Djajang Nurjaman: Perbedaan revisi

2.766 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
Membalikkan revisi 8256211 oleh 180.253.98.255 (bicara)
(Membalikkan revisi 8256211 oleh 180.253.98.255 (bicara))
}}
 
'''Djadjang Nurjaman''' ({{lahirmati|[[Bandung]], [[Jawa Barat]]|30|10|1964}}) adalah seorang pemain [[sepak bola]] legendaris [[Indonesia]] yang terkenal pada tahun [[1990-an]] dan merupakan salah satu bintang [[Persib Bandung]] pada era tersebut.
'''Djadjang kok jaman? tahes'''
 
Sebagai pemain, Djadjang mengantarkan PERSIB menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986, 1989-1990 dan 1993-1994.
 
Dalam perjalanan kariernya, Djadjang sempat memutuskan untuk meninggalkan PERSIB dan beralih menjadi pemain profesional yang tampil di Kompetisi Galatama. Tim yang dibelanya di Galatama adalah Sari Bumi Raya Bandung (1979-1980), Sari Bumi Raya Yogyakarta (1980-1982), Mercu Buana Medan (1982-1985).
 
Ketika Mercu Buana bubar pada pertengahan tahun 1985, Djadjang memutuskan pulang kampung dan langsung diterima pelatih Nandar Iskandar sebagai anggota skuad PERSIB yang tengah berjuang di Kompetisi Perserikatan 1986. Harapan Djadjang untuk mengobati lukanya pada tahun 1978 akhirnya kesampaian, ketika PERSIB akhirnya menjadi juara pada musim itu.
 
Bersama PERSIB tentu saja ia merasakan momen yang paling berkesan dan takkan pernah dilupakannya ketika menjuarai Kompetisi Perserikatan 1986. Dalam pertandingan final menghadapi Perseman Manokwari di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Djadjang merupakan pahlawan kemenangan lewat gol tunggal yang dicetaknya pada menit 77. Usai pertandingan, Djadjang dielu-elukan puluhan ribu bobotoh. "Itulah momen yang takkan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya," kata Djadjang.
 
Sebagai pelatih, Djadjang merasakan gelar juara ketika menjadi asisten pelatih Indra M. Thohir di Liga Indonesia (LI) I/1994-1995 dan masih dipercaya hingga tahun 1996. Setelah itu ia lebih memantapkan karier kepelatihan dengan menukangi PERSIB Junior (U-23). Pada tahun 2006 lagi-lagi ia mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Setelah itu ia mengembangkan karier kepelatihan di luar PERSIB, hingga pada tahun 2012, manajemen PERSIB mempercayakan dirinya untuk menukangi tim sebagai Pelatih Kepala dalam mengarungi Indonesia Super League tahun 2013.
 
Kembalinya ke PERSIB seolah mengulang romantisme juara dengan rekan-rekannya di Liga Indonesia I. Namun kali ini ia menjadi pelatih kepala, "abah" Indra Thohir sebagai Direktur Teknik, dan juga ia dibantu oleh trio mantan pemain yang mengantarkan PERSIB juara LI I, yaitu Anwar Sanusi, Asep Soemantri, dan Sutiono Lamso sebagai asisten pelatih. Hasilnya tidak mengecewakan, di ajang turnamen pra musim Celebes Cup yang digelar di kota Bandung, Djadjang mempersembahkan tropi juara setelah di final mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 1-0.
 
Musim selanjutnya (2014) Djadjang masih didaulat sebagai pelatih kepala, kali ini ia mengajak Herrie Setiawan, Asep Soemantri dan Anwar Sanusi sebagai asisten pelatih. 
== Referensi ==
http://www.persibhistory.com
7.067

suntingan