulqo'dah) tepatnya pada hari Senin sesudah upacara pada malam Jumat Wage di Desa Sonder, hal ini disesuaikan dengan cerita Ratu Kalinyamat di Desa Sonder pada waktu malam Jumat Wage.
Kemudian pada hari Senin Pahing para Nayoko Projo (para pembesar negeri) menghadap Ratu dengan membawa Hulu Bekti glondong pangareng-areng (penghormatan dengan membawa kebutuhan dan perlengkapan sang Ratu).
Perlambangan jembul-jembul yang jumlahnya empat dimaksudkan sebagai perwakilan dukuh-dukuh yang ada pada waktu itu dan menghadapnya para Nayoko Projo untuk mengantarkan hulu bekti. Prosesi upacara yang menggambarkan penyembahan jembul-jembul oleh tledek (penari Tayub wanita) mempunyai arti bahwa menurut cerita masa lalu pada waktu sang nayoko menghadap sang ratu mendapat penghormatan dari dayang-dayang atau pendamping. Tarian tayub sendiri sebagai bentuk penghormatan para nayoko yang diwujudkan dengan jembul-jembul.
 
 
 
 
 
 
 
 
==Catatan kaki==
{{reflist}}
 
[[Kategori: KabupatenTradisi Jepara]]
 
[[Kategori: Tradisi JeparaIndonesia]]
[[Kategori:Budaya Tradisi IndonesiaJepara]]
[[Kategori: Budaya JeparaIndonesia]]
[[Kategori:Kabupaten Budaya IndonesiaJepara]]
[[Kategori: Kabupaten Jepara]]
3.411.359

suntingan