Dretarastra: Perbedaan revisi

602 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Migrasi 1 pranala interwiki, karena telah disediakan oleh Wikidata pada item d:Q926150)
{{TMH Infobox|
| Image = Dretarastra-klGandhari explains to Dhritrashtra.jpg
| Caption = Raja Dretarastra beserta Ratu [[Gandari]], ilustrasi dari ''Mahabharata'' terbitan Gorakhpur Geeta Press.
| Caption = Drestarastra dalam pewayangan Jawa
| Nama = Dretarastra
| Devanagari = धृतराष्ट्र
| Kitab = ''[[Mahabharata]], [[Bhagawadgita]]''
| Tempat = [[Hastinapura]]
| Dinasti = [[Kuru (raja)|Kuru]]
| Kasta = kesatria
| Profesi = Raja sementara
| Tokoh = ''Mahabharata''
| Profesi = Raja sementara
| Anak = [[Korawa|Seratus Korawa]]
| OrangtuaAyah = [[Wicitrawirya]] dan (sah){{br}}[[AmbikaByasa]] (atas''de bantuan [[Byasa]]facto'')
| PasanganIbu = [[GandariAmbika]]
| Istri = [[Gandari]]
| Anak = [[Korawa|Seratus Korawa]] ([[Duryodana]], [[Dursasana]], [[Wikarna]], dll), {{br}}[[Dursala]] (putri), {{br}}[[Yuyutsu]] (dari pelayan Gandari yang bernama [[Sugada]])
}}
{{HastinaRaja}}
== Kehidupan selanjutnya dan kematian ==
[[Berkas:Kunti Gandhari Dhrtarashtra.jpg|240px|right|thumb|Dretarastra beserta Gandari dan pengikut mereka diantar oleh Kunti menuju hutan. Gambar dari ''Razmnama'', kitab ''Mahabharata'' ber[[bahasa Persia]].]]
[[Berkas:Dhrtaburn.jpg|right|240px|thumb|Dretarastra terbakar oleh api sucinya sendiri.]]
Setelah [[Perang di Kurukshetra|pertempuran besar]] di [[Kurukshetra]] berakhir, [[Yudistira]] diangkat menjadi Raja [[Indraprastha]] sekaligus [[Hastinapura]]. Meskipun demikian, Yudistira tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada Dretarastra dengan menetapkan bahwa tahta Raja [[Hastinapura]] masih dipegang oleh Dretarastra. Akhirnya Dretarastra memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawai dan mengembara di hutan sebagai pertapa bersama [[Gandari]], [[Widura]], [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]], dan [[Kunti]]. Di dalam hutan di [[Himalaya]], mereka meninggal ditelan api karena hutan terbakar oleh api suci yang dikeluarkan oleh Dretarastra.
 
== Versi pewayangan Jawa ==
Sedikit berbeda dengan versi aslinya, tokoh Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung [[Abyasa]] (Byasa). Dretarastra (kadang disingkat Destarata) dilahirkan oleh Putri [[Ambika]] dalam keadaan buta karena ketika pertama kali berjumpa dengan [[Abyasa]], sang putri itu memejamkan mata. Pada waktu itu, [[Abyasa]] datang ke [[Hastina]] karena diundang ibunya, yaitu [[Durgandini]] untuk menikahi janda-janda [[Citrawirya]] (Ambika dan Ambalika), demi menyambung garis keturunan Wangsa Barata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu [[Bisma]], telah bersumpah untuk hidup membujang.
 
[[Berkas:Dretarastra-kl.jpg|left|180px|thumb|Drestarastra dalam pewayangan Jawa.]]
=== Kelahiran ===
Dretarastra serta kedua adiknya, [[Pandu]] dan [[Widura]], berguru kepada [[Bisma]] tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang [[tunanetra]], namun Dretarastra menguasai ilmu ''Lebur Geni'' sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya. Dretarastra menikah dengan [[Gendari]], putri dari negeri Plasajenar. DikisahkanSebelumnya, dikisahkan bahwa [[Pandu]] pulang dari [[Mandura]] dengan membawa [[Kunti]] sebagai hadiah sayembara, serta [[Madrim]] putri dari Mandaraka. Di tengah jalanperjalanan, rombongan itu dihadang oleh Gendara, rajaRaja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di [[Mandura]]. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu [[Gendari]] dan [[Sengkuni]] untuk dibawa oleh Pandu. Di [[Hastina]], [[Pandu]] menampilkan seluruh putri yang diboyongnya untuk dipilih sebagai istri Dretarastra. Dretarastra memilih [[Gendari]] yang diramalkan akan memberinya banyak putra. Penikahannya dengan Gendari memberinya seratus anak, yang dikenal dengan nama [[Korawa]].
Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh [[Ambika]] dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan [[Abyasa]], ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan [[Abyasa]] ke negeri [[Hastina]] ialah atas undangan ibunya, yaitu [[Durgandini]] untuk menikahi janda-janda [[Citrawirya]]. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa Barata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu [[Bisma]], telah bersumpah untuk hidup ''wahdat''.
 
Karena menyandangDretarastra cacad fisikcacat, takhta [[Hastina]] pun diserahkan kepada [[Pandu]], sedangkan [[Abyasa]] yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan [[Widura]] di Pagombakan. [[Pandu]] meninggal dalam usia muda sedangkan kelima putranya yang disebut [[Pandawa]] masih belum cukup dewasa. Ia pun menitipkan takhtaTakhta [[Hastina]] dititipkan kepada Dretarastra, serta sebuah pusaka bernama Minyakminyak Talatala. kepadaDengan kakakberbagai tirinyacara, [[Korawa]] berusaha menyingkirkan [[Pandawa]] (para putra Pandu). Dalam suatu konspirasi, [[Pandawa]] dinyatakan tewas dalam peristiwa ''Balai Sigala Gala'', yaitu pembakaran sebuah istana rapuh. Setelah peristiwa itu, Dretarastra pun menyerahkan takhta [[Hastina]] kepada putra tertuanya yang bernama [[Duryudana]], sedangkan dirinya kembali menjadi adipati di Gajah Oya.
Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu [[Pandu]] dan [[Widura]] berguru kepada [[Bisma]] tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang [[tunanetra]], namun Dretarastra mampu menguasai ilmu ''Lebur Geni'' sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.
 
SetelahPandawa yang terus selamat dari usaha pembunuhan rahasia oleh Duryudana dan [[KorawaSangkuni]] tumpas(ipar dalamDreatarastra) perangakhirnya menuntut hak mereka untuk memerintah Hastina, sebagaimana hak mereka yang diwariskan oleh Pandu. Perang besar—yang dikenal sebagai [[Baratayuda]]—tidak terelakkan karena Korawa tidak mau mengalah. Setelah Korawa binasa dalam perang tersebut, pihak [[Pandawa]] datang ke [[Hastina]] untuk mengambilmenjemput hak mereka atas takhta negeri itu. Dretarastra memanggil [[Bimasena]] ([[Pandawa]] nomoryang duakedua) untuk dipeluknya, dengan penuh dendam karena Bimasena adalah kesatria yang paling banyak membunuh putra-putranya dalam Baratayuda. Karena curiga, [[Kresna]] selaku penasihat [[Pandawa]] memberi isyarat agar [[Bima]] menyerahkan benda lain sebagai ganti dirinya. [[Bimasena]] pun menyodorkan pusakanya bernama Gada Rujakpolo untuk dipeluk Dretarastra. Dengan penuh rasa dendam, Dretarastra pun memeluk gada tersebut sampai hancur menggunakan ilmu Lebur Geni. Namun setelahSetelah mengetahui kalau dirinya tertipu, ia pun menyesal dan minta maaf.
=== Perkawinan ===
Dretarastra menikah dengan [[Gendari]] putri dari negeri Plasajenar. Dikisahkan [[Pandu]] pulang dari [[Mandura]] dengan membawa [[Kunti]] sebagai hadiah sayembara, serta [[Madrim]] putri dari Mandaraka. Di tengah jalan rombongan itu dihadang oleh Gendara raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di [[Mandura]]. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu [[Gendari]] dan [[Sengkuni]] untuk dibawa Pandu.
 
Sesampainya di [[Hastina]], [[Pandu]] menyerahkan ketiga putri boyongannya untuk dipilih salah satu sebagai istri Dretarastra. Kakaknya itu memilih [[Gendari]] yang diramalkannya akan memberinya banyak putra. Perkawinan tersebut memang melahirkan seratus orang anak, yang dikenal dengan nama [[Korawa]].
 
=== Pemerintahan ===
Karena menyandang cacad fisik, takhta [[Hastina]] pun diserahkan kepada [[Pandu]], sedangkan [[Abyasa]] yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan [[Widura]] di Pagombakan. [[Pandu]] meninggal dalam usia muda sedangkan kelima putranya yang disebut [[Pandawa]] masih belum cukup dewasa. Ia pun menitipkan takhta [[Hastina]] kepada Dretarastra, serta sebuah pusaka bernama Minyak Tala kepada kakak tirinya itu.
 
Dengan berbagai cara, [[Korawa]] berusaha menyingkirkan [[Pandawa]]. Akhirnya [[Pandawa]] pun dinyatakan tewas dalam peristiwa ''Balai Sigala Gala'', yaitu pembakaran kelima bersaudara itu dalam sebuah istana rapuh. Setelah peristiwa itu, Dretarastra pun menyerahkan takhta [[Hastina]] kepada putra tertuanya yang bernama [[Duryudana]], sedangkan dirinya kembali menjadi adipati di Gajah Oya.
 
=== Akhir hayat ===
Setelah [[Korawa]] tumpas dalam perang [[Baratayuda]], pihak [[Pandawa]] datang ke [[Hastina]] untuk mengambil hak mereka atas takhta negeri itu. Dretarastra memanggil [[Bimasena]] ([[Pandawa]] nomor dua) untuk dipeluknya. Karena curiga, [[Kresna]] selaku penasihat [[Pandawa]] memberi isyarat agar [[Bima]] menyerahkan benda lain sebagai ganti dirinya. [[Bimasena]] pun menyodorkan pusakanya bernama Gada Rujakpolo untuk dipeluk Dretarastra. Dengan penuh rasa dendam, Dretarastra pun memeluk gada tersebut sampai hancur menggunakan ilmu Lebur Geni. Namun setelah mengetahui kalau dirinya tertipu, ia pun menyesal dan minta maaf.
 
Kematian Dretarastra versi pewayangan tidak jauh berbeda dibanding versi aslinya. Ia dikisahkan terbakar sewaktu bertapa bersama [[Gendari]] dan [[Kunti]] di tengah hutan.
 
== Pranala luar ==
{{commonscat|Dhritarashtra|Dretarastra}}
* {{en}} [http://www.indianetzone.com/3/dhritarashtra.htm Dhritarashtra in Indianetzone.com]
* {{en}} [http://www.britannica.com/EBchecked/topic/160837/Dhritarashtra Dhritarashtra - Encyclopaedia Britannica]