Jayabaya: Perbedaan revisi

5.431 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari [[Surakarta]] bernama [[Ranggawarsita]] sering disebut sebagai penulis naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]]. Akan tetapi, [[Ranggawarsita]] biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah [[Ramalan Jayabaya]] pada umumnya bersifat anonim.
 
Ramalan Prabu Jayabaya
 
<strong>Ramalan Jayabaya</strong>,
adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa di masa datang.
Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh
bencana.
 
Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut
<nowiki> </nowiki>dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa
kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik
berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.
 
Tapi, setelah masa
yang paling berat itu, akan datang jaman baru, jaman yang penuh
kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan jaman baru itu
akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit.
 
Ramalan
<nowiki> </nowiki>Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil
dan bijaksana di Mataram. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159).
Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan
banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya. Bung Karno pun juga
merasa perlu berkomentar tentang ramalan ini.
 
“Tuan-tuan
Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu
datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari
ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati
rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu,
mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam
kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap
“Kapan, kapankah Matahari terbit?”.
 
Sukarno, 1930, Indonesia Menggugat
 
Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan sekarang. Diantaranya :
 
1.
<nowiki> </nowiki>Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh
<nowiki> </nowiki>dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara ( jaman penjajahan ).
 
2.
<nowiki> </nowiki>“kreto mlaku tampo jaran”, “Prau mlaku ing nduwur awang-awang”, kereta
tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat
terbang?)
 
3. Datangnya jaman penuh bencana di Nusantara
(Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo, gempa 7 x
sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.
 
4. Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, “Akeh udan salah mongso”, datangnya masa dimana hujan salah musim.
 
Nah,
<nowiki> </nowiki>naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan
sejak ratusan tahun lalu. Diantaranya oleh Ibnu Khaldun (Muqaddimah,
1337, Wikipedia<nowiki> </nowiki>: Ibn Khaldun), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee
<nowiki> </nowiki>(A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia
atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa
belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.
 
Bagaimana dengan Satria Piningit ?
 
Banyak
<nowiki> </nowiki>juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa
perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut “Promethean”,
diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api
(pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities.
Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang
<nowiki> </nowiki>yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada
<nowiki> </nowiki>bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa
banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan
lanjutan pidato Bung Karno ini<nowiki> </nowiki>:
 
“Selama kaum intelek
Bumiputra belum bisa mengemukakan keberatan-keberatan bangsanya, maka
perbuatan-perbuatan yang mendahsyatkan itu (pemberontakan) adalah
pelaksanaan yang sewajarnya dari kemarahan-kemarahan yang disimpan …
terhadap usaha bodoh memerintah rakyat dengan tidak memperhatikan dengan
<nowiki> </nowiki>sungguh-sungguh keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan
mereka…”
 
Satria piningit, adalah orang-orang yang peduli pada
bangsanya, berilmu tinggi, dan telah memutuskan untuk berbuat sesuatu.
Merekalah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan
akhirnya membangkitkan peradaban.
 
Di jaman kegelapan,
selalu ada saja orang yang belajar. Diantara banyak orang lupa, selalu
ada saja orang baik. Bahkan walau cuma satu orang. Kadang, kerusakan itu
<nowiki> </nowiki>justru membakar jiwanya untuk berbuat sesuatu. Belajar, Berjuang,
Berkorban. Seperti Nabi Muhammad yang melihat bangsanya hancur, atau
Sukarno yang melihat bangsanya diinjak-injak. Mereka lalu berjuang
menyelamatkan bangsanya. Promethean, Ratu Adil yang mendatangkan zaman
kebaikan.
 
Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara
ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur,
dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa
lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak
lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini
juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di
saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga
Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.
 
Percaya
<nowiki> </nowiki>atau tidak ? Anda tidak perlu percaya, tidak perlu tidak percaya.
Bagaimanapun ini adalah cerita yang penuh pesan. Belipit, Ornot
 
Terima kasih telah membaca artikel Ramalan Jayabaya.
 
http://www.satriamataram.com
== Kepustakaan ==
* Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. ''Sejarah Nasional Indonesia Jilid II''. Jakarta: Balai Pustaka
Pengguna anonim