Buka menu utama

Perubahan

1 bita ditambahkan, 5 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-diluar +di luar)
Walaupun orang yang mengaku sebagai ateis biasanya diasumsikan tak beragama, beberapa sekte agama tertentu pula ada yang menolak keberadaan dewa pencipta yang personal.<ref name="winston2">{{cite book |last=Winston |first=Robert (Ed.) |title=Human |publisher=New York: DK Publishing, Inc |year=2004 |isbn=0-7566-1901-7 |pages=hal. 299 | quote=Nonbelief has existed for centuries. For example, Buddhism and Jainism have been called atheistic religions because they do not advocate belief in gods.}}</ref> Pada akhir-akhir ini, aliran-aliran keagamaan tertentu juga telah menarik banyak penganut yang secara terbuka ateis, seperti misalnya Yahudi ateis atau Yahudi humanis<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/judaism/subdivisions/humanistic.shtml |title=Humanistic Judaism |date=2006-07-20 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite journal |last=Levin |first=S. |year=1995 | month = May |title=Jewish Atheism | journal = New Humanist | volume = 110 | issue = 2 |pages=13–15}}</ref> dan Kristen ateis.<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/atheism/types/christianatheism.shtml |title=Christian Atheism |date=2006-05-17 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite book |last=Altizer |first=Thomas J. J. | authorlink = Thomas J. J. Altizer |title=The Gospel of Christian Atheism |url=http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=523 |accessdate=2006-10-27 |year=1967 |publisher=London: Collins |pages=102–103}}</ref><ref>{{cite journal |last=Lyas |first=Colin |year=1970 | month = January |title=On the Coherence of Christian Atheism | journal = Philosophy: the Journal of the Royal Institute of Philosophy | volume = 45 | issue = 171 |pages=1–19}}</ref>
 
Dikarenakan artian paling kaku ateisme positif tidak memerlukan kepercayaan spesifik apapun diluardi luar ketidakpercayaan pada dewa/tuhan, ateis dapat memiliki kepercayaan spiritual apapun. Untuk alasan yang sama pula, para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari [[universalisme moral]] [[humanisme]], yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, sampai dengan [[nihilisme moral]], yang berpendapat bahwa moralitas adalah hal yang tak berarti.<ref>{{harvnb|Smith|1979|pp=21-22}}.</ref>
 
Walaupun ia merupakan kebenaran filosofis, yang secara ringkas dipaparkan dalam karya Plato [[dilema Euthyphro]] bahwa peran tuhan dalam menentukan yang benar dari yang salah adalah tidak diperlukan maupun adalah sewenang-wenang, argumen bahwa moralitas haruslah diturunkan dari Tuhan dan tidak dapat ada tanpa pencipta yang bijak telah menjadi isu-isu yang terus menerus muncul dalam debat politik.<ref>{{harvnb|Smith|1979|p=275}}. "Among the many myths associated with religion, none is more widespread -or more disastrous in its effects -than the myth that moral values cannot be divorced from the belief in a god."</ref><ref>In [[Dostoevsky]]'s ''[[The Brothers Karamazov]]'' (Book Eleven: ''Brother Ivan Fyodorovich'', Chapter 4) there is the famous argument that ''If there is no God, all things are permitted.'': "'But what will become of men then?' I asked him, 'without God and immortal life? All things are lawful then, they can do what they like?'"</ref><ref name = "Kant CPR A811">For [[Kant]], the presupposition of God, soul, and freedom was a practical concern, for "Morality, by itself, constitutes a system, but happiness does not, unless it is distributed in exact proportion to morality. This, however, is possible in an intelligible world only under a wise author and ruler. Reason compels us to admit such a ruler, together with life in such a world, which we must consider as future life, or else all moral laws are to be considered as idle dreams..." (''Critique of Pure Reason'', A811).</ref> Persepsi moral seperti "membunuh adalah salah" dilihat sebagai hukum Tuhan, yang memerlukan pembuat hukum dan hakim. Namun, banyak ateis yang berargumen bahwa memperlakukan moralitas secara legalistik adalah [[analogi salah]], dan bahwa moralitas tidak seperlunya memerlukan seorang pencipta hukum sama halnya hukum itu sendiri.<ref>{{harvnb|Baggini|2003|p=38}}.</ref>
597.255

suntingan