Ismail Al-Khalidi Al-Minangkabawi: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
BP79Pandu (bicara | kontrib)
+isi
Tag: BP2014
BP79Pandu (bicara | kontrib)
+isi
Tag: BP2014
Baris 27:
Syeikh Ismail lahir di lingkungan keluarga yang taat beragama.<ref name="Ensiklopedi"/> Ia telah mendapat pendidikan agama sejak kanak-kanak.<ref name="Ensiklopedi"/> Setelah mengaji [[al-Qur'an]] di beberapa [[surau]] di kampungnya, kemudian ia mempelajari dasar-dasar ilmu keislaman melalui kitab-kitab berbahasa [[Bahasa Melayu|Melayu]] dan [[kitab kuning]] berbahasa [[Bahasa Arab|Arab]].<ref name="Ensiklopedi"/> Berbagai bidang keilmuan Islam yang ia pelajari meliputi ilmu fikih, [[tauhid]], [[tafsir]], [[hadits]], dan ilmu alat ([[bahasa Arab]], [[Ilmu nahwu|nahwu]], [[sharaf]], [[balaghah]]).<ref name="Ensiklopedi"/>
 
Selanjutnya, ia pergi ke [[Mekah]] untuk menunaikan [[Haji|ibadah haji]] sekaligus untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman yang sebelumnya ia dapatkan.<ref name="Ensiklopedi"/> Di samping itu, ia juga sempat belajar di [[Madinah]] selama lima tahun.<ref name="academia">[http://www.academia.edu/6609095/SEJARAH_KEMASUKAN_TAREKAT_DI_MALAYSIA www.academia.edu: Sejarah Kemasukan Tarekat di Malaysia]. Diakses 3 Mei 2014</ref>
 
Di Mekah, Syeikh Ismail berguru kepada beberapa ulama besar yang memiliki keahlian pada masing-masing bidangnya.<ref name="Ensiklopedi"/> Ia mempelajari ilmu kalam kepada Syeikh Muhammad Ibnu 'Ali Assyanwani,seorang ulama besar ahli ilmu kalam.<ref name="Ensiklopedi"/> Di bidang ilmu fikih, ia belajar kepada Syeikh al-Azhar dan Syeikh Abdullah asy-Syarqawi, keduanya terkenal sebagai ulama ahli fikih dari [[mazhab Syafi'i]].<ref name="Ensiklopedi"/> Syeikh Ismail juga mempelajari ilmu tasawuf kepada dua orang [[sufi]] besar bernama Syeikh 'Abdullah Afandi dan Syeikh Khalid al-Utsmani al-Kurdi (Syeikh Dhiyauddin Khalid).<ref name="Ensiklopedi"/> Keduanya merupakan mursyid (guru pembimbing rohani) tarekat Naqsyabandiyah.<ref name="Ensiklopedi"/>
 
SepulangSetelah belajar dari Mekah selama 30 tahun, ia pulang dan memulai penyebaran ajaran tarekat ini dari kampung halamannya, [[Simabur, Pariangan, Tanah Datar|Simabur]], [[Kabupaten Tanah Datar|Tanah Datar]], Minangkabau.<ref name="academia"/> Ajaran Tarekat Syeikh Ismail kemudian menyebar dan berkembang ke luar Minangkabau, seperti [[Riau]], [[Kerajaan Langkat]] serta [[Deli]], dan berlanjut sampai ke [[Kesultanan Johor]].<ref name="academia"/><ref>[http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/12/m2cl0x-ini-dia-dua-tarekat-tasawuf-yang-ditakuti-penjajah-belanda ''Ini Dia Dua Tarekat Tasawuf yang Ditakuti Penjajah Belanda''] www.republika.co.id, 12 April 2012. Diakses 18 Agustus 2013.</ref>
 
 
Sepulang belajar dari Mekah selama 30 tahun, ia memulai penyebaran ajaran tarekat ini dari kampung halamannya, [[Simabur, Pariangan, Tanah Datar|Simabur]], [[Kabupaten Tanah Datar|Tanah Datar]], Minangkabau. Ajaran Tarekat Syeikh Ismail kemudian menyebar dan berkembang ke luar Minangkabau, seperti [[Riau]], [[Kerajaan Langkat]] serta [[Deli]], dan berlanjut sampai ke [[Kesultanan Johor]].<ref name="academia"/><ref>[http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/12/m2cl0x-ini-dia-dua-tarekat-tasawuf-yang-ditakuti-penjajah-belanda ''Ini Dia Dua Tarekat Tasawuf yang Ditakuti Penjajah Belanda''] www.republika.co.id, 12 April 2012. Diakses 18 Agustus 2013.</ref>
 
== Rujukan ==