Pikiran Rakyat: Perbedaan revisi

32 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
{{rapikan}}
{{Infobox Newspaper |
name = [[Berkas:Pikiran Rakyat.jpg|180px|Pikiran Rakyat]] ||
website = [http://www.pikiran-rakyat.com/ www.pikiran-rakyat.com]
}}
'''''Pikiran Rakyat''''' adalah sebuah [[surat kabar]] yang diterbitkan di [[Bandung]], [[Jawa Barat]]. Surat kabar ini didirikan pada [[24 Maret]] [[1966]]. Surat kabar ini dibesarkan oleh [[Atang Ruswita]], wartawan senior. Pikiran Rakyat memiliki slogan '''''Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat'''.
 
== Sejarah ==
Pada Bulan Januari 1966, di Kota Bandung terdapat sejumlah wartawan yang kehilangan pekerjaan, akibat koran milik Bandung N.V. bernama ''Pikiran Rakyat'' berhenti terbit. Koran yang pertama kali terbit pada 30 Mei 1950 ini harus berhenti karena terlambat memenuhi ketentuan yang mengharuskan setiap koran untuk berafiliasi dengan salah satu kekuatan politik atau memilih bergabung dengan koran yang ditentukan Departemen Penerangan. Atas dorongan Panglima Kodam (Pangdam) Siliwangi Ibrahim Adjie pada waktu itu, wartawan-wartawan tadi yang diwakili Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan koran '''''Angkatan Bersenjata''''' edisi Jawa Barat yang berafiliasi dengan harian umum ''Angkatan Bersenjata'' yang terbit di [[Jakarta]] dengan surat izin terbit (SIT) No. 021/SK/DPHM/SIT/1966.
Pada Bulan [[Januari]] [[1966]], di Kota Bandung terdapat sejumlah wartawan yang kehilangan pekerjaan, akibat Koran milik Bandung N.V.
 
bernama Pikiran Rakyat berhenti terbit. Koran yang pertama kali terbit pada [[30 Mei]] [[1950]] ini harus berhenti karena terlambat memenuhi ketentuan yang mengharuskan setiap Koran untuk berafiliasi dengan salah satu kekuatan politik atau memilih bergabung dengan Koran yang ditentukan Departemen Penerangan. Atas dorongan Panglima Kodam (Pangdam) Siliwangi Ibrahim Adjie pada waktu itu, wartawan-wartawan tadi yang diwakili Sakti Alamsyah dan Atang Ruswita menerbitkan Koran Angkatan Bersenjata edisi Jawa Barat yang berfaliasi dengan Harian Umum angkatan bersenjata yang terbit di [[Jakarta]] dengan surat izin terbit (SIT) No. 021/SK/DPHM/SIT/1966. Nomor perdana yang terbit pada [[24 Maret]] [[1966]] ini bertepatan dengan peringatan ke-20 peristiwa heroik Bandung Lautan Api. Namun belum genap setahun Koran ini terbit, Menteri Penerangan mencabut kembali peraturannya tentang keharusan berafiliasi. Pangdam Siliwangi pun serta merta melepas sepenuhnya ketergantungan Koran ini dengan Kodam. Seiring dengan keputusan ini pulalah, terhitung [[24 Maret]] [[1967]], Harian Angkatan Bersenjata edisi Jawa Barat berganti nama menjadi Harian Umum Pikiran Rakyat juga dikenal dengan singkatan PR hingga saat ini. Enam tahun pertama sejak masa kelahirannya, bisa dikatakan merupakan masa-masa penuh keprihatinan. Kantor maupun peralatan cetak dan tulis bukanlah milik Pikiran Rakyat. Pada masa ini, oplah Pikiran Rakyat pun tak pernah lebih dari 200.000 eksemplar per harinya. Namun berkat kegigihan dan keuletan yang didasari jiwa idealisme para perintis saat itu, Pikiran Rakyat secara pasti terus mendapat tempat di hati pembacanya. Pada [[9 April]] [[1973]], bentuk badan hukumnya
Nomor perdana yang terbit pada 24 Maret 1966 ini bertepatan dengan peringatan ke-20 peristiwa heroik [[Bandung Lautan Api]]. Namun, belum genap setahun koran ini terbit, Menteri Penerangan mencabut kembali peraturannya tentang keharusan berafiliasi. Pangdam Siliwangi pun serta merta melepas sepenuhnya ketergantungan koran ini dengan Kodam. Seiring dengan keputusan ini pulalah, terhitung 24 Maret 1967, harian ''Angkatan Bersenjata'' edisi Jawa Barat berganti nama menjadi harian umum '''''Pikiran Rakyat''''', yang juga dikenal dengan singkatan ''PR'' hingga saat ini.
diubah dari yayasan menjadi perseroan terbatas dengan nama PT Pikiran Rakyat Bandung.
 
Menyusul perubahan status perusahaan, Pikiran Rakyat pun segera menata diri. Nilai-nilai idealisme dan etika jurnalistiknya dipadukan dengan manajemen bisnis layaknya sebuah perusahaan modern. Pada awal tahun [[1974]], Pikiran Rakyat mencatat peristiwa penting. Untuk pertama kalinya perusahaan berhasil melengkapi diri dengan percetakan offset yang dibeli dari fasilitas PMDN dan bantuan BRI. Mesin cetak ini mampu mencetak koran sebanyak 25.000 eksemplar per jam. Sejak tahun itu pulalah Pikiran Rakyat terus melesat bak meteor mampu menembus dan tinggal landas menuju kepada perwujudan cita-cita yang maju dan berkembang baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Enam tahun pertama sejak masa kelahirannya, bisa dikatakan merupakan masa-masa penuh keprihatinan. Kantor maupun peralatan cetak dan tulis bukanlah milik ''Pikiran Rakyat''. Pada masa ini, oplah ''Pikiran Rakyat'' pun tak pernah lebih dari 200.000 eksemplar per harinya. Namun berkat kegigihan dan keuletan yang didasari jiwa idealisme para perintis saat itu, ''Pikiran Rakyat'' secara pasti terus mendapat tempat di hati pembacanya.
Pikiran Rakyat kemudian dapat merambah keseluruh pelosok Jawa Barat dan memantapkan diri sebagai korannya orang Jawa Barat, sekaligus yang terbesar di provinsi ini. Padahal sebelumnya, dalam kurun waktu 1967-1973, Koran-koran berskala nasional terbitan Jakarta yang mendominasi peredaran Koran Jawa Barat. Antara tahun 1975-1986 Pikiran Rakyat sempat beredar ke seluruh pelosok nusantara, jadilah pikiran Rakyat Koran nasional yang terbit di daerah. Pikiran Rakyat sempat beredar sampai ke [[Kuala Lumpur]], [[Malaysia]] dan [[Brunei Darussalam]]. Pada tahun [[1986]] Pikiran Rakyat kembali menjadi Koran regional berbasis provinsi (Jawa Barat), walaupun sebagian tirasnya beredar di luar Jawa Barat seperti [[DKI Jakarta]], [[Jawa Tengah]], [[Jawa Timur]], dan beberapa provinsi lainnya.
 
Pada perkembangan selanjutnya, lembaga ini menjadi identik milik warga Jawa Barat. Dari aspek bisnis pun terjadi pertumbuhan yang
Pada 9 April 1973, bentuk badan hukumnya diubah dari yayasan menjadi perseroan terbatas dengan nama ''PT. Pikiran Rakyat Bandung''. Menyusul perubahan status perusahaan, ''Pikiran Rakyat'' pun segera menata diri. Nilai-nilai idealisme dan etika jurnalistiknya dipadukan dengan manajemen bisnis layaknya sebuah perusahaan modern. Pada awal tahun [[1974]], ''Pikiran Rakyat'' mencatat peristiwa penting. Untuk pertama kalinya perusahaan berhasil melengkapi diri dengan percetakan offset yang dibeli dari fasilitas PMDN dan bantuan [[BRI]]. Mesin cetak ini mampu mencetak koran sebanyak 25.000 eksemplar per jam. Sejak tahun itu pulalahpula, ''Pikiran Rakyat'' terus melesat bak meteor mampu menembus dan tinggal landas menuju kepada perwujudan cita-cita yang maju dan berkembang, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
signifikan. Dari rahimnya kemudian lahir PT Granesia, perusahaan percetakan dan penerbitan yang tak hanya mencetak Pikiran Rakyat, lalu secara berturut-turut Mitra Bisnis (semula bernama mitra Desa), tabloid berbahasa Sunda Galura dan surat kabar Mitra Dialog yang berkedudukan di Cirebon. Lalu, pada tahun 1999, sejalan dengan asas otonomi daerah tingkat dua, Pikiran Rakyat pun menangkap peluang yang muncul. Karena itulah kemudian men-take over Harian Umum Galamedia dari PT Surya Persindo Grup sebagai koran Greater Bandung, Pakuan yang terbit di Bogor, Priangan di Tasikmalaya, dan Fajar Banten di Serang. Perusahaan pun kemudian menangani radio Parahyangan yang kemudian berganti nama hingga saat ini menjadi Radio Terkemuka di Jawa Barat PRFM.
 
Harian Umum Pikiran Rakyat yang diterbitkan oleh PT. Pikiran Rakyat Bandung dengan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) No.
''Pikiran Rakyat'' kemudian dapat merambah keseluruhke seluruh pelosok Jawa Barat dan memantapkan diri sebagai 'korannya orang Jawa Barat', sekaligus yang terbesar di provinsi ini. Padahal sebelumnya, dalam kurun waktu 1967-1973, Korankoran-koran berskala nasional terbitan Jakarta yang mendominasi peredaran Korankoran Jawa Barat. Antara tahun 1975-1986 ''Pikiran Rakyat'' sempat beredar ke seluruh pelosok nusantaraNusantara, jadilah pikiran''Pikiran Rakyat'' Korankoran nasional yang terbit di daerah. ''Pikiran Rakyat'' sempat beredar sampai ke [[Kuala Lumpur]], [[Malaysia]] dan [[Brunei Darussalam]]. Pada tahun [[1986]], ''Pikiran Rakyat'' kembali menjadi Korankoran regional berbasis provinsi (Jawa Barat), walaupun sebagian tirasnya beredar di luar Jawa Barat seperti [[DKI Jakarta]], [[Jawa Tengah]], [[Jawa Timur]], dan beberapa provinsi lainnya.
035/SK. MENPEN/SIUPP/A.7/1986 tanggal [[11 Februari]] 1986 dan dicetak pada PT Granesia Bandung ini, pada hari-hari tertentu secara periodik terdapat Suplemen Gelora (tentang olahraga), Khazanah (tentang budaya), Binangkit (tentang kewanitaan) dan Cakrawala (tentang iptek).
 
Pada perkembangan selanjutnya, lembaga ini menjadi identik milik warga Jawa Barat. Dari aspek bisnis pun terjadi pertumbuhan yang signifikan. Dari rahimnya kemudian lahir PT Granesia, perusahaan percetakan dan penerbitan yang tak hanya mencetak ''Pikiran Rakyat'', lalu secara berturut-turut ''Mitra Bisnis'' (semula bernama mitra''Mitra Desa''), tabloid berbahasa Sunda ''Galura'' dan surat kabar ''Mitra Dialog'' yang berkedudukan di Cirebon. Lalu, pada tahun 1999, sejalan dengan asas otonomi daerah tingkat dua, ''Pikiran Rakyat'' pun menangkap peluang yang muncul. Karena itulah kemudian men-''take over'' Harian Umum ''Galamedia'' dari PT Surya Persindo Grup sebagai koran Greater Bandung, ''Pakuan'' yang terbit di Bogor, ''Kabar Priangan'' di Tasikmalaya, dan ''Fajar Banten'' di Serang. Perusahaan pun kemudian menangani radio Parahyangan yang kemudian berganti nama hingga saat ini menjadi Radio Terkemuka di Jawa Barat PRFM.
 
Harian Umum Pikiran Rakyat yang diterbitkan oleh PT. Pikiran Rakyat Bandung dengan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) No. 035/SK. MENPEN/SIUPP/A.7/1986 tanggal [[11 Februari]] 1986 dan dicetak pada PT Granesia Bandung ini, pada hari-hari tertentu secara periodik terdapat Suplemen Gelora (tentang olahraga), Khazanah (tentang budaya), Binangkit (tentang kewanitaan) dan Cakrawala (tentang iptek).
 
== Penghargaan ==
3.015

suntingan