Buka menu utama

Perubahan

25.983 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
[[kategori:Kelurahan di Jakarta]]
 
BAB IV
GAMBARAN UMUM
 
4.1. Gambaran Umum Wilayah Secara Makro
4.1.1. KOTAMADYA JAKARTA PUSAT
Posisi Kotamadya Jakarta Pusat terletak antara 106o, 22’, 42” BT sampai dengan 106o, 58’, 18” BT dan 5o, 19’, 12” LS sampai dengan 6o, 23’, 54” LS. Permukaan tanahnya relatif datar, terletak sekitar 4 m di atas permukaan laut, dan Jakarta Pusat dengan luas 48,17 Km2 dan secara administratif dibagi menjadi 8 Kecamatan, 44 Kelurahan, 397 RW, dan 4.755 RT, 254.796 KK, 1.088.729 jiwa, pada tahun 2000, dan pada tahun 2001, menjadi 8 Kecamatan, 44 Kelurahan, 403 RW, 4.659 RT, 201.637 KK, 871.675 Jiwa. Dapat kita lihat pada Peta Kotamadya Jakarta Pusat. Kotamadya Jakarta Pusat mempunyai batas-batas, yaitu :
BATAS UTARA
Jl. Duri Raya, Jl. K.H. Zainal Arifin, Jl. Sukardjo Wiryopranoto, Rel Kereta Api, Jl. Mangga Dua, Jl. Sunter Kemayoran.
BATAS TIMUR
Jl. Jend. Akhmad Yani (By Pass)
 
 
BATAS SELATAN
Jl. Pramuka, Jl. Matraman Raya, Jl. Jend. Sudirman, Kali Ciliwung / Banjir Kanal, Jl. Hang Lekir.
BATAS BARAT
Kali Grogol, Jl. Pal Merah, Jl. Pal Merah Utara, Jl. Aipda K.S. Tubun, Jl. Jembatan Tinggi, Banjir Kanal.
4.1.2. KECAMATAN SAWAH BESAR
Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat memiliki luas 6,22 Km2 dan secara administratif dibagi menjadi 5 Kelurahan, 49 RW, dan 600 RT, 29.020 KK, 112.206 jiwa, pada tahun 2002, dan pada tahun 2004, menjadi 5 Kelurahan, 49 RW, 600 RT, 28.804 KK, 119.943 Jiwa. Kecamatan Sawah Besar mempunyai batas-batas, yaitu :
BATAS UTARA
Jl. Mangga Besar Raya, Jl. Gunung Sahari XI, Jl. Industri.
BATAS TIMUR
Jalan Gunung Sahari Raya, Jl. Perwira, Jl. Kemayoran.
BATAS SELATAN
Jalan Pejambon, Jalan DR. Abdul Rachman Saleh, Jalan Kwini II, Jalan Senen Raya IV, Jalan Kalilio.
BATAS BARAT
Jalur Kereta Api Stasiun Djuanda, Sungai Ciliwung.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Peta Jakarta Pusat
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Peta Kec Sawah Besar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.2. Gambaran Umum Wilayah Secara Mikro
4.2.1. KELURAHAN PASAR BARU
Kelurahan Pasar Baru dengan luas 1,89 Km2, secara administratif dibagi menjadi 8 RW, 76 RT, 3.497 KK, dan jumlah penduduk sebanyak 13.196 Jiwa, dengan komposisi antara penduduk laki-laki dan perempuan adalah 6.526 Laki-laki dan 6.670 Perempuan, serta kepadatan penduduk sebesar 6.982 Jiwa/Km2, pada tahun 2003, dan pada tahun 2004, dan jumlah penduduknya sebanyak 13.179 Jiwa, dengan kom-posisi antara penduduk laki-laki dan perempuan adalah 6.652 Laki-laki dan 6.527 Perempuan, serta kepadatan penduduk sebesar 6.973 Jiwa/Km2, pada tahun 2004.
Kelurahan Pasar Baru mempunyai batas-batas, yaitu :
BATAS UTARA
Jalan Lautze
BATAS TIMUR
Jl. Gunung Sahari Raya
BATAS SELATAN
Jalan Pejambon, Jalan DR. Abdul Rachman Saleh, Jalan Kwini II, Jalan Senen Raya IV, Jalan Kalilio.
BATAS BARAT
Jalur Kereta Api Stasiun Djuanda, Sungai Ciliwung.
 
4.2.2. KAWASAN PASAR BARU
Kawasan Pasar Baru merupakan salah satu kawasan di wilayah Kelurahan Pasar Baru.
BATAS UTARA
Jl. K.H. Samanhudi, Pasar Metro.
BATAS TIMUR
Jl. Gereja Ayam, Jl. Kelinci.
BATAS SELATAN
Jl. DR. Sutomo, Jl. Gedung Kesenian, Jl. Pos, Kali Ciliwung.
BATAS BARAT
Jl. Krekot, Jl. Pintu Air Raya, Jl. Poseng.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Peta Kelurahan Pasar Baru
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Peta Kawasan Pasar Baru
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Bila kita lihat keadaan Pasar Baru sekaarng ini, maka kita akan melihat bahwa keadaan di kawasan ini terkesan tidak terawat, karena di sana-sini terdapat infrastruktur yang rusak dan tidak berfungsi seperti sediakala, bahkan ada infrastruktur yang berfungsi sebagaimana seharusnya, gambar berikut ini menunjukkan infrastruktur yang rusak dan tidak berfungsi.
 
 
 
 
 
 
 
Selain terdapat infrastruktur yang rusak, terdapat pula infrastruktur yang tidak berfungsi seperti sebagaimana seharusnya. Hal ini dapat kita lihat pada Gambar 4.2.
 
 
 
 
 
 
 
Para pedagang di kawasan ini juga memiliki pendapat bahwa menjadikan kawasan Pasar Baru menjadi pusat wisata belanja berjalan kaki merupakan suatu hal yang sangat tidak mereka setujui, karena kawasan Pasar Baru ini menjadi sepi, kalah dengan mall - mall yang telah banyak berdiri di kota Jakarta, apalagi dalam segi kenyamanan kawasan Pasar Baru kalah nyaman dengan mall - mall yang memakai penyejuk ruangan (AC).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Tabel 4.1. Tabel Kuesioner
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.3. Gambaran Umum Wilayah Secara Historis
4.3.1. Sekilas Sejarah
Secara garis besar keadaan pusat - pusat kegiatan ekonomi Batavia tidak banyak mengalami perubahan, kecuali pe-remajaan dan pembukaan ruang usaha yang baru. Walau begitu pada tahun 1920-an kegiatan ekonomi Batavia telah begitu kompleks dan beragam jenis usahanya. Tentunya usaha tersebut mencerminkan kebutuhan pokok penduduk Batavia, walau kebanyakan hanya sebagian masyarakatnya.
Pada tahun 1922, suatu pasar yang baru dan besar dibangun di lapangan Glodok untuk dapat mengawasi keadaan yang sehat berkaitan dengan penjualan bahan makanan. Keadaan pasar yang lama menunjukkan pemeliharaan sanitasi yang tidak begitu baik dan karenanya para pengunjung merasa kurang nyaman untuk dapat menikmati suasana perbelanjaan.
Selain itu, perkembangan ekonomi membawa Batavia pada pembukaan kantor - kantor perusahaan yang baru. Wajah kota menjadi kian marak dengan kehadiran bangunan-bangunan tersebut. Berdasarkan pandangan dagang, kantor-kantor itu memilih lokasi lama yang telah berkembang kegiatan ekomoninya. Ketika itu, selain kawasan Koningsplein, daerah Kota masih memainkan peranan penting dalam lapangan usaha dan perdagangan.
Gambar-gambar berikut ini merupakan perkembangan Pasar Baru dari tahun 1898 sampai pada sekarang .
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada Gambar 1.3. terlihat bahwa Pasar Baru merupakan suatu daerah yang mayoritas dihuni oleh masyarakat keturunan tionghoa yang memindahkan hunian mereka dari kawasan pecinan di Glodok ke kawasan pinggiran , yaitu kawasan Pasar Baru ini, dalam foto terlihat ornamen yang terdapat pada gapura, yang merupakan pintu masuk ke kawasan Pasar Baru tempo dulu, dihiasi oleh ornamen khas tionghoa.
Pada Gambar 1.4. kita juga dapat melihat bahwa selama dua tahun bangunan yang terdapat di kawasan Pasar Baru masih menggunakan bentuk-bentuk khas dari masyarakat keturunan tionghoa.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada Gambar 1.5. kawasan Pasar Baru dapat dikatakan tidak banyak perubahan yang berarti, pada tahun-tahun 1901-an sungai yang mengalir di kawasan ini masih dapat dipergunakan oleh masyarakat sekitar, sebagai tempat untuk mencuci baju, hal ini dapat kita lihat pada gambar.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada tahun 1910-an pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan yang mulai untuk mengelompokkan masyarakat ke dalam beberapa kelompok, yaitu Masyarakat Eropa yang merupakan Warga kelas I, Masyarakat Tionghoa yang merupakan Warga kelas II, dan yang terakhir adalah Masyarakat Pribumi yang merupakan Warga kelas III, hal ini mulai menyulut kesenjangan sosial, maka pemerintah Belanda juga mulai untuk meniadakan gapura pada pintu masuk kawasan Pasar Baru. Ini dapat dilihat pada Gambar 1.6.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kedua gambar di atas menunjukkan perkembangan Pasar Baru dari tahun 1915 sampai tahun 1920 yang tidak banyak mengalami perkembangan yang banyak, yang tampak hanyalah perkembangan pembangunan jalan yang lebih baik dari kawasan Pasar Baru ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sementara itu pada Gambar 1.9. dan Gambar 1.10. terdapat perkembangan Pasar Baru sebaga Pasar yang ramai dikunjungi oleh masyarakat serta juga jumlah penduduk dan kendaraan bermotor yang telah berkembang, dan kawasan Pasar Baru sebagai kawasan yang terbuka bagi kendaraan bermotor. Pada gambar di atas dapat kita lihat bahwa jalur pedesterian dan jalur kendaraan terdapat perbedaan dan telah terjadi pula On Street Parking.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada Gambar 4.11, Gambar 4.12, dan Gambar 4.13, menunjukkan perkembangan Pasar Baru dari tahun 1955, tahun 2001, dan juga tahun 2002, dari gambar-gambar tersebut di atas dapat kita lihat bahwa perkebangan Kawasan Pasar Baru cukup pesat, dan juga semakin banyak rumah-rumah yang menjadi Rumah Toko (Ruko) dan mulai berdagang di kawasan tersebut.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada gambar d atas adalah keadaan Pasar Baru pada saat ini, gambar tersebut menunjukkan posisi pasar Baru dari pintu masuk yang berada di Jalan Pos, yang terletak di depan Gedung Kesenian yang juga merupakan Landmark dan Genius Loci dari kawasan Pasar Baru ini.
 
4.3.2. Bangunan Penting di Kawasan Pasar Baru
Dalam maupun disekitar kawasan Pasar Baru dapat kita temukan banyak sekali bangunan-bangunan yang sangat penting dan sangat bersejarah di kawasan tersebut. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut membentuk pola kota di kawasan tersebut akhirnya membentuk pola hidup dari masyarakat di kawasan tersebut.
Penulis mencoba memberikan beberapa keberadaan bangunan-bangunan penting yang ada didalam dan di sekitar kawasan pasar baru.
 
4.3.2.1. Gedung Antara
4.3.2.1.1. Sejarah Gedung Antara
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kantor Berita Belanda yang pernah jaya pada awal abad ke 20 adalah ANETA (Algemeen Niews en Telegraff Agent-schap). Pada awalnya Kantor Berita ANETA menempati ge-dung Drukkerij pada sebuah ruangan berukuran 8x11 m yang bernama Pappyrus di daerah Jakarta Kota yaitu sekitar tahun 1917. Dengan tumbuh dan berkembangnya kantor berita ini maka kantor berita ANETA memindahkan kantornya ke gedung yang terletak di kawasan Pasar Baru/Jalan Pos Utara. Gedung tersebut terdiri dari tiga bangunan utama, yaitu bangunan No. 57 merupakan bangunan yang tertinggi, bangunan No. 59 dan bangunan No. 61. Dalam perkembangan selanjutnya kantor berita ANETA berubah status badan hukum menjadi sebuah NV yang bernama Algemeen Niews en Telegraff ANETA, ini terjadi pada tanggal 23 April 1924. NV atau Perseroan Terbatas ini bergerak bukan saja dalam dunia pemberitaan, juga bergerak di bidang periklanan dan penerbitan majalah.
Setelah tanggal 29 Mei 1942, sejak penjajahan pemerintahan Jepang, kantor berita Antara diambil alih oleh kantor berita Jepang YASHIMA. Orang Jepang yang ditempatkan di kantor berita Yashima bertindak sebagai pengawas atau sebagai Shidokan (Pemimpin). Oleh karena itu pada masa sebelum perang, kantor berita Antara bukan saja sekedar menjadi tempat kantor berita saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpulnya tokoh - tokoh pergerakan. Sewaktu kantor berita Antara dipindah ke gedung bekas gedung kantor berita Aneta yang terletak di Jalan Pos Utara No.53, Jepang pun ikut menempati gedung-gedung disekitarnya seperti gedung No.50, No. 53, No. 57, dan No. 61.
Gedung No. 53 berfungsi atau mempunyai peranan sebagai pemancar radio/bagian radio, gedung No. 57 berfungsi se-bagai tempat pertemuan pada hari besar bangsa Jepang, dan gedung No. 59 berfungsi se-bagai tempat dewan direksi khusus Inggris, Indonesia, dan Jepang.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Adam Malik dari tempat persembunyiannya di rumah Koesna, pergi ke kantor berita tersebut dan mendiktekan bunyi naskah Proklamasi yang baru saja dibacakan Bung Karno. Berita Proklamasi yang dikuman-dangkan lewat udara itu segera mendatangkan tanggapan-tanggapan khususnya dari pihak Jepang sendiri, juga tang-gapan dari luar negeri seperti dari San Fransisco (Amerika Serikat), Australia dan lain-lain.
Dalam bulan Desember 1945 dengan kepindahan pemerin-tahan pusat ke Yogyakarta, Antara Pusat juga berpindah, dan pemakaian ruangan dilanjutkan oleh Antara Jakarta sebagai Cabang Istimewa. Pada waktu serangan Belanda pertama bulan Juli 1947, ruangan gedung ini oleh Belanda dibagi-bagi kepada: Apotheek van Gorkon menem-pati ruangan No. 57, Fa Li Liong ruangan No. 57 dan Toko Meubel rotan Thung Seng menempati ruangan No. 81. Pada bulan November 1949, ruangan No. 57 dikembalikan kepada Antara, dan pada tanggal 4 April 1959 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wijono dalam Surat Keputusannya No. 35567/5 menyatakan bahwa gedung-gedung No. 57, No. 59, dan No. 61 yang terletak di Jalan Pos Utara yang sekarang bernama Jalan Antara adalah Gedung Bersejarah yang harus dikuasai di dalam wilayah Kotapraja Jakarta Raya.
 
4.3.2.1.2. Keadaan Fisik Bangunan
Bentuk bangunan dengan gaya kolonial ini memiliki tiga lantai dilengkapi dengan jam dan alat penangkal petir. Bangunan tua bersejarah ini memiliki pintu yang unik terbuat dari jeruji besi lengkap dengan kuncinya (gembok) dan lebar pintu 2 meter. Di lantai bawah terdapat tangga dari beton pegangannya terbuat dari kayu dan besi, anak tangga dilapisi oleh ubin keramik berwarna coklat muda. Lantai bawah terbuat dari marmer yang berukuran 50 x 50 cm.
Disebelah kanan anak tangga terdapat ruangan yang sekarang sudah diberi sekat-sekat dengan papan triplek berwarna krem, mungkin dahulunya berupa ruang dengan bentuk memanjang ke belakang. Sekarang ruangan tersebut dipergunakan oleh PT. Setiawan Sejati atau Gestetner yang bergerak dibidang fotokopi. Lantainya dari keramik warna putih.
Menaiki tangga ke lantai dua, terdapat sebuah pintu kaca berukuran lebar dan di depannya terdapat jendela kaca lebar berukuran 50 x 100 cm. Di sebelah kiri tangga terdapat ruangan yang bentuknya seperti di ruangan pertama. Sekarang ruangan tersebut menjadi tempat pendidikan Jurnalistik Antara. Ruangan ini terdiri dari : ruang pimpinan, ruang kantor, ruang belajar, musollah dan kamar mandi. Jendelanya unik berukuran 30 x 100 cm, dan kedua, tetapi ruangannya dibiarkan kosong.
 
4.3.2.2. Gedung Pos dan Giro Pasar Baru
4.3.2.2.1. Sejarah Gedung Pos dan Giro Pasar Baru
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kantor Pos yang pertama kali di Jakarta didirikan pada zaman Gubernur Jendral G.W Baron van Imhof, pada tanggal 26 Agustus 1746. Tujuan se-mula Belanda mendirikan gedung kantor Pos di Jakarta, ialah untuk menjamin keamanan surat-surat dari kantor-kantor dagang yang datang dari luar Jawa, atau bagi surat-surat yang untuk ke atau dari negeri Belanda. Sedangkan tujuan pokok didirikannya gedung-gedung kantor pos atau pembuatan jalan raya Pos adalah untuk menciptakan kelancaran kegiatan-kegiatan perdagangan rempah-rempah yang saat itu merupakan barang komoditi utama di pasaran dunia, khususnya di Eropa barat.
Dengan demikian, maka keberadaan gedung kantor Pos pasar Baru, latar belakang dan tujuan pembangunannya tidak terlepas dengan latar belakang sejarah perkembangan pos di Indonesia.
Pada tahun-tahun mendatang pemerintah Belanda memandang perlu untuk membangun gedung kantor pos tersendiri yang terpisah dengan gedung di sebelah timur Waterlooplein. Kebijakan tersebut mengingat semakin meningkatnya kegiatan pos yang ada di Jakarta saat itu. Gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru dibangun pada pertengahan abad ke XIX, dan diperuntukan sebagai gedung Kantor Pos.
 
4.3.2.2.2. Keadaan Fisik Bangunan
Bentuk bangunan gedung Kantor Pos Pasar Baru menunjukkan arsitektur Belanda dengan relung serta kaca-kaca berkembang yang menghiasi bagian depan gedung. Bangunannya memanjang dari arah Utara ke arah Selatan, bentuknya mirip bangunan stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Atapnya terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangganya. Atapnya melengkung, ruangannya dibuat los seperti halnya peron stasiun Kereta Api, sistem pengaturan cahaya dan ventilasinya memanfaatkan bagian atas yang ditutup dengan kaca dan kawat. Dengan sistem ini ternyata menghasilkan sirkulasi udara yang cukup bagus, hal ini terbukti bahwa di dalam ruangan gedung Kantor Pos Pasar Baru udaranya terasa sejuk walaupun tidak menggunakan AC.
Bangunan yang memanjang bagaikan stasiun kereta api tersebut adalah merupakan bangunan induk dari bangunan-bangunan lain yang ada di komplek Kantor Pos Pasar Baru. Keadaan fisik bangunan induk masih kokoh dan terawat baik, belum mengalami perubahan-perubahan, hanya ada tambahan bangunan di ruang dalam. Penambahan bangunan dibagian dalam gedung induk, dalam rangka menambah tempat yang digunakan sebagai aula dan beberapa ruangan yang menunjang kegiatan Kantor Pos Pasar Baru. Bangunan tambahan bertingkat terbuat dari papan dan tiang besi, namun tidak merusak atau merubah bangunan lama. Bangunan baru tersebut bentuknya sedemikian rupa sehingga dapat dikatakan sebagai bangunan di dalam bangunan.
Disamping kanan dan kiri terdapat bangunan sebagai sayap bangunan induk. Bangunan sayap tersebut dibagian belakang berlantai 2 dengan ubinnya besar-besar berwarna hitam berukuran 1 m2. Di gedung induk masih tampak asli belum mengalami pergantian, di bawah ubin dijumpai lapisan pasir dengan kedalaman 1.5 m, pasir tersebut berfungsi sebagai penghalang air agar tidak merambat ke bagian atas, mengingat bahwa daerah Pasar Baru letaknya sangat rendah dan dekat dengan pantai Laut Jawa.
Atap Gedung Kantor Pos Pasar Baru semuanya terbuat dari sirap. Sampai saat ini gedung Kantor Pos Pasar Baru belum pernah mengalami pemugaran secara total, tetapi hanya ada penambahan yaitu pada sekat-sekat ruangan yang tidak permanen. Tembok bangunan masih tampak utuh, bentuknya tebal dan kayu - kayu jati yang berukuran besar panjang tanpa sambungan masih tampak di ruangan ini. Sedangkan pemugaran yang pernah dilakukan sifatnya hanya berupa perawatan.
 
4.3.2.3. Gedung Kesenian Jakarta Pasar Baru
4.3.2.3.1 Sejarah Gedung Kesenian Jakarta Pasar Baru
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gedung Kesenian Pasar Baru yang terletak di wilayah Jakarta Pusat adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk pagelaran keseni-an. Awal pembangunannya dimulai pada masa pemerintah Gubernur Jendral Inggris Stamford Raffles, tetapi yang mempunyai gagasan untuk mewujudkan rencana pembangunan tempat pertunjukan tersebut adalah Gubernur Jendral Daendles.
Akhirnya rencana Daendles baru dapat diwujudkan, walaupun masih bersifat semi permanen yang terbuat dari dinding kayu dan bambu serta atapnya dari rumbia. Karena bangunan tersebut tidak tahan lama dan dianggap tidak layak lagi dipergunakan, maka atas prakasa perkumpulan Ut Desint dibangun sebuah gedung kesenian baru yang permanen. Berdasarkan surat keputusan pemerintah Belanda pada tanggal 6 Juli 1820 untuk memugarkan gedung peninggalan Inggris tersebut.
Sejak awal berdirinya dipergunakan untuk tempat pertunjukan (pagelaran) kesenian. Selain pertunjukan drama – opera oleh grup-grup seniman amatir maupun profesional, gedung tersebut dipakai juga untuk pagelaran musik wayang orang. Disamping itu dilakukan pula kegiatan lainnya berupa pameran lukisan dan menyelenggarakan kursus melukis.
Pada masa pendudukan Jepang, Schouwburg tidak lagi dipakai sebagai tempat pertunjukan kesenian, tetapi dijadikan salah satu dari markas tentara Jepang. Hampir bersamaan dengan pendirian Pusat Kebudayaan oleh pemerintah Jepang, maka Schouwburg dikembalikan pada fungsi semula sebagai gedung kesenian.
Pada saat menjelang kemerdekaan, gedung kesenian dijadikan tempat pertemuan para seniman muda sebelum menjalankan tugasnya menghibur para pejuang di garis depan. Dan pada awal kemerdekaan yaitu tanggal 29 Agustus 1945, gedung tersebut untuk pertama kali dipergunakan sebagai tempat berlindung anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).
Sekarang nama Gedung Kesenian Pasar Baru resmi disebut dengan ”Gedung Kesenian Jakarta”. Dengan hadirnya gedung kesenian ini maka dapat membangkitkan minat masyarakat Jakarta terhadap seni pentas. Disamping teater juga pagelaran kesenian lainnya seperti musik, tari, balet dan wayang golek.
 
4.3.2.3.2 Keadaan Fisik Bangunan
Arsitek gedung kesenian ini adalah para perwira militer, sedangkan pelaksanaan dan pembangunannya dipercayakan kepada perusahaan pemborong milik orang cina Firma Lie A Cie. Luas bangunan gedung tersebut berukuran 144 x 60 kaki atau 43 x 18 m dibangun dengan gaya campuran Ionic Romain dan Corinthian yang sedang trend pada saat itu.
Tiang-tiang besar dan sebuah patung dewa kesenian menghiasi serambi depan gedung tersebut. Jendela-jendela besar tidak ditutup kaca hanya dengan kawat nyamuk berwarna hitam dan kedap sinar memungkinkan udara segar dari luar dapat masuk. Yang paling indah dan mengesankan pada gedung kesenian ini adalah bagian dalamnya. Dekorasi, perabotan dan panggung serta sistem penerangan sungguh menakjubkan, penataannya diatur dengan selera tinggi. Ragam hias tumbuh-tumbuhan dan kepala manusia yang diberi cat pada tembok menghiasi seluruh ruangan.
Mulanya gedung kesenian hanya diterangi lampu-lampu minyak dan lilin, sesuai dengan perkembangan zaman, tahun 1864 sistem penerangan di modernisasikan dengan memakai lampu gas. Lampu listrik baru dipakai pada tahun 1882, itupun hanya di bagian dalamnya saja. Sampai tahun 1910 bagian luar gedung tetap hanya diterangi lampu-lampu gas.
Tempat duduk penonton terdiri atas Patere yaitu tempat duduk di bagian depan dekat panggung serta balkon yang tidak terlalu tinggi di bagian belakang. Tempat duduk di balkon khusus untuk kaum wanita. Penonton laki-laki ingin duduk dekat pasangannya atau istri boleh nonton di balkon asal tidak duduk.
Pada bangunan ini juga terdapat loge yang merupakan sebuah ruangan yang tidak diperjual belikan tempat duduknya untuk umum, karena merupakan tempat untuk para pejabat tinggi. Pada tahun 1865, gedung ini dipugar dengan mendapatkan dana dari kantor BOW (Departemen Pekerjaan Umum), tetapi sepertinya pada masa itu pemugaran pada kawasan gedung kesenian kurang berhasil, dan akhirnya pada tanggal 24 November 1984 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. 42 Tahun 1984, Gedung Kesenian Jakarta mengalami pemugaran Pemugaran pada akhir abad ke 20 ini, memperluas kawasan gedung menjadi 2211 m2, dengan luas tanah 4562,5 m2. Disekelilingnya dipagar dengan tembok tebal, kokoh, dan artistik. Tanah didalamnya, diluar gedung diaspal dan dihias taman yang asri. Dipelataran yang luas itu cukup untuk parkir puluhan mobil.
 
 
 
 
 
4.3.2.4. Gedung Departemen Keuangan
4.3.2.4.1 Sejarah Gedung Departemen Keuangan Pasar Baru
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gedung kuno itu ber-nama "Gedung Depar-temen Keuangan". Se-tiap perayaan Hari Ke-uangan selalu disaksi-kan oleh gedung bisu, angker, dan tampak berwibawa tersebut.
Gedung dengan dua pintu gerbang raksasa ini dibangun pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1809 dan selesai dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Du Bus tahun 1828. Bayangkan pembangunannya yang memakan waktu 29 tahun.
Pada masa Daendels bercokol di bulan Maret 1809, yakni setahun setelah beliau menjual tanah Weltevreden, pemerintah Belanda memutuskan membangun sebuah istana yang berhadapan letaknya dengan Lapangan Parade Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Pembangunannya diserahkan kepada Letnan Kolonel J.C. Schultze, perwira ini pernah berpengalaman membangun gedung Societet Harmonie di Batavia.
Walaupun keadaan keuangan pemerintah Balanda pada waktu itu mengalami krisis namun rencana tersebut tetap dilaksanakan. Hal itu disebabkan karena pemerintah Belanda pada waktu itu sudah mempunyai rencana. Yakni apabila gedung ini kelak sudah jadi maka akan dipakai untuk kepentingan gubernur jenderal sendiri. Sedangkan bangunan-bangunan lainnya akan dipergunakan sebagai kantor-kantor pemerintah pusat, sebab hingga waktu itu pemerintah pusat belum dapat memisahkan kantor-kantor bagiannya dari ruang induknya. Pada waktu itu gedung ini juga dimanfaatkan untuk tempat penginapan para tamu pembesar-pembesar pemerintah Belanda, sehingga perlu dilengkapi dengan kandang-kandang kuda yang fungsinya seperti tempat parkir mobil di masa sekarang. Hal ini dimaksudkan karena pada waktu itu kuda merupakan salah satu alat pengangkutan penting bagi kegiatan masyarakat sehari-hari.
Untuk menyelesaikan pembangunan ini pemerintah Belanda mengambil bahan-bahan bekas bangunan-bangunan dalam Kastil Batavia. Ketika bangunan-bangunan induk baru selesai sebagian, sedangkan bangunan sayap kiri dan kanan baru setengah jadi, masa jabatan Gubernur Daendels habis. Penggantinya, Gubernur Jansen bukanlah gubernur yang menaruh perhatian terhadap pembangunan gedung, karena terbukti selama ia berkuasa bangunan ini tetap tinggal terlantar tidak sempurna.
Lain ketika Gubernur Jenderal Du Bus yang berkuasa pada tahun 1826. Gedung ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan tenaga Ir. Tromp. Ini pun disebabkan karena gedung akan dipergunakan bagi kepentingan kantor-kantor peme-rintah Belanda di Indonesia. Bangunan bersejarah ini akhirnya selesai dalam tahun 1828 yang diresmikan oleh Gubernur Du Bus. Ini dapat disaksikan dan dibuktikan pada batu peringatan yang bertuliskan:
MDCCCIX
CONDIDIT DAENDELS
MDCCCXXVIII
EREXIT DU BUS
Prasasti ini tercantum di sebelah kiri pintu gerbang kanan Gedung Departemen Keuangan Lama. Batu tersebut merupakan batu terakhir pembangunan Gedung Departemen Keuangan. Setahun kemudian setelah selesainya bangunan gedung ini, dibelakang gedung ini ditanami berbagai macam tanaman-tanaman hias sebagai kebun-kebun botani, tetapi sangat disayangkan tanaman-tanaman yang indah itu akhirnya mati tiada bekas.
Dalam tahun 1835 dibagian ruangan bawah gedung ini pernah juga dipakai sebagai Kantor Pos dan juga Percetakan Negara, sedangkan pada bagian lain dipakai oleh Hoogerechtchef dan Algemene Secretarie. Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1848 gedung ini secara resmi dipakai Departemen Van Justitie (kehakiman) dan akhirnya gedung ini sekarang merupakan tempat di mana masalah-masalah Keuangan Negara diolah dan digarap. Tempat ini lalu dikenal sebagai Gedung Induk Departemen Keuangan. Dewasa ini bagian bawah gedung lama yang tadinya bekas tempat tahanan-tahanan di zaman Daendels, digunakan menjadi kantor Biro Umum Departemen Keuangan.
 
Sedangkan pada pusat dokumentasi/kepustakaan Departemen Keuangan tersimpan buku-buku, yaitu:
1. Staatblad Verenigde Nederlanden, Voor de Jare, 1813.
2. Almanak Van Nederlandsch Indie (Reg. Almanak), ‘s Lands drukkery Batavia, 1817.
3. Gedenkbock der Samarang-Joana, Stoomtran Maatschappij, 1907.
4. Het Moderne Geldwezeen door, S. Korteweg,ec. Drs,1952.
5. Het Belastingrecht deel III, Door Prof. Dr. P.J.A. Adriani, 1955.
 
4.3.2.4.2 Keadaan Fisik Bangunan
Arsitek gedung kesenian ini adalah para perwira militer, sedangkan pelaksanaan dan pembangunannya dipercayakan kepada perusahaan pemborong milik orang cina Firma Lie A Cie. Luas bangunan gedung tersebut berukuran 144 x 60 kaki atau 43 x 18 m dibangun dengan gaya campuran Ionic Romain dan Corinthian yang sedang trend pada saat itu.
Pengguna anonim