Menara Babel: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Achmad waisy (bicara | kontrib)
Menambahkan gambar.
Achmad waisy (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 5:
===Kitab Al Qur'an===
 
Kaum 'Aad adalah kaum yang hidup setelah zaman Nabi Nuh AS. Keberadaan pembangunan menara ini dapat diketahui melalui surah-surah yang tertera didalam [[Kitab Al Qur'an]]. Ada banyak surah yang menjelaskan tentang keadaan Kaum 'Aad saat itu. Ibukota kaum 'Aad adalah Iram. Terkenal dengan bangunan-bangunannya yang menjulang tinggi ke langit. Waktu itu tidak ada di kota lain seperti itu, hanya ada di Iram. Hal ini tertera didalam Surah Al Fajr (ayat 6-8) yang berbunyi
 
:''6. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?''
Baris 29:
===Kitab Injil===
 
Pembacaan Kisah Para Rasul dalam [[Kitab Injil]] 2:1-11 1 Korintus 12:3b-7, 12-13 Injil: Yohanes 20:19-23. Cerita “Menara Babel” mengisahkan tentang anak-anak manusia yang menjadi sombong, mereka mahu membangun sebuah menara yang boleh mencapai langit dan dapat mencapai Tuhan. Tuhan mengacau bahasa mereka, sehingga mereka tidak saling mengerti, sehingga berakhirlah riwayat pembangunan Menara Babel itu bersama kesombongan para pembangunnya. Cerita itu pada dasarnya mahu mengatakan bahawa kesombongan manusia selalu menimbulkan salah pengertian sesama manusia. Dan ketidak saling pengertian itu akan menimbulkan kekacauan, rusuhan dan bencana. Dan memang sejak peristiwa Menara Babel itu, kisahkisah tentang kesombongan manusia dan keruntuhannya selalu berulang. Oleh kerana kesombongannya manusia tidak saling mengerti, sehingga apa saja yang telah dibangun boleh runtuh berkecai. Terhadap kesombongan manusia yang memecah belah dan meruntuhkan, Tuhan rupanya tidak berdiam diri. Pada peristiwa Pentakosta, Tuhan mengutus Roh- Nya untuk mempersatukan kembali yang terpecah belah, tercerai berai dan membangun kembali yang telah runtuh dengan bahasa Pentakosta, bahasa saling pengertian, seperti kita dengar dalam pembacaan pertama minggu ini.
 
Pada peristiwa Pentakosta itu dikurniakan kembali kepada manusia bahasa saling pengertian, bahasa persatuan yang telah hilang sejak peristiwa Menara Babel itu. Ketika Petrus tampil dan berbicara dalam bahasa ibunya, semua orang yang datang dari pelbagai sudut dunia tiba-tiba boleh mengerti. Mereka hairan dan berkata: “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengarkan mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri…” Bahasa yang saling tidak dimengerti sejak peristiwa Menara Babel itu sudah berakhir, dan sejak peristiwa Pentakosta bahasa yang tidak dimengerti itu ditemukan kembali. [http://http://rahelhunter.wordpress.com/2012/11/01/sejarah-bahasa-manusiaperistiwa-kejatuhan-menara-babel-dan-bahasa-pentakosta/]