Coper, Jetis, Ponorogo: Perbedaan revisi

1 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
k
Ada pula yang mengatakan nama Coper berasal dari sebuah kalimat ''eco ing lèmpèr''. Konon ceritanya Kyai Ishaq mempunyai 2 orang istri, salah satu diantaranya adalah putri dari Kanjeng Gading. Sewaktu pengantin baru dengan putri Kanjeng Gading, Kyai Ishaq dan istrinya selalu dikirim makanan dari Kanjeng Gading melalui abdi kinasihnya Kanjeng Gading. Makanan tersebut sambalnya selalu ditempatkan di ''lepek/lèmpèr''. Pada suatu hari tempat sambal tersebut diganti, lalu Kyai Ishaq berkata ''sambal itu sebenarnya lebih enak tetap ditempatkan di lèmpèr'' lalu abdi menjawab ''econipun wonten lèmpèr Kyai?'' Kyai menjawab ''Iya''. Setelah berpikir sejenak atas jawaban abdi kinasih tersebut di atas, maka Kyai Ishaq lalu berkata : Kalau begitu melihat kata ''eco ing lèmpèr'' apabila besuk tempat ini sudah ramai maka kami namakan '''DESA COPER'''.<ref name="jetisdotorg"/>
 
Konon, Masjid desa Coper yang bernama Masjid Al-Ishaq adalah [[Masjid Tegalsari]] pemberian dari Kyai Ageng Hasan Besari kepada anaknya KH.Kyai Ishaq. Masjid ini dipindahkan dari Tegalsari ke desa Coper yang berjarak sekitar 5 km. Sebelum dipindahkan, [[Masjid Tegalsari]] dibangun kembali dan selesai dalam kurun waktu 8 tahun. Setelah [[Masjid Tegalsari]] selesai dibangun kembali, masjid yang lama dipindahkan dari desa Tegalsari ke desa Coper pada tahun [[1750]]. Dan [[Masjid Tegalsari]] yang sekarang berada di desa Tegalsari adalah masjid Tegalsari yang baru.
 
== Penduduk ==
9.887

suntingan