Buka menu utama

Perubahan

27 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-Namun demikian +Namun)
Kisah Bahtera ini telah diuraikan secara panjang lebar di dalam berbagai [[agama Abrahamik]], yang mencampurkan solusi-solusi teoretis dengan masalah-masalah praktis semisal bagaimana cara Nuh membuang kotoran-kotoran binatang, atau dengan penafsiran-penafsiran alegoris yang mengajak manusia menuju jalan keselamatan dengan mematuhi perintah Tuhan.
 
Pada awal abad ke-18, perkembangan [[geologi]] dan [[biogeografi]] sebagai ilmu pengetahuan telah membuat sedikit sejarawan alam yang merasa mampu membenarkan penafsiran yang harafiah atas kisah Bahtera ini. Namun demikian, para pakar kitab terus meneliti gunung dimana kapal tersebut berlabuh. Namun begitu, Alkitab menyatakan bahwa kapal itu berlabuh di daerah timur laut [[Turki]] dan Al-Qur'an berpendapat bahwa kapal itu mendarat di [[Gunung Judi]].<ref>{{Quran-s|Hud|11|44}}</ref>
 
== Naratif ==
Cerita Nuh dan Bahtera banyak dibahas dalam [[literatur rabinik]] Yahudi yang belakangan. Kegagalan Nuh untuk memperingatkan orang-orang lain tentang datangnya air bah pada umumnya menyebabkan orang meragukan bahwa ia layak dianggap sebagai orang yang benar -atau barangkali ia orang yang benar hanya bila dibandingkan dengan generasinya sendiri yang jahat? Menurut sebuah tradisi, ia malah telah meneruskan peringatan Allah, menanam pohon aras 120 tahun sebelum datangnya Air Bah itu, sehingga orang-orang yang berdosa dapat melihat dan diimbau agar mengubah cara hidup mereka. Untuk melindungi Nuh dan keluarganya, Allah menempatkan singa dan binatang-binatang buas lainnya untuk menjaga mereka dari orang-orang jahat yang mengejek mereka dan mengancam mereka dengan kekerasan. Menurut sebuah [[midrash]], Allah-lah, atau para [[malaikat]], yang mengumpulkan binatang-binatang itu ke Bahtera, bersama-sama dengan makanan mereka. Karena sebelum masa ini tidak perlu diadakan pembedaan antara binatang yang haram dan yang tidak haram, maka binatang-binatang yang tidak haram memperkenalkan mereka dengan berlutut di hadapan Nuh sementara mereka masuk ke dalam Bahtera. Sebuah pandangan lain mengatakan bahwa Bahtera itu sendiri memisahkan yang haram dengan yang tidak haram, yang tidak haram diterima masing-masing tujuh ekor, sementara yang haram hanya sepasang.
 
Nuh sibuk siang dan malam memberi makan dan memperhatikan binatang-binatang itu. Ia tidak tidur selama satu tahun berada di dalam Bahtera. Binatang-binatang itu adalah yang terbaik dari antara spesiesnya, dan berperilaku dengan sangat baik. Mereka tidak berbiak, sehingga jumlah binatang-binatang yang keluar dari Bahtera persis sama dengan jumlah yang masuk. Namun Nuh dibuat lumpuh oleh singa, sehingga ia tidak layak untuk menjalani tugas-tugas imamat. Karena itu kurban pada akhir pelayaran itu dilaksanakan oleh anaknya, Sem. Burung gagak menciptakan masalah, karena ia menolak keluar dari Bahtera ketika Nuh melepaskannya. Ia mengutuk sang Leluhur dan menuduhnya berniat menghancurkan keturunannya. Namun demikian, seperti yang ditunjukkan oleh para penafsir, Allah bermaksud menyelamatkan burung gagak itu, karena keturunannya ditakdirkan untuk memberi makan kepada nabi [[Elia]].
 
Semua kotoran disimpan pada tingkat yang paling bawah dari ketiga tingkat Bahtera, manusia dan binatang-binatang yang tidak haram ditempatkan di tingkat kedua, sementara binatang-binatang yang haram serta burung-burung di tingkat atas. Sebuah pandangan lain mengatakan bahwa semua kotoran diletakkan di tingkat yang paling atas, dan dari situ kemudian dibuang ke dalam laut melalui sebuah pintu (trapdoor). Batu-batu berharga, yang terang seperti tengah hari, memberikan cahanya, dan Allah memastikan bahwa makanan tetap segar. Raksasa [[Og]], raja [[Basan]], berada di antara mereka yang diselamatkan -demikianlah mestinya yang terjadi, karena keturunannya disebutkan belakangan dalam kitab-kitab di dalam Torah-tetapi karena tubuhnya sangat besar ia harus tetap tinggal di luar, Nuh memberikan kepadanya makanan melalui lubang yang dibuat di dinding Bahtera.<ref>[http://www.jewishencyclopedia.com/view.jsp?artid=1780&letter=A&search=noah Jewish Encyclopedia: Ark of Noah] dan [http://www.jewishencyclopedia.com/view.jsp?artid=318&letter=N&search=noah Jewish Encyclopedia: Noah]; lihat pula [http://www.jewishencyclopedia.com/view.jsp?artid=218&letter=F Jewish Encyclopedia: Flood, The]</ref>
Banyak orang Yahudi Ortodoks dan orang [[Kristen konservatif]] percaya akan [[ineransi Alkitab]], konsep bahwa Alkitab, sebagai firman Allah, tidak mengandung kesalahan, tetapi harus ditafsirkan dengan tepat agar dapat dimengerti dengan benar. Mereka juga cenderung untuk mempercayai tradisi-tradisi tentang penyusunan Alkitab (lih., mis. [[Metode gramatika-historis]], [[Tradisi suci]] dan [[Midrash]]). Karena itu, mereka yang mengikuti [[Hermeneutika Alkitab|metode-metode hermeneutika]] ini, cenderung menerima keyakinan tradisional Yahudi bahwa naratif Bahtera di dalam Kitab Kejadian ditulis oleh [[Musa]]. Ada lebih sedikit kesepakatan tentang kapan Musa hidup, dan dengan demikian kapan cerita Bahtera ini ditulis —berbagai tanggal telah diajukan yang merentang antara abad ke- 16 SM hingga akhir abad ke- 13 SM.
 
Untuk tanggal air bah ini, kaum literalis mengandalkan penafsiran berdasarkan silsilah yang terdapat dalam Kejadian 5 dan 11. [[Uskup Agung Ussher]], dengan menggunakan metode ini pada abad ke-17, tiba pada tahun 2349 SM, dan tanggal ini masih diterima di banyak kalangan. Namun demikian, seorang sarjana [[fundamentalisme Kristen|fundamentalis Kristen]] yang lebih belakangan, Gerhard F. Hasel, dengan meringkaskan keadaan pemikiran pada masa kini sesuai dengan terang berbagai naskah Alkitab (teks [[Masoret]] dalam [[bahasa Ibrani Alkitab]], berbagai naskah dari [[Septuaginta]] Yunani), dan perbedaan-perbedaan opini tentang penafsiran mereka yang benar, menunjukkan bahwa metode analisis ini hanya dapat menetapkan bahwa air bah itu terjadi antara tahun 3402 dan 2462 SM.<ref>[http://www.grisda.org/origins/07053.htm "...antara tahun 3402 dan 2462 SM."]</ref> Pandangan-pandangan lainnya, yang didasarkan pada sumber-sumber dan metodologi-metodologi lainnya, menghasilkan tanggal-tanggal di luar batas-batas ini — [[Kitab Yobel]] yang [[deuterokanonika|deuterokanonik]], misalnya, memberikan tanggal yang ekuivalen dengan 2309 SM.
 
Kaum literalis menjelaskan bahwa kontradiksi-kontradiksi yang tampaknya ada dalam kisah Bahtera ini adalah akibat konvensi gaya penulisan yang diambil oleh sebuah teks kuno. Jadi, kebingungan tentang apakah Nuh membawa tujuh pasang saja ataukah hanya sepasang dari binatang-binatang yang tidak haram ke dalam Bahtera dijelaskan sebagai hasil dari si pengarang (Musa) yang pertama kali memperkenalkan subyeknya dalam pengertian umum —tujuh pasang dari binatang-binatang yang tidak haram —dan baru belakangan, dengan banyak pengulangan, menjelaskan secara spesifik bahwa binatang-binatang ini masuk ke dalam Bahtera secara berpasangan. Kaum literalis tidak melihat hal-hal yang mebingungkan dalam rujukan kepada burung gagak —mengapa Nuh tidak boleh melepaskan burung gagak?—mereka pun tidak melihat tanda-tanda tentang penutup alternatif.
626.683

suntingan