Menara Babel: Perbedaan revisi

65 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
Menambahkan gambar.
(Menambahkan gambar.)
[[File:Brueghel-tower-of-babel.jpg|thumb|Sketsa bangunan Menara Babel.]]
'''Menara Babel''' (Babylonia) adalah menara tertinggi di Bumi yang pernah dibangun di zaman Babylonia. Negara Babylonia ini berdiri setelah zaman Nabi Nuh AS pasca banjir bandang. Penduduk pada zaman itu dianugerahi dengan kekuatan-kekuatan fisik yang lebih dan keperawakan yang gagah dibanding dengan bangsa-bangsa lain. Menara inilah yang dikenal hingga saat ini sebagai simbol keangkuhan dan kesombongan manusia. Mitologi kuno menyebutkan bahwa dahulunya manusia hanya memiliki satu rumpun bahasa dan kemudian para manusia bepergian ke arah timur dan mendirikan sebuah menara yang sangat tinggi menjulang ke langit di sebuah tempat yang bernama Shinar. Ada banyak kisah yang menuturkan mengenai menara ini. Diantaranya bersumber dari '''Kitab Al Qur'an''' dan '''Kitab Injil'''.
 
==Sumber Kisah Bersumber dari==
===Kitab Al Qur'an===
 
Sedangkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada Kaum 'Aad melebihi kaum-kaum lainnya. Hal ini tertera pada Kitab Al Qur'an surah Al A'raf (ayat 69) berbunyi:
 
:''Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Al-A'raf:69)''
 
:''Adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS Al-Fushilat:1)''
===Kitab Injil===
 
Pembacaan Kisah Para Rasul 2:1-11 1 Korintus 12:3b-7, 12-13 Injil: Yohanes 20:19-23. Cerita “Menara Babel” mengisahkan tentang anak-anak manusia yang menjadi sombong, mereka mahu membangun sebuah menara yang boleh mencapai langit dan dapat mencapai Tuhan. Tuhan mengacau bahasa mereka, sehingga mereka tidak saling mengerti, sehingga berakhirlah riwayat pembangunan Menara Babel itu bersama kesombongan para pembangunnya. Cerita itu pada dasarnya mahu mengatakan bahawa kesombongan manusia selalu menimbulkan salah pengertian sesama manusia. Dan ketidak saling pengertian itu akan menimbulkan kekacauan, rusuhan dan bencana. Dan memang sejak peristiwa Menara Babel itu, kisahkisah tentang kesombongan manusia dan keruntuhannya selalu berulang. Oleh kerana kesombongannya manusia tidak saling mengerti, sehingga apa saja yang telah dibangun boleh runtuh berkecai. Terhadap kesombongan manusia yang memecah belah dan meruntuhkan, Tuhan rupanya tidak berdiam diri. Pada peristiwa Pentakosta, Tuhan mengutus Roh- Nya untuk mempersatukan kembali yang terpecah belah, tercerai berai dan membangun kembali yang telah runtuh dengan bahasa Pentakosta, bahasa saling pengertian, seperti kita dengar dalam pembacaan pertama minggu ini.
 
Dan ketidak saling pengertian itu akan menimbulkan kekacauan, rusuhan dan bencana. Dan memang sejak peristiwa Menara Babel itu, kisahkisah tentang kesombongan manusia dan keruntuhannya selalu berulang. Oleh kerana kesombongannya manusia tidak saling mengerti, sehingga apa saja yang telah dibangun boleh runtuh berkecai. Terhadap kesombongan manusia yang memecah belah dan meruntuhkan, Tuhan rupanya tidak berdiam diri. Pada peristiwa Pentakosta, Tuhan mengutus Roh- Nya untuk mempersatukan kembali yang terpecah belah, tercerai berai dan membangun kembali yang telah runtuh dengan bahasa Pentakosta, bahasa saling pengertian, seperti kita dengar dalam pembacaan pertama minggu ini.
 
Pada peristiwa Pentakosta itu dikurniakan kembali kepada manusia bahasa saling pengertian, bahasa persatuan yang telah hilang sejak peristiwa Menara Babel itu. Ketika Petrus tampil dan berbicara dalam bahasa ibunya, semua orang yang datang dari pelbagai sudut dunia tiba-tiba boleh mengerti. Mereka hairan dan berkata: “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengarkan mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri…” Bahasa yang saling tidak dimengerti sejak peristiwa Menara Babel itu sudah berakhir, dan sejak peristiwa Pentakosta bahasa yang tidak dimengerti itu ditemukan kembali. [http://http://rahelhunter.wordpress.com/2012/11/01/sejarah-bahasa-manusiaperistiwa-kejatuhan-menara-babel-dan-bahasa-pentakosta/]
65

suntingan