Buka menu utama

Perubahan

239 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
[[File:Gandhara, bodhisattva assiso, II sec..JPG|thumb|[[Bodhisattva]] seatedduduk inbermeditasi [[jhana|meditation]].menuju [[Afghanistan]]samadhi, 2ndAfganistan century2 CEMasehi.]]
'''Samadhi''' (bahasa Sansekerta : समाधि) adalah sebuah ritual konsentrasi tingkat tinggi, melampaui kesadaran alam jasmani yang terdapat dalam agama Hindu , [[Budha]] , [[Jainisme]] , [[Sikhisme]], dan aliran [[yoga]].<ref name=Bhargava/><ref name=Diener/> Samadhi juga merupakan fase tertinggi dalam delapan fase penguasaan [[Yoga]].<ref name=Diener/> Ketika memasuki fase samadhi, kemampuan [[analitis]] dan [[logika]] menjadi tak berfungsi atau diam.<ref name=Diener/> Menurut Kamus Bhargava, Samadhi adalah fase terkuat dari yoga di mana seseorang memperoleh kekuatan untuk menangguhkan hubungan antara tubuh dan jiwa selama yang Ia suka.<ref name=Bhargava>{{cite book|last1=Pathak|first1=R. C.|title=Bhargava's Concise Hindi-English Dictionary|date=June 1981|publisher=French & European Pubns|isbn=978-0828817448|edition=6th|url=http://www.amazon.com/Bhargavas-Concise-Hindi-English-Dictionary-Pathak/dp/0828817448}}</ref> Samadhi juga dipahami sebagai sebuah bagian dari ritual keagamaan, berbeda dengan semedi atau pun meditasi, yang mana keduanya merupakan praktek latihan konsentrasi yang digunakan di luar [[ritual]] keagamaan.<ref name=Bhargava/>
 
 
===Tingkatan Samadhi dalam ajaran hindu===
Dalam ajaran Hindu, samadhi dibagi menjadi lima tingkatan: ''laya samadhi'', ''savikalpa samadhi'', ''nirvikalpa samadhi'', ''sahaja samadhi'', dan ''mahasamadhi''.<ref name="yogapoint"/> Pada tingkat '''pertama''' laya samadhi seseorang mengenal untuk pertama kalinya bentuk dari kedamaian dan kebagiaan melalui nyanyian, tarian, atau aktifitas harian lainnya.<ref name="yogapoint"/> Pada fase ini seseorang mulai menumbuhkan dan mengenal bakat potensial dalam dirinya untuk melanjutkan samadhi ke tingkat berikutnya.<ref name="yogapoint">{{cite web |url=http://www.yogapoint.com/info/samadhi.htm |title=Samadhi - A Scientific Phenomenon? |publisher=yogapoint.com |author= Parikshiti Mhaispurkar}}</ref>
 
Dalam tingkatan '''kedua''', [[savikalpa samadhi,]] sang meditator akan megalami sensasi perjalanan ruang dan waktu secara berbeda.<ref name="Ramanasramam"/> Pada masa-masa samadhi ini, sang medtator berusaha memahami penyempurnaan samadhi.<ref name="Ramanasramam"/> Segala macam perasaan dan pikiran-pikiran membanjiri benaknya, tetapi secara sadar dia memadamkannya.<ref name="Ramanasramam">{{cite book |title=Talks with Sri Ramana Maharshi |year=2006 |first=Ramanasramam |last= |page=391}}</ref>
 
Yang '''ketiga''' adalah Nirvikalpa Samadhi, yang mana dalam fase ini sang pertapa akan mengalami puncak kebahagiaan yang luar biasa.<ref name="Ramanasramam"/> Dia merasakan seakan-akan dunia dan seisinya berjalan mengikuti dirinya.<ref name="Ramanasramam"/> Seseorang biasanya dapat mengalami fase Nirvikalpa Samadhi dalam beberapa jam atau beberapa hari, dan hanya orang-orang dengan kekuatan spiritual tertinggi yang bisa mengalami hal ini.<ref name="Ramanasramam" /> Orang dalam fase ini juga dikabarkan mengalami kesulitan untuk berkomunikasi layaknya manusia biasa.<ref name="Ramanasramam"/>
 
Yang '''keempat''' adalah Sahaja Samadhi yaitu sebuah fase supremasi dari samadhi, yakni sang meditator telah sepenuhnya menguasai dunia spiritual dan kesulitan memahami dunia materi.<ref name="Ramanasramam"/> Saat mengalami sahaja samadhi seseorang akan merasa telah dekat dengan zat sang maha kuasa.<ref name="Ramanasramam"/>
 
=== Menjaga samadhi ===
Melakukan samadhi membutuhkan kesiapan dan niat yang kuat, bahkan mempertahankan kemurniannya lebih sulit lagi.<ref name=divine/> Tingkatan samadhi yang dasar seperti laya dan savikalpa sifatnya temporer dan dapat terhapus dalam waktu singkat.<ref name=divine/> Kesulitan untuk mencapai atau mempertahankan tingkatan samadhi disebabkan oleh ganggguan-gangguan dari dalam diri sendiri seperti emosi dan pikiran.<ref name=divine/> Sebaliknya, orang yang telah menempuh ajaran samadhi hingga ke tingkat nirvikalpa pun harus tetap menjaga kesadarannya di alam dunia nyata.<ref name=divine/> Oleh karena itu seorang yang hendak belajar samadhi sebaiknya meminta bantuan seorang guru spiritual yang disebut ''[[dhamma]]''.<ref name=divine>{{cite book |first=Thomas |last=Palotas |title=Divine Play: the Silent Teaching of Shivabalayogi |publisher=Lotus Press |year=2006 |isbn=0-9760783-0-9 |page=226}}</ref>
 
=== '''Samadhi mandir''' ===
 
==== Kekuatan supranatural ====
Kitab umat Budha, sutta menyebutkan bahwa para pelaku yang melakukan samadhi dapat meningkat kekuatan supranaturalnya (kekuatan itu disebut dengan abhijna atau siddhis), telah terbukti terdapat beberapa biksu yang mendapatkan kekuatan supernatural.<ref name=":0">http://the-wanderling.com/siddhis.html] SIDDHIS: Supernomal Perceptual States</ref> Meski demikian melakukan samadhi demi mendapatkan keuntungan sihir sangatlah tidak diperbolehkan, karena hal itu dapat menyimpang dari tujuan utama yaitu memperoleh pembebasan dari penderitaan di dunia.<ref name=":0" />
 
== Samadhi dalam ajaran Sikh ==
 
=== Kondisi tubuh ===
Hingga saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi modern belum dapat menjelaskan fenomena aneh yang terjadi dalam tubuh sang meditator ketika melakukan samadhi.<ref name=tubuh/> Meski demikian, sebenarnya para ilmuwan Hindu telah bertahun-tahun lamanya berusaha menjelaskan fenomena samadhi.<ref name=tubuh>{{cite book|last=Swami|first=Vivekananda|title=The Complete works of Swami Vivekananda.|date=1994|publisher=Advaita Ashrama|location=Calcutta|isbn=978-8185301761|pages=Chapter 3|edition=Mayavati memorial ed.}}</ref> Para ilmuwan dan agamawan yang berkontribusi dalam hal ini adalah:
 
'''Shiv Puran'''
 
Shiv Puran adalah salah satu tokoh dari [[India]] yang menjelaskan mengenai fenomena Samadhi dalam diri seseorang.<ref name=shiv/> Menurutnya, segala kesadaran secara keseluruhan kembali ke dalam tubuh sang meditator hingga dalam jumlah terkecil, lalu kesadaran ini terkurung di dalam dirinya, meskipun pada saat itu Ia terlihat tenang, tidak bergerak.<ref name=shiv/> Selain itu, pada saat bersamadhi, seseorang tidak dapat memikirkan tentang hal lain atau pun mempercayai sesuatau, dan mereka kehilangan fungsi indranya: kulit tidak merasakan sentuhan, telinga tak dapat mendengar apapun, hidung tidak dapat mencium bau, lidah tidak dapat merasa.<ref name=shiv/> Tubuh orang tersebut kaku layaknya pohon, dan ketika mereka berhasil menyatukan diri dengan sang Brahma (dewa alam semesta) maka Ia telah berada dalam zona samadhi.<ref name=shiv>{{cite book|title=Shiv Puran|publisher=VaayviyaSahinta|location=Uttarkhand|pages=chapter 37, verse 62, 65 and 66}}</ref>
 
'''Hath Yog Pradipika'''
 
Teks Yog Hath Pradipika menjelaskan bahwa orang yang melakukan samadhi melampaui alam sadar dan segala macam rasa, [[mental]] dan [[fisik]].<ref name=hath/> Seorang yogi yang dalam keadaan samadhi kesadaran di dalam dan di luar dirinya ternatrilisir menjadi nol, berubah menjadi ketenangan absolut.<ref name=hath/> Ketenangan absolut ini sama seperti tubuh yang tak bernyawa.<ref name=hath>{{cite book|title=Hath Yog Pradipika|publisher=Chowkhamba Krishnadas Academy Publishers|isbn=8121802016|page=Verse 56}}</ref>
 
'''Patanjali Yogdarshanam dan Mahopanishad'''
 
Mahopanishad berpendapat bahwa ketika fase samadhi muncul seluruh pikiran dan ambisi lenyap tak ada bekas.<ref name=Kumar/> Seorang yogi menjadi tidak menyadari apakah dirinya sedang tertidur, bermimpi, ataupun sadar diri karena mereka telah berada dalam kondisi sempurna.<ref name=Kumar/> Lalu menurut [[Yogdarshanam]], ketika seluruh tubuh dan eksistensi alam nampak tenang, maka seseorang telah mencapai fase samadhi.<ref name=Kumar>''Patanjali-Yogdarshanam''. Kumar Govindram Hasanand Publishers. pp. Chapter 3, Verse 109.ISBN 8170771555</ref>
 
'''Penelitian ilmiah'''
'''Sri Ramakrishna Paramhansa'''
 
[[Ramakrishna]] dalamdapat keadaanmasuk tetap dandalam tenangsamadhi selama berjam-jam dan perlahan kembali lagi dalam keadaan normalnya.<ref name=haridas/> Anehnya, jantungnya sama sekali tidak berdetak selama samadhi.<ref name=haridas/> Selain itu, Sri Totapuri, guru dari Paramhansa juga pernah menceritakan bahwa muridnya pernah melakukan nirvikalpa samadhi.<ref name=haridas/> Ceritanya pada suatu hari Ia hendak menemui Paramhansa di rumahnya, setibanya dia di sana sama sekali tak ada yang menjawab salamnya.<ref name=haridas/> Tiga hari berlalu, dia pun penasaran dan membuka pintu dengan paksa.<ref name=haridas/> Betapa terkejut dia ketika melihat Ramakrishna ternyata duduk dengan tenang, tidak berubah sejak terakhir kali Ia meninggalkannya.<ref name=haridas/> Dia pun langsung mengecek kondisinya, dan dia sama sekali tidak merasakan detak jantung atau pun aliran nafas. Dia menyimpulkan pada saat itu Paramhansa sedang melakukan nirvikalpa samadhi.<ref name=haridas>Haridas, Bhattacharyya (2002). ''Cultural Heritage of India''. Vedanta Press (RK Institute of Culture). p. 672.ISBN 978-8187332053.</ref>
 
'''Sri Chaitanya Mahaprabhu'''
1.571

suntingan