Tempat Pengasingan Boven Digoel: Perbedaan revisi

22 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
Tag: BP2014
Tag: BP2014
Kemudian cerita lagi dari Chalid Salim, yang merupakan salah seorang yang paling lama berada di barak mengerikan Boven Digul ini, Ia berada di kamp Digul terhitung lama, sampai tahun [[1943]] dari rombongan pertama, Chalid ditangkap dalam kapasitasnya sebagai wartawan. Tulisan-tulisan tentang pemerintahan Belanda kerap kali membuat para kolonial Belanda Marah, sehingga Ia masuk dalamj juga dalam daftar tawanan yang harus dibuang ke kamp Digul.<ref name="internet"/> Beberapa tulisannya yang membuat kolonial Belanda naik pitam, ketika tulisannya terbit dalam sebuah harian Medan, Ia mengkritik pemerintahan Hindia-Belanda, akan tetapi karena kritikannya tersebut, Ia dipenjara selama satu tahun, sebelum pada akhirnya Ia di kirim ke Boven Digul, Kisahnya ini diceritakannya dalam buku yang bertajuk “Vijftien Jaar Boven-Digoel Concentratiekamp op Nieuw-Guinea Bakermat van de Indonesische Onafhankelijkheid (terjemahan: Lima Belas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia).”<ref name="internet"/>
 
Satu lagi cerita dari seorang wartawan yang terkenal kisahnya dalam beberapa buku, yaitu kisah Marco Kartodikromo, Ia merupakan wartawan kiri, yang menulis di media massa hingga karena tulisannya, Ia keluar masuk Penjara.<ref name="internet"/> Ia juga merupakan anggota dari organisasi serikat Islam dan turut dalam pemberontakan Banten [[1926]].<ref name="internet"/> setahun kemudian, Ia di buang ke Kamp Digul oleh kolonial Belanda, dan Ia meninggal di Barak pengasingna tersebut karena menderita TBC, dan jasadnya di kebumikan di daerah kampung B.<ref name="internet"/> Ceritanya ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, dalam buku berjudul Cerita dari Digul.<ref name="sekarang"/>
 
== Koleksi Foto==
2.250

suntingan