Ci Liwung: Perbedaan revisi

3.051 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di [[Katulampa]] (Bogor), Depok, [[Pintu Air Manggarai|Manggarai]], [[Pintu Air Karet|Karet]], serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di [[Gadog, Megamendung, Bogor]] sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.
 
 
 
 
11 November 2011 Sejarah Hari Ciliwung
 
11 November 2011, Kalangan akademis dikejutkan dengan penemuaan Chitra chitra javanensis di aliran Sungai Ciliwung Tanjung Barat-Jakarta Selatan. Kemunculan bulus raksasa ini terhitung sangat jarang, sehingga data mengenai satwa ini pun, juga cukup minim.Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.
 
Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.
 
Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.
 
Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.
 
Penemuaan Senggawangan pada tgl 11/11/11 oleh penangkap bulus di Tanjung Barat membuktikan bahwa Konservasi Sungai Ciliwung perlu segera dilakukan. Senggawangan dengan ukuran panjang 1,5 m dan bobot 140 kg, ditemukan berjumlah 2 ekor (1pasang) dan diperkirakan telah berumur ratusan tahun.
 
Karena adanya kearifan cerita Senggawangan, Haji Zaenudin Bombay yang menyelamatkan bulus tersebut dengan membeli dari para pencari bulus di Ciliwung, akhirnya memutuskan melepas satwa ini kembali ke Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari.
 
Menggagas Kembali Kesadaran Konservasi oleh Masyarakat dari Peringatan Hari Ciliwung 11 November
 
Menjadikan Senggawangan sebagai maskot Ciliwung, mengangkat kembali kearifan lokal menghormati dan menjaga kehidupan sungai.
 
Mungkin dengan ini suatu saat kita rindu akan zaman dulu, mendengar nasehat-nasehat dari para orang tua “nak, awas jangan main di situ, di situ tempatnya Senggawangan” atau anak-anak yang berteriak “eh, kayaknya ada yang nyenggol kaki saya” berpikir kakinya tersentuh Senggawangan lewat padahal mungkin hanya dorongan sampah kayu yang lewat ketika dia berenang.
 
Kita juga akan rindu dengan pesan untuk hanya mengambil ikan secukupnya di sungai, menyisakan untuk jatah makanan Senggawangan, bukannya malah mengambil sebanyak banyaknya dengan racun putasium/tuba yang mematikan semua biota sungai sampai ke telur-telurnya, dan merusak sungai sebagai sumber daya air bersih.
 
Ternyata Konservasi bukan sesuatu yang baru, ternyata prinsip dasar konservasi telah dilakukan di Ciliwung oleh orang-orang tua kita zaman dulu.
 
Penemuan kembali Chitra chitra javanensis berumur lebih dari ratusan tahun yang masuk daftar merah terancam punah oleh Badan Konservasi Internasional IUCN memberi peringatan kepada kita bahwa kita harus memulihkan kembali sungai Ciliwung.
 
Pemulihan sungai di beberapa negara lain, keberhasilan pemulihan ekosistem sungai ditandai dengan kembalinya spesies-spesies yang dulu pernah hilang, satu persatu kembali ada dan bertambah.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
== Lihat pula ==