Jayabaya: Perbedaan revisi

527 bita dihapus ,  6 tahun yang lalu
k
k (Bot: Penggantian teks otomatis (- jaman + zaman))
Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari [[Surakarta]] bernama [[Ranggawarsita]] sering disebut sebagai penulis naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]]. Akan tetapi, [[Ranggawarsita]] biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]] pada umumnya bersifat anonim.
 
===Ramalan Prabu Jayabaya===
 
Ramalan Jayabaya, adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa di masa datang. Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh bencana.
<strong>Ramalan Jayabaya</strong>,
adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa di masa datang.
Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh
bencana.
 
Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.
<nowiki> </nowiki>dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa
kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik
berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.
 
Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang ''Ratu Adil'', atau ''Satria Piningit''.
Tapi, setelah masa
yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh
kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu
akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit.
 
Ramalan Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil dan bijaksana di [[Mataram]]. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya. [[Soekarno|Bung Karno]] pun juga merasa perlu berkomentar tentang ramalan ini.
Ramalan
<nowiki> </nowiki>Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil
dan bijaksana di Mataram. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159).
Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan
banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya. Bung Karno pun juga
merasa perlu berkomentar tentang ramalan ini.
 
:: "Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya "Ratu Adil", apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap "''Kapan, kapankah Matahari terbit''?". Soekarno, 1930, Indonesia Menggugat
“Tuan-tuan
Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu
datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari
ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati
rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu,
mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam
kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap
“Kapan, kapankah Matahari terbit?”.
 
Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan mendekati keadaan sekarang. Di antaranya :
Sukarno, 1930, Indonesia Menggugat
 
# Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara (zaman penjajahan ).
Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan sekarang. Diantaranya :
# "''kreto mlaku tampo jaran''", "''Prau mlaku ing nduwur awang-awang''", kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang?)
# Datangnya zaman penuh bencana di Nusantara (Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa tujuh kali sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.
# Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, "''Akeh udan salah mongso''", datangnya masa di mana hujan salah musim.
 
Nah, naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Di antaranya oleh [[Ibnu Khaldun]] (Muqaddimah, 1337, Wikipedia: Ibn Khaldun), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee (A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.
1.
<nowiki> </nowiki>Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh
<nowiki> </nowiki>dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara ( zaman penjajahan ).
 
2.
<nowiki> </nowiki>“kreto mlaku tampo jaran”, “Prau mlaku ing nduwur awang-awang”, kereta
tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat
terbang?)
 
3. Datangnya zaman penuh bencana di Nusantara
(Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa 7 x
sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.
 
4. Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, “Akeh udan salah mongso”, datangnya masa dimana hujan salah musim.
 
Nah,
<nowiki> </nowiki>naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan
sejak ratusan tahun lalu. Diantaranya oleh Ibnu Khaldun (Muqaddimah,
1337, Wikipedia<nowiki> </nowiki>: Ibn Khaldun), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee
<nowiki> </nowiki>(A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia
atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa
belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.
 
Bagaimana dengan Satria Piningit ?
 
Banyak juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut "Promethean",
Banyak
diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities.
<nowiki> </nowiki>juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa
Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan lanjutan pidato Bung Karno ini:
perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut “Promethean”,
diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api
(pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities.
Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang
<nowiki> </nowiki>yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada
<nowiki> </nowiki>bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa
banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan
lanjutan pidato Bung Karno ini<nowiki> </nowiki>:
 
“Selama kaum intelek
Bumiputra belum bisa mengemukakan keberatan-keberatan bangsanya, maka
perbuatan-perbuatan yang mendahsyatkan itu (pemberontakan) adalah
pelaksanaan yang sewajarnya dari kemarahan-kemarahan yang disimpan …
terhadap usaha bodoh memerintah rakyat dengan tidak memperhatikan dengan
<nowiki> </nowiki>sungguh-sungguh keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan
mereka…”
 
Satria piningit, adalah orang-orang yang peduli pada
bangsanya, berilmu tinggi, dan telah memutuskan untuk berbuat sesuatu.
Merekalah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan
akhirnya membangkitkan peradaban.
 
:: "Selama kaum intelek Bumiputra belum bisa mengemukakan keberatan-keberatan bangsanya, maka perbuatan-perbuatan yang mendahsyatkan itu (pemberontakan) adalah pelaksanaan yang sewajarnya dari kemarahan-kemarahan yang disimpan … terhadap usaha bodoh memerintah rakyat dengan tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan mereka…"
Di zaman kegelapan,
selalu ada saja orang yang belajar. Diantara banyak orang lupa, selalu
ada saja orang baik. Bahkan walau cuma satu orang. Kadang, kerusakan itu
<nowiki> </nowiki>justru membakar jiwanya untuk berbuat sesuatu. Belajar, Berjuang,
Berkorban. Seperti Nabi Muhammad yang melihat bangsanya hancur, atau
Sukarno yang melihat bangsanya diinjak-injak. Mereka lalu berjuang
menyelamatkan bangsanya. Promethean, Ratu Adil yang mendatangkan zaman
kebaikan.
 
Satria piningit, adalah orang-orang yang peduli pada bangsanya, berilmu tinggi, dan telah memutuskan untuk berbuat sesuatu. Mereka lah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan akhirnya membangkitkan peradaban.
Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara
ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur,
dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa
lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak
lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini
juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di
saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga
Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.
 
Di zaman kegelapan, selalu ada saja orang yang belajar. Diantara banyak orang lupa, selalu ada saja orang baik. Bahkan walau cuma satu orang. Kadang, kerusakan itu justru membakar jiwanya untuk berbuat sesuatu. Belajar, berjuang, berkorban. Seperti [[Nabi Muhammad]] yang melihat bangsanya hancur, atau [[Soekarno]] yang melihat bangsanya diinjak-injak. Mereka lalu berjuang menyelamatkan bangsanya. Promethean, Ratu Adil yang mendatangkan zaman kebaikan.
Percaya
<nowiki> </nowiki>atau tidak ? Anda tidak perlu percaya, tidak perlu tidak percaya.
Bagaimanapun ini adalah cerita yang penuh pesan. Belipit, Ornot
 
Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur, dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.
Terima kasih telah membaca artikel Ramalan Jayabaya.
 
http://www.satriamataram.com
== Kepustakaan ==
* Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. ''Sejarah Nasional Indonesia Jilid II''. Jakarta: Balai Pustaka
1.432

suntingan