Ramayana: Perbedaan revisi

46 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
Senbud
(Senbud)
[[Berkas:Wat phra keaw ramayana fresco.jpg|right|thumb|240px|Lukisan bergaya [[Thailand]] yang menggambarkan suasana pertempuran antara [[Rama]] dengan [[Rawana]]]]
{{hindu sastra}}
'''Ramayana''' (dari [[bahasa Sanskerta]]: '''रामायण''', ''Rāmâyaṇa''; yang berasal dari kata ''Rāma'' dan ''Ayaṇa'' yang berarti "Perjalanan Rama") adalah sebuah cerita [[epos]] dari [[India]] yang digubah oleh [[Walmiki]] (Valmiki) atau Balmiki. Cerita epos lainnya adalah [[Mahabharata]].
<!--
Kisah cerita epos ini memiliki alur yang sangat sederhana. Seorang putra mahkota kerajaan Ayodyapura bernama [[Rama]], yang merupakan titisan atau [[awatara]] Bhatara [[Wisnu]] di [[bumi|dunia]], terusir dari kerajaannya sendiri. Sebenarnya ia berhak untuk menjadi Raja di Ayodyapura menggantikan ayahnya Prabu [[Dasarata]], tetapi ayahnya sudah menjanjikan kepada istrinya yang lain untuk mewariskan tahta mahkota kepada putranya yaitu [[Barata]]. [[Barata]] sendiri tidak mengetahui mengenai perjanjian ini. Di kemudian hari, Rama yang menikah dengan [[Sita]] diusir dari kerajaan atas keinginan ibu tirinya. Ia kemudian mengembara bersama istri dan adik Rama, [[Laksamana]].
 
Sekembalinya kesucian Sita diuji dengan dibakar. Ternyata tidak apa-apa. -->
== a.Kutipan dari Kakawin Ramayana ==
 
Ramayana terdapat pula dalam khazanah [[sastra Jawa]] dalam bentuk [[kakawin Ramayana]], dan gubahan-gubahannya dalam [[bahasa Jawa]] Baru yang tidak semua berdasarkan [[kakawin]] ini.
 
Dalam [[bahasa Melayu]] didapati pula [[Hikayat Seri Rama]] yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa kuna.
 
Di India dalam bahasa [[Sanskerta]], Ramayana dibagi menjadi tujuh [[kitab]] atau ''kanda'' sebagai berikut:
# '''[[Balakanda]]'''
# '''[[Ayodhyakanda]]'''
# '''[[Aranyakanda]]'''
# '''[[Kiskindhakanda]]'''
# '''[[Sundarakanda]]'''
# '''[[Yuddhakanda]]'''
# '''[[Uttarakanda]]'''
 
Banyak yang berpendapat bahwa kanda pertama dan ketujuh merupakan sisipan baru. Dalam bahasa Jawa Kuna, [[Uttarakanda]] didapati pula.
 
== Pengaruh dalam budaya ==
 
Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa [[Hindu]]. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya [[wayang|pewayangan]] di [[Indonesia|Nusantara]], seperti misalnya di [[Jawa]] dan [[Bali]]. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya [[Thailand]], [[Kamboja]], [[Vietnam]], [[Laos]], [[Philipina]], dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.
 
== Daftar kitab ==
 
Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda. Urutan kitab menunjukkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam Wiracarita Ramayana. Lihat di bawah ini :
 
{| class=wikitable
|-
! align=center bgcolor=silver| '''Nama kitab'''
! align=center bgcolor=silver| '''Keterangan'''
|-
| align=center| '''[[Balakanda]]'''
| Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu [[Dasarata]] yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: [[Kosalya]], [[Kekayi]], dan [[Sumitra]]. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: [[Rama]], [[Bharata]], [[Lakshmana]] dan [[Satrughna]]. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri [[Sita]], puteri Prabu [[Janaka]].
|-
| align=center| '''[[Ayodhyakanda]]'''
| Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya [[Rama]] ke hutan bersama Dewi [[Sita]] dan [[Lakshmana]] karena permohonan Dewi [[Kekayi]]. Setelah itu, Prabu Dasarata yang sudah tua wafat. [[Bharata]] tidak ingin dinobatkan menjadi Raja, kemudian ia menyusul Rama. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.
|-
| align=center| '''[[Aranyakanda]]'''
| Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah [[Rama]], [[Sita]], dan [[Lakshmana]] di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan, Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh para [[rakshasa]]. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculik [[Rawana]] dan pertarungan antara [[Jatayu]] dengan Rawana.
|-
| align=center| '''[[Kiskindhakanda]]'''
| Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang [[Rama]] dengan Raja kera [[Sugriwa]]. Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari [[Subali]], kakaknya. Dalam pertempuran, Subali terbunuh. Sugriwa menjadi Raja di [[Kiskindha]]. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur [[Kerajaan Alengka]].
|-
| align=center| '''[[Sundarakanda]]'''
| Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentara [[Kiskindha]] yang membangun jembatan [[Situbanda]] yang menghubungkan [[India]] dengan [[Alengka]]. [[Hanuman]] yang menjadi duta Sang [[Rama]] pergi ke Alengka dan menghadap Dewi [[Sita]]. Di sana ia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka.
|-
| align=center| '''[[Yuddhakanda]]'''
| Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang [[Rama]] dengan pasukan [[rakshasa]] Sang [[Rawana]]. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Sementara itu [[Wibisana]] diusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Dalam pertempuran, Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. Sang Rama pulang dengan selamat ke [[Ayodhya]] bersama Dewi [[Sita]].
|-
| align=center| '''[[Uttarakanda]]'''
| Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi [[Sita]] karena Sang [[Rama]] mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi [[Walmiki]] dan melahirkan [[Kusa]] dan [[Lawa]]. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rama pada saat upacara [[Aswamedha]]. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.
|}
 
== Ringkasan Cerita ==
 
[[Berkas:Ravi Varma-Rama-breaking-bow.jpg|right|thumb|240px|[[Rama]] mematahkan busur Dewa Siwa saat sayembara memperebutkan Dewi [[Sita]]]]
=== Prabu Dasarata dari Ayodhya ===
 
Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang [[Rama]] yang memerintah di [[Kerajaan Kosala]], di sebelah utara [[Sungai Gangga]], ibukotanya [[Ayodhya]]. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu [[Dasarata]] yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: [[Kosalya]], [[Kekayi]], dan [[Sumitra]]. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang [[Rama]]. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang [[Bharata]]. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama [[Lakshmana]] dan [[Satrugna]]. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.
 
Pada suatu hari, Resi [[Wiswamitra]] meminta bantuan Sang [[Rama]] untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para [[rakshasa]]. Setelah berunding dengan Prabu [[Dasarata]], Resi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan [[Lakshmana]] diberi ilmu kerohanian dari Resi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para raksasa yang mengganggu upacara para Resi. Ketika mereka melewati [[Mithila]], Sang [[Rama]] mengikuti sayembara yang diadakan Prabu [[Janaka]]. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi [[Sita|Sinta]], puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sinta, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke [[Ayodhya]].
 
Prabu [[Dasarata]] yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada [[Rama]]. Atas permohonan Dewi [[Kekayi]], Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada [[Bharata]] sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan [[Lakshmana]]. Akhirnya Bharata memerintah [[Kerajaan Kosala]] atas nama Sang Rama.
 
=== Rama hidup di hutan ===
 
Dalam masa pengasingannya di hutan, [[Rama]] dan [[Lakshmana]] bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk [[Surpanaka]]. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada [[Rawana]] bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik [[Sinta]], istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, [[Jatayu]] berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur.
 
[[Rama]] yang mengetahui istrinya diculik mencari [[Rawana]] ke [[Kerajaan Alengka]] atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan [[Sugriwa]], Sang Raja [[Kiskindha]]. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, [[Subali]]. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu [[Hanuman]] dan ribuan [[wanara]], mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.
 
=== Rama menggempur Rawana ===
 
[[Rawana]] yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – [[Indrajit]] – untuk menggempur Rama. Nasihat [[Wibisana]] (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak [[Rama]]. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan [[Lakshmana]]. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah [[Brahmāstra]] yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.
 
Setelah Rawana gugur, tahta [[Kerajaan Alengka]] diserahkan kepada [[Wibisana]]. [[Sinta]] kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke [[Ayodhya]] dengan selamat. [[Hanuman]] menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, [[Bharata]] menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.
 
== Kutipan dari Kakawin Ramayana ==
 
{|class=wikitable
 
== Lihat pula ==
[[Berkas:Wat_phra_keaw_ramayana_fresco.jpg|right|thumb|240x240px|
Lukisan bergaya [[Thailand]] yang menggambarkan suasana pertempuran antara [[Rama]] dengan [[Rawana]]
]]
{{hindu sastra}}
'''Ramayana'''
 
(dari [[bahasa Sanskerta]]: '''रामायण''', ''Rāmâyaṇa''; yang berasal dari kata ''Rāma'' dan ''Ayaṇa'' yang berarti "Perjalanan Rama") adalah sebuah cerita [[epos]] dari [[India]] yang digubah oleh [[Walmiki]] (Valmiki) atau Balmiki. Cerita epos lainnya adalah [[Mahabharata]].
 
Ramayana terdapat pula dalam khazanah [[sastra Jawa]] dalam bentuk [[kakawin Ramayana]], dan gubahan-gubahannya dalam [[bahasa Jawa]] Baru yang tidak semua berdasarkan [[kakawin]] ini.
 
Dalam [[bahasa Melayu]] didapati pula [[Hikayat Seri Rama]] yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa kuna.
 
Di India dalam bahasa [[Sanskerta]], Ramayana dibagi menjadi tujuh [[kitab]] atau ''kanda'' sebagai berikut:
# '''[[Balakanda]]'''
# '''[[Ayodhyakanda]]'''
# '''[[Aranyakanda]]'''
# '''[[Kiskindhakanda]]'''
# '''[[Sundarakanda]]'''
# '''[[Yuddhakanda]]'''
# '''[[Uttarakanda]]'''
 
Banyak yang berpendapat bahwa kanda pertama dan ketujuh merupakan sisipan baru. Dalam bahasa Jawa Kuna, [[Uttarakanda]] didapati pula.
 
== Pengaruh dalam budaya ==
 
Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa [[Hindu]]. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya [[wayang|pewayangan]] di [[Indonesia|Nusantara]], seperti misalnya di [[Jawa]] dan [[Bali]]. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya [[Thailand]], [[Kamboja]], [[Vietnam]], [[Laos]], [[Philipina]], dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.
 
== Daftar kitab ==
 
Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda. Urutan kitab menunjukkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam Wiracarita Ramayana. Lihat di bawah ini :
 
{| class="wikitable"
 
! align="center" bgcolor="silver" |
'''Nama kitab'''
! align="center" bgcolor="silver" |
'''Keterangan'''
|-
| align="center" | '''[[Balakanda]]'''
| Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu [[Dasarata]] yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: [[Kosalya]], [[Kekayi]], dan [[Sumitra]]. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: [[Rama]], [[Bharata]], [[Lakshmana]] dan [[Satrughna]]. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri [[Sita]], puteri Prabu [[Janaka]].
|-
| align="center" | '''[[Ayodhyakanda]]'''
| Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya [[Rama]] ke hutan bersama Dewi [[Sita]] dan [[Lakshmana]] karena permohonan Dewi [[Kekayi]]. Setelah itu, Prabu Dasarata yang sudah tua wafat. [[Bharata]] tidak ingin dinobatkan menjadi Raja, kemudian ia menyusul Rama. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.
|-
| align="center" | '''[[Aranyakanda]]'''
| Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah [[Rama]], [[Sita]], dan [[Lakshmana]] di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan, Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh para [[rakshasa]]. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculik [[Rawana]] dan pertarungan antara [[Jatayu]] dengan Rawana.
|-
| align="center" | '''[[Kiskindhakanda]]'''
| Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang [[Rama]] dengan Raja kera [[Sugriwa]]. Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari [[Subali]], kakaknya. Dalam pertempuran, Subali terbunuh. Sugriwa menjadi Raja di [[Kiskindha]]. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur [[Kerajaan Alengka]].
|-
| align="center" | '''[[Sundarakanda]]'''
| Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentara [[Kiskindha]] yang membangun jembatan [[Situbanda]] yang menghubungkan [[India]] dengan [[Alengka]]. [[Hanuman]] yang menjadi duta Sang [[Rama]] pergi ke Alengka dan menghadap Dewi [[Sita]]. Di sana ia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka.
|-
| align="center" | '''[[Yuddhakanda]]'''
| Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang [[Rama]] dengan pasukan [[rakshasa]] Sang [[Rawana]]. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Sementara itu [[Wibisana]] diusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Dalam pertempuran, Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. Sang Rama pulang dengan selamat ke [[Ayodhya]] bersama Dewi [[Sita]].
|-
| align="center" | '''[[Uttarakanda]]'''
| Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi [[Sita]] karena Sang [[Rama]] mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi [[Walmiki]] dan melahirkan [[Kusa]] dan [[Lawa]]. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rama pada saat upacara [[Aswamedha]]. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.
|}
 
== Ringkasan Cerita ==
 
[[Berkas:Ravi_Varma-Rama-breaking-bow.jpg|right|thumb|319x319px|
[[Rama]] mematahkan busur Dewa Siwa saat sayembara memperebutkan Dewi [[Sita]]
]]
 
=== Prabu Dasarata dari Ayodhya ===
 
Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang [[Rama]] yang memerintah di [[Kerajaan Kosala]], di sebelah utara [[Sungai Gangga]], ibukotanya [[Ayodhya]]. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu [[Dasarata]] yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: [[Kosalya]], [[Kekayi]], dan [[Sumitra]]. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang [[Rama]]. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang [[Bharata]]. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama [[Lakshmana]] dan [[Satrugna]]. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.
 
Pada suatu hari, Resi [[Wiswamitra]] meminta bantuan Sang [[Rama]] untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para [[rakshasa]]. Setelah berunding dengan Prabu [[Dasarata]], Resi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan [[Lakshmana]] diberi ilmu kerohanian dari Resi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para raksasa yang mengganggu upacara para Resi. Ketika mereka melewati [[Mithila]], Sang [[Rama]] mengikuti sayembara yang diadakan Prabu [[Janaka]]. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi [[Sita|Sinta]], puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sinta, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke [[Ayodhya]].
 
Prabu [[Dasarata]] yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada [[Rama]]. Atas permohonan Dewi [[Kekayi]], Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada [[Bharata]] sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan [[Lakshmana]]. Akhirnya Bharata memerintah [[Kerajaan Kosala]] atas nama Sang Rama.
 
=== Rama hidup di hutan ===
 
Dalam masa pengasingannya di hutan, [[Rama]] dan [[Lakshmana]] bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk [[Surpanaka]]. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada [[Rawana]] bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik [[Sinta]], istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, [[Jatayu]] berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur.
 
[[Rama]] yang mengetahui istrinya diculik mencari [[Rawana]] ke [[Kerajaan Alengka]] atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan [[Sugriwa]], Sang Raja [[Kiskindha]]. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, [[Subali]]. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu [[Hanuman]] dan ribuan [[wanara]], mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.
 
=== Rama menggempur Rawana ===
 
[[Rawana]] yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – [[Indrajit]] – untuk menggempur Rama. Nasihat [[Wibisana]] (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak [[Rama]]. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan [[Lakshmana]]. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah [[Brahmāstra]] yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.
 
Setelah Rawana gugur, tahta [[Kerajaan Alengka]] diserahkan kepada [[Wibisana]]. [[Sinta]] kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke [[Ayodhya]] dengan selamat. [[Hanuman]] menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, [[Bharata]] menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Ram
* [[Ramakien]]
* [[Sastra Hindu]]
Pengguna anonim