Coper, Jetis, Ponorogo: Perbedaan revisi

1.286 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
| kecamatan = Jetis
| kode pos = 63473
| luas = -<!--203,460 Belum diketahui -->Ha
| penduduk = -<!--2890 Belum diketahui -->jiwa
| kepadatan = -<!-- Belum diketahui -->
}}
[[Berkas:Balai desa Coper.jpg|thumb|300px|Balai desa Coper]]
'''Coper''' adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan [[Jetis, Ponorogo|Jetis]], Kabupaten [[Ponorogo]], [[Jawa Timur]]. Desa ini terletak pada koordinat 111°30’16‘’ - 111°30’49‘’ Bujur Timur dan 7°56’31‘’ - 7°57’28‘’ Lintang Selatan. Desa ini terdiri dari empat dukuh, delapan Rukun Warga dan 20 Rukun Tetangga. Sebagian besar penduduknya adalah petani, buruh tani, pedagang, dan kuli bangunan.<ref name="jetisdotorg">{{cite |url=http://www.jetis.org/2012/05/sejarah-desa-coper.html|title=Sejarah Desa Coper|publisher = Portal Kecamatan Jetis Ponorogo|date=[[Mei]] [[2012]]|accessdate=23 Mei 2014}}</ref>
 
== Sejarah ==
Sejarah dan asal-usul nama dari desa Coper memang tidak dapat diungkap secara jelas karena para narasumber yang memahami dan mengalami proses tersusunnya desa Coper saat ini telah tiada. Namun, sejarah desa Coper dapat dihimpun dari cerita-cerita sesepuh atau orang yang dianggap ada sangkut pautnya dengan desa sesuai dengan pemahaman dan pengertian masing-masing.
 
Menurut cerita masyarakat setempat, nama Coper diambil dari kata ''cuo'' dan ''lèmpèr'', ''cuo'' adalah sejenis mangkok yang terbuat dari tanah liat dan ''lèmpèr'' adalah sejenis piring yang terbuat dari tanah liat. Kedua barang tersebut adalah tempat makan dari seorang laki-laki yang membabat pertama kali desa '''Coper''' yang disebutkan bernama Haji Ngarpiyah. Haji Ngarpiyah adalah menantu dari Kyai Ishaq. Kyai Ishaq adalah anak dari [[Kyai Ageng Hasan Besari]] pemimpin [[Pesantren Tegalsari]] yang merupakan pesantren besar di Ponorogo pada masa itu. Kyai Ishaq menyusul menantunya Haji Ngarpiyah untuk membabat desa '''Coper''' sehingga menjadi pemukiman seperti sekarang ini.
 
Ada pula yang mengatakan nama Coper berasal dari sebuah kalimat ''eco ing lèmpèr''. Konon ceritanya Kyai Ishaq mempunyai 2 orang istri, salah satu diantaranya adalah putri dari Kanjeng Gading. Sewaktu pengantin baru dengan putri Kanjeng Gading, Kyai Ishaq dan istrinya selalu dikirim makanan dari Kanjeng Gading melalui abdi kinasihnya Kanjeng Gading. Makanan tersebut sambalnya selalu ditempatkan di ''lepek/lèmpèr''. Pada suatu hari tempat sambal tersebut diganti, lalu Kyai Ishaq berkata ''sambal itu sebenarnya lebih enak tetap ditempatkan di lèmpèr'' lalu abdi menjawab ''econipun wonten lèmpèr Kyai?'' Kyai menjawab ''Iya''. Setelah berpikir sejenak atas jawaban abdi kinasih tersebut di atas, maka Kyai Ishaq lalu berkata : Kalau begitu melihat kata ''eco ing lèmpèr'' apabila besuk tempat ini sudah ramai maka kami namakan '''DESA COPER'''.<ref name="jetisdotorg"/>
 
Konon, Masjid desa Coper yang bernama Masjid Al-Ishaq adalah [[Masjid Tegalsari]] pemberian dari Kyai Ageng Hasan Besari kepada anaknya Kyai Ishaq. Masjid ini dipindahkan dari Tegalsari ke desa Coper yang berjarak sekitar 5 km. Sebelum dipindahkan, [[Masjid Tegalsari]] dibangun kembali dan selesai dalam kurun waktu 8 tahun. Setelah [[Masjid Tegalsari]] selesai dibangun kembali, masjid yang lama dipindahkan dari desa Tegalsari ke desa Coper pada tahun [[1750]]. Dan [[Masjid Tegalsari]] yang sekarang berada di desa Tegalsari adalah masjid Tegalsari yang baru.
 
== Pemerintahan ==
Berikut nama-nama kepala desa Coper sejak tahun 1913:
{| {{prettytable}}
!colspan="6" style="background-color:#cfc;" | Kepala Desa Coper
|-style="background-color:#cfc;"
! No. !! Nama !! Dari !! Sampai !! Keterangan
|-
| 1. ||Suratman ||align="right" |[[1913]] ||align="right" | [[1942]] ||
|-
| 2. ||Moeljodihardjo ||align="right" |[[1942]] ||align="right" | [[1967]] ||
|-
| 3. ||Moh. Zaini ||align="right" |[[1967]] ||align="right" | [[1970]] ||
|-
| 4. ||Suhadi ||align="right" |[[1970 ]] ||align="right" | [[1973]] ||Penjabat Kepala Desa
|-
| 5. ||Pirnadi ||align="right" |[[1973 ]] ||align="right" | [[1978]] ||
|-
| 6. ||Anngam ||align="right" |[[1978]] ||align="right" | [[1988]] ||Penjabat Kepala Desa
|-
| 7. ||Subagyo ||align="right" |[[1988]] ||align="right" | [[1998]] ||
|-
| 8. ||Damanhuri ||align="right" |[[1998]] ||align="right" | [[2006]] ||
|-
| 9. ||Abdul Werner, SE. ||align="right" |[[2006]] ||align="right" | [[2007]] ||Penjabat Kepala Desa
|-
| 10. ||Damanhuri ||align="right" |[[2007]] ||align="right" | [[2013]] ||
|-
| 11. ||Nisfu Lailati ||align="right" |[[2013]] ||align="right" | sekarang ||
|-
| colspan="13" style="text-align:center;font-size:90%;"|<small>'''Sumber:'''[http://www.jetis.org/2012/05/sejarah-pemerintah-desa.html Portal Kecamatan Jetis]</small>
|}
 
== Dukuh ==
|barat=[[Mojomati, Jetis, Ponorogo|Desa Mojomati]]
}}
 
== Sejarah ==
Sejarah dan asal-usul nama dari desa Coper memang tidak dapat diungkap secara jelas karena para narasumber yang memahami dan mengalami proses tersusunnya desa Coper saat ini telah tiada. Namun, sejarah desa Coper dapat dihimpun dari cerita-cerita sesepuh atau orang yang dianggap ada sangkut pautnya dengan desa sesuai dengan pemahaman dan pengertian masing-masing.
 
Menurut cerita masyarakat setempat, nama Coper diambil dari kata ''cuo'' dan ''lèmpèr'', ''cuo'' adalah sejenis mangkok yang terbuat dari tanah liat dan ''lèmpèr'' adalah sejenis piring yang terbuat dari tanah liat. Kedua barang tersebut adalah tempat makan dari seorang laki-laki yang membabat pertama kali desa '''Coper''' yang disebutkan bernama Haji Ngarpiyah. Haji Ngarpiyah adalah menantu dari Kyai Ishaq. Kyai Ishaq adalah anak dari [[Kyai Ageng Hasan Besari]] pemimpin [[Pesantren Tegalsari]] yang merupakan pesantren besar di Ponorogo pada masa itu. Kyai Ishaq menyusul menantunya Haji Ngarpiyah untuk membabat desa '''Coper''' sehingga menjadi pemukiman seperti sekarang ini.
 
Ada pula yang mengatakan nama Coper berasal dari sebuah kalimat ''eco ing lèmpèr''. Konon ceritanya Kyai Ishaq mempunyai 2 orang istri, salah satu diantaranya adalah putri dari Kanjeng Gading. Sewaktu pengantin baru dengan putri Kanjeng Gading, Kyai Ishaq dan istrinya selalu dikirim makanan dari Kanjeng Gading melalui abdi kinasihnya Kanjeng Gading. Makanan tersebut sambalnya selalu ditempatkan di ''lepek/lèmpèr''. Pada suatu hari tempat sambal tersebut diganti, lalu Kyai Ishaq berkata ''sambal itu sebenarnya lebih enak tetap ditempatkan di lèmpèr'' lalu abdi menjawab ''econipun wonten lèmpèr Kyai?'' Kyai menjawab ''Iya''. Setelah berpikir sejenak atas jawaban abdi kinasih tersebut di atas, maka Kyai Ishaq lalu berkata : Kalau begitu melihat kata ''eco ing lèmpèr'' apabila besuk tempat ini sudah ramai maka kami namakan '''DESA COPER'''.<ref name="jetisdotorg"/>
 
Konon, Masjid desa Coper yang bernama Masjid Al-Ishaq adalah [[Masjid Tegalsari]] pemberian dari Kyai Ageng Hasan Besari kepada anaknya Kyai Ishaq. Masjid ini dipindahkan dari Tegalsari ke desa Coper yang berjarak sekitar 5 km. Sebelum dipindahkan, [[Masjid Tegalsari]] dibangun kembali dan selesai dalam kurun waktu 8 tahun. Setelah [[Masjid Tegalsari]] selesai dibangun kembali, masjid yang lama dipindahkan dari desa Tegalsari ke desa Coper pada tahun [[1750]]. Dan [[Masjid Tegalsari]] yang sekarang berada di desa Tegalsari adalah masjid Tegalsari yang baru.
 
== Penduduk ==
9.887

suntingan