Sunda Wiwitan: Perbedaan revisi

13 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tag: BP2014
'''Sunda Wiwitan''' ([[Bahasa Sunda]]: "Sunda permulaan", "Sunda sejati", atau "Sunda asli") adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah [[leluhur]] ([[animisme]] dan [[dinamisme]]) yang dianut oleh masyarakat tradisional [[orang Sunda|Sunda]].<ref>Ekadjati, Edi S, "Kebudayaan Sunda, Suatu Pendekatan Sejarah", Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, halaman 72-73</ref> Akan tetapi ada sementara pihak yang berpendapat bahwa Agama Sunda Wiwitan juga memiliki unsur [[monotheisme]] purba, yaitu di atas para [[dewata]] dan [[hyang]] dalam pantheonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.
 
Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi [[Banten]] dan [[Jawa Barat]], seperti di [[orang Kanekes|Kanekes]], [[Lebak]], [[Banten]]; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, [[Cisolok]], Sukabumi; [[Kampung Naga]]; [[Cirebon]]; dan [[Cigugur, Kuningan]]. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh [[orang Sunda]] sebelum datangnya ajaran [[Hindu]] dan [[Islam]].
 
Ajaran Sunda Wiwitan terkandung dalam kitab [[Sanghyang siksakanda ng karesian]], sebuah kitab yang berasal dari zaman kerajaan Sunda yang berisi ajaran keagamaan dan tuntunan moral, aturan dan pelajaran budi pekerti. Kitab ini disebut Kropak 630 oleh Perpustakaan Nasional Indonesia. Berdasarkan keterangan ''kokolot'' (tetua) kampung Cikeusik, orang Kanekes bukanlah penganut [[Hindu]] atau [[Buddha]], melainkan penganut animisme, yaitu kepercayaan yang memuja arwah nenek moyang. Hanya dalam perkembangannya kepercayaan orang Kanekes ini telah dimasuki oleh unsur-unsur ajaran [[Hindu]], dan hingga batas tertentu, ajaran [[Islam]].<ref>Djajadiningrat, 1936: 11-12</ref> Dalam [[Carita Parahyangan]] kepercayaan ini disebut sebagai ajaran "Jatisunda".
2.312

suntingan