Mahabharata: Perbedaan revisi

1.604 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(Menolak perubahan teks terakhir (oleh 118.97.212.181) dan mengembalikan revisi 8064745 oleh Alqhaderi Aliffianiko)
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi [[Satyawati]], puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang [[Citrānggada]] dan [[Wicitrawirya]]. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi [[Byasa]], kedua istri Wicitrawirya, yaitu [[Ambika]] dan [[Ambalika]], melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka [[Pandu]] (dari Ambalika) dan [[Dretarastra]] (dari Ambika).
 
[[DretarastraAmbika]] pada saat meminta Resi [[Byasa]] ia menutup matanya karena ia takut melihat wajah Resi [[Byasa]], maka anaknya [[Drestrarastra]] terlahir buta, maka tahta [[Hastinapura]] diserahkan kepada [[Pandu]], adiknya. Pandu menikahi [[Kunti]] kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan [[Madrim]], namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan (Supata=Kutukan) bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalamimati ajal.pada saat itu juga Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta.
 
Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Lalu Batara guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira Kemudian Batara Guru mengutus Batara IndraBayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti shinggasehingga lahirlah HarjunaBima, lalu kemudian Batara BayuGuru dikirimmengirimkan jugaBatara Indra untuk membuahi Dewi KuntiKinti sehinggadan lahirlah Bima,[[Arjuna]] dan yang terakhir, Batara Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa.
 
Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai [[Pandawa]]. sementara itu Dretarastra yang buta menikahi [[Gandari]], danputri dari kerajaan Gandara, Gandari iri kepada Kunti, adik iparnya yang tengah mengandung, dia pun menginginkan seorang putra, namun Gandari tidak dapat memiliki seratusseorang anak, dan dia pun meminta pada Resi Byasa seorang keturunan lalu ia pun mengandung saat tengah mengandung dia memukul mukul kandungannya karena ia iri kepada Kunti yang telah melahirkan tiga orang puteraputra setelah lahir ternyata yang keluar dari rahim Gandari hanya segumpal daging kemudian daging tersebut dipotong menjadi 100 oleh Resi Byasa dan di masukkan setiap potongan daging tersebut ke dalam sebuah guci dan di pendam ke dalam tanah setelah beberapa saat dari setiap guci tersebut ada seorang puteribayi, bayi yang pertama di beri nama [[Duryodhana]] dan bayi yang kedua di beri nama [[Dursasana]], gandhari memiliki 99 Anak laki laki dan 1 anak perempuan, yang bernama Dursala yang dikenal dengan istilah [[Korawa]]. Pandu dan Dretarastra memiliki saudara bungsu bernama [[Widura]]. Widura memiliki seorang anak bernama [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]], yang memiliki mata batin agar mampu melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
 
Keluarga [[Dretarastra]], [[Pandu]], dan [[Widura]] membangun jalan cerita Mahabharata.
=== Pandawa dan Korawa ===
 
[[Pandawa]] dan [[Korawa]] merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni [[Kuru (raja)|Kuru]] dan [[Bharata (raja)|Bharata]]. Korawa (khususnya [[Duryodana]]) bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Korawa, yaitu [[Dretarastra]], sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh kakak iparnya yaitu [[Sangkuni]], beserta putera kesayangannya yaitu [[Duryodana]], agar mau mengizinkannya setiap akan melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa.
 
Pada suatu ketika, [[Duryodana]] mengundang [[Kunti]] dan para [[Pandawa]] untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryodana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa diselamatkandiberi tahu oleh seorang Resi tentang rencana jahat [[Duryodana]] yangdiselamatkan oleh [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]] sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. Di hutan tersebut Bima bertemu dengan raja [[rakshasa]] [[Hidimba]] dan membunuhnya, lalu kemudian menikahi adiknya, yaitu rakshasi [[Hidimbi]]. Dari pernikahan tersebut, lahirlah [[Gatotkaca]].
 
Setelah melewati hutan rimba, [[Pandawa]] melewati [[Kerajaan Panchala]]. Di sana tersiar kabar bahwa Raja [[Drupada]] menyelenggarakan [[sayembara]] memperebutkan Dewi [[Dropadi]]. [[Karna]] mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Dropadi. setelah itu Karna pun marah besar atas penghinaan tersebut, para ksatria dan pangeran serta raja raja pun tidak dapat memenangkan sayembara tersebut, hingga akhirnya kareena pun mengatakan bahwa tak akan ada siapapun yang dapat memenangkan sayembara tersebut, akhirnya Raja Drupada ketakutan bahwa putri kesayangannya itu tak akan menikah seumur hidupnya, akhirnya dia menawarkan kepada siapapun boleh mengikuti sayembara tersebut termasuk kaum brahmana, Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum [[brahmana]].
 
Arjuna punmengikuti sayembara itu, dan memenangkannya, namun para hadirin tidak dapat menerima hal itu, karena menurut mereka tak pantas seorang tuan putri menikah dengan seorang brahmana, akhirnya perkelahian pun terjadi dan bima sendiri tanpa bantuan keeempat saudara saudaranya tersebut berhasil menyelamatkan mereka lalu mereka berenam pergi menuju hutan untuk menemui Dewi Kunti, untuk meminta restu sang ibu
Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, [[Arjuna]] untuk memenangkan sayembara senjata Panah, [[Bima]] memenangkan sayembara Gada dan [[Nakula]] - [[Sadewa]] untuk memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara.
 
Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainyaSesampainya di rumahHutan, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknyaArjuna tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, [[Dropadi]] menikahi kelima Pandawa.
Dropadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya.
 
=== Pembagian Kerajaan Kuru menjadi dua bagian ===
Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Tak pelak lagi, [[Dropadi]] menikahi kelima Pandawa.
 
=== Permainan dadu ===
 
{{main|Sabhaparwa}}
Agar tidak terjadi pertempuran sengit, [[Kerajaan Kuru]] dibagi dua untuk dibagi kepada [[Pandawa]] dan [[Korawa]]. Korawa memerintah Kerajaan Kuru induk (pusat) dengan ibukota [[Hastinapura]], sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota [[Indraprastha]]. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah [[Duryodana]] tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi [[Dropadi]]. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa.
 
=== Upacara Rajasuya ===
Untuk merebut kekayaan dan kerajaan [[Yudistira]], [[Duryodana]] mengundang [[Yudistira]] untuk main dadu ini atas ide [[Sangkuni]], hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke [[Hastinapura]].
 
Yudisthira melaksanakan Upacara Rajasuya yaitu upacara yang biasa dilakukan suatu kerajaan setelah kerajaan itu mandiri, di Upacara tersebut Duryodana turut hadir melihat kemegahan Indraprastha, tiba tiba saat berjalan Duryodana tercebur ke dalam sebuah kolam yang dikiranya lantai, Dropadi yang meilhat kejadian tersebut tertawa terbahak bahak, Duryodana merasa malu, dia pun memiliki Dendam pada Dropadi sejak peristiwa tersebut
Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh [[Sangkuni]] sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.
 
=== Permainan daduDadu ===
Dalam peristiwa tersebut, karena Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaian [[Dropadi]] ditarik oleh [[Dursasana]] karena sudah menjadi harta Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian [[Dropadi]], karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri [[Kresna]].
 
UntukMelihat merebutbetapa kekayaan danmegahnya kerajaan [[YudistiraIndraprastha]], Duryodhana menjadi iri dan berniat untuk merebut Indraprastha, Untuk merebut Indraprastha, [[Duryodana]] mengundang [[Yudistira]] untuk main dadu ini atas ide [[Sangkuni]], hal ini dilakukan sebenarnya untuk menipu Pandawa mengundang Yudistira untuk main dadu dengan taruhan. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke [[Hastinapura]].
 
Pada saat permainan dadu, Duryodana diwakili oleh [[Sangkuni]] sebagai bandarsang ahli dadu yang memiliki kesaktiandadu sakti yang dapat digunakan untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Dropadi dijadikan taruhan.
 
Dalam peristiwa tersebut, karena Dropadi sudah menjadi milik Duryodana, pakaianatas dendam pada Dropadi yang dulu pernah menertawakannya, ia menyuruh [[DropadiDursasana]] ditarikuntuk olehmenarik pakaian [[DursasanaDropadi]] karena sudah menjadi hartahak Duryodana sejak Yudistira kalah main dadu, namun usaha tersebut tidak berhasil membuka pakaian [[Dropadi]], karena setiap pakaian dibuka dibawah pakaian ada pakaian lagi begitu terus tak habisnya berkat pertolongan gaib dari Sri [[Kresna]].
 
Karena istrinya dihina, [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]] bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, [[Dretarastra]] merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan.
 
=== Penerus Wangsa Kuru ===
 
Setelah perang berakhir, [[Yudistira]] dinobatkan sebagai Raja [[Hastinapura]]. Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu [[Arjuna]], yaitu [[Parikesit]]. Kemudian, Yudistira bersama [[Pandawa]] dan [[Dropadi]] mendaki gunung [[Himalaya]] sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Parikesit memerintah [[Kerajaan Kuru]] dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama [[Janamejaya]]. Janamejaya menikahi Wapushtama (Bhamustiman) dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di [[Hastinapura]].
 
1

suntingan