Khairul Saleh: Perbedaan revisi

9.320 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k
{{rapikan}}{{Infobox Officeholder
|name = Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah
|image = Sultan Khairul SalehSultan2.jpg
|imagesize =
|caption =
|successor =
|appointed =
|lieutenant = [[Hatim Salman]] (periode 1)<br />[[Ahmad Fauzan Saleh]] (periode 2)
|birth_date = {{Birth date and age|1964|1|5|mf=y}}
|birth_place = {{negara|Indonesia}} [[Kabupaten Tabalong|Tabalong]], [[Kalimantan Selatan]]
|footnotes =
}}
'''[[Yang Dipertuan Agung]] Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah'''<ref>{{en}}[http://www.worldstatesmen.org/Indonesia_princely_states2.html#Banjarmasin Daftar Sultan Banjar dalam Indonesian Traditional States II] </ref><ref>http://www.radarbanjarmasin.co.id/berita/detail/60665/sultan-banjar-dan-kerapatan-borneo.html</ref>
'''Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah''' (sebelumnya bergelar '''Ir. Haji Gusti Khairul Saleh''' – {{lahirmati|[[Kabupaten Tabalong|Tabalong]]|5|1|1964}}) adalah bupati [[Kabupaten Banjar|Banjar]] saat ini.<ref>[http://id3.banjarkab.go.id/profil-2/profil-bupati-banjar/ ''Profil Bupati Banjar''] - Situs Resmi Pemkab Banjar, Diakses 27 Desember 2013.</ref> Ia menjabat sebagai Bupati Banjar sejak tahun [[2005]] (berpasangan dengan Hatim Salman) setelah memenangkan pilkada Banjar tahun itu dan menjabat selama 5 tahun.<ref>[http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=125156 Suara Karya - Komitmen Terhadap Gerakan Disiplin Mandiri]. Diakses 14 Agustus 2010</ref> Kemudian, Khairul Saleh mencalonkan kembali menjadi Bupati Banjar dan berpasangan dengan [[Ahmad Fauzan Saleh]] dalam [[Pilkada di Kalimantan Selatan 2010#Kabupaten Banjar 2|Pilkada Banjar 2010]]. Khairul terpilih kembali menjadi Bupati Banjar untuk masa jabatan [[2010]]-[[2015]].
 
Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah terlahir dengan nama Gusti [[Khairul Saleh]], adalah dzuriat dari Pangeran Singosari bin [[Sulaiman dari Banjar|Sultan Sulaiman Al-Mu'tamidillah]]. Lahir di [[Kabupaten Tabalong|Tabalong]], [[Kalimantan Selatan]], 19 Sya'ban 1383 H, ( 5 Januari 1964).
 
Putra dari pasangan H. Pangeran Jumberi dan Hj Kartinah ini sejak masa anak-anak dikenal para kerabat orangtuanya sebagai anak yang santun dan cerdas. Jika Dia bertanya tidak akan tuntas hanya dengan satu jawaban, akan terangkai pertanyaan-pertanyaan lainnya. Karakter ini melekat erat hingga dewasa.
 
Perhatian dan kepedulian Gusti [[Khairul Saleh]] dengan kerabat, keluarga termasuk para dzuriat sangat kental. Ini terlihat dari pembawaan Gusti [[Khairul Saleh]] muda yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menggali lebih jauh tentang dzuriat, kerabat dan keluarganya.
 
Kuatnya perhatian dan kepedulian Gusti [[Khairul Saleh]] dengan kerabat, keluarga termasuk para dzuriat mendorongnya menginventarisir silsilah keluarga dan kekerabatannya. Gusti [[Khairul Saleh]] melakukan penelitian mandiri untuk merangkai benang sisilah keluarga dan kerabat. Salah seorang tokoh akademisi yang menjadi mentor dan paling sering diminta pendapat adalah almarhum Prof. Dr. H. [[Alfani Daud]], MA, Guru Besar Antropologi Budaya Pascasarjana [[IAIN Antasari]] [[Banjarmasin]]. Dari hasil penelitian dapat disusun silsilah keluarga dengan aplikasi Family Tree Maker.
 
Dalam perjalanan karirnya Gusti [[Khairul Saleh]] menjadi birokrat di pemerintahan. Berbekal pendidikan Sarjana Teknis Sipil dari Fakultas Teknik Universitas [[Lambung Mangkurat]] ia diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) Departemen Pekerjaan Umum Kota [[Banjarmasin]] pada tahun 1992.
 
Di lingkungan kerjanya Gusti [[Khairul Saleh]] dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia selalu melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Berkat kerja keras dan dedikasinya ia mendapat penghargaan kenaikan pangkat istimewa dari, H. Sofyan Arpan, Walikota Banjarmasin kala itu.
 
Wujud prestasi hasil kerja keras dan dedikasi Gusti [[Khairul Saleh]] antara lain keberhasilannya menyelesaikan program [[Bank Dunia]] tiga tahun lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan. Dengan pendekatan crash program, Program [[Bank Dunia[[ berupa Kalimantan Urban Development Project untuk sektor Urban Road bisa diselesaikan dalam waktu empat tahun dari target tujuh tahun yang ditetapkan.
 
Pembangunan infrastruktur publik di Kota [[Banjarmasin]] makin kencang dilakukan Gusti [[Khairul Saleh]] setelah pada tahun [[2004]] ia diberi amanah untuk menduduki jabatan Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Kota. Sehingga tak heran bagi masyarakat Kota Banjarmasin, sosok Suami Dra. Hj. Raudatul Jannah,M.Si dan ayah dari H. Gusti Dhia serta Hj. Gusti Dhia Karima sangat dekat di hati masyarakat.
 
Dengan jabatan yang diberikan kepadanya itu semakin banyak karya yang dibuatnya. Karya-karya tersebut antara lain menggagas dan mewujudkan pembangunan berbagai sarana infrastruktur publik strategis seperti pembangunan jalan, jembatan, pembangunan drainase dan rintisan kota berkembang baru di Kota [[Banjarmasin]]. Pelebaran dan pembangunan jembatan beton Jalan [[Jafri Zamzam]], Pembangunan Jembatan Rangka Baja di Kelurahan [[Alalak]], yang menghubungkan Kelurahan [[Alalak]] dengan Kelurahan [[Kuin]], Pembangunan Jembatan Pertamina [[Kuin]] dan peletakan batu pertama Pembangunan Jembatan RK Ilir [[Kelayan]] Luar sebagai solusi meretas kemacetan lalu lintas Selatan Kota [[Banjarmasin]].
 
Di bidang pelayanan air bersih, Gusti [[Khairul Saleh]], mempelopori upaya peningkatan kapasitas layanan PDAM yakni dengan melaksanakan pembangunan Intake [[Sungai Tabuk]] berkapasitas 1.200 meter kubik perdetik pada tahun 2003/2004. Dengan terbangunnya Intake tersebut maka PDAM [[Bandarmasih]] menjadi PDAM terbaik di Indonesia, dengan tercapainya cakupan pelayanan sebesar 98%.
 
'''Menjadi [[Bupati]] [[Banjar]]'''
 
Sukses meniti karir sebagai birokrat dilambari pengalaman, relasinya yang cukup luas dan didukung kesantunan pribadi Gusti Khairul Saleh dipilih menjadi Bupati [[Banjar]]. Bersama pasangannya Tuan Guru H [[Hatim Salman]], Lc, ia terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Banjar Periode [[2005]]-[[2010]].
 
Sebagai seorang Kepala Daerah, Gusti [[Khairul Saleh]], membuktikan kemampuannya. Dengan kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas untuk kesejahteraan masyarakat ia telah berhasil membangun Kabupaten [[Banjar]].
 
Karena keberhasilannya itu maka masyarakat memilih Gusti [[Khairul Saleh]] sebagai Bupati [[Banjar]] untuk kedua kalinya, yakni periode 2010-2015. Kali ini Gusti [[Khairul Saleh]] berpasangan dengan Drs. H [[Akhmad Fauzan Saleh]], M.Ag.
 
Pada periode kedua, pembangunan Kabupaten [[Banjar]] semakin pesat. Hasil-hasil pembangunan, baik fisik maupun non fisik terus mengalami peningkatan. Pembangunan fisik jalan dan jembatan, terlebih untuk kawasan perdesaan melalui pembangunan jalan-jalan poros desa. Jembatan yang dulu sebagian besar terbuat dari kayu ulin dan kondisinya memprihatinkan, kini lebih kokoh dengan konstruksi baja maupun beton.
 
Infrastruktur publik lainnya yang menjadi perhatian khusus dari Gusti [[Khairul Saleh]] adalah kantor pemerintahan. Khususnya Kantor Kepala Desa atau disebut juga Kantor Pambakal. Ia menyadari betapa pentingnya Pemerintahan Desa sebagai ujung tombak pelayanan Pemerintah Daerah, sementara tidak semua desa di Kabupaten [[Banjar]] memiliki kantor dan jika memiliki pun kondisinya banyak yang memprihatinkan. Dengan program khusus tidak ada lagi kepala desa atau pembakal di Kabupaten [[Banjar]] yang tidak memiliki kantor.
 
Peningkatan kualitas pelayanan-pelayanan dasar lainnya terus dipacu oleh Gusti [[Khairul Saleh]] seperti pembangunan puskesmas, poliklinik desa, sekolah dan prasarana pendidikan lainnya.
Karya pembangunan monumental lain oleh Bupati Gusti [[Khairul Saleh]] adalah kesuksesannya membangun Stadion [[Demang Lehman]] yang berstandar nasional. Stadion [[Demang Lehman]] dipercaya untuk digunakan untuk pelaksanaan laga sepak bola nasional Indonesia Super League ([[ISL]]) 2013. Dan Kabupaten [[Banjar]] khususnya Kota [[Martapura]] semakin dikenal oleh masyarakat [[Indonesia]].
 
Sarana prasarana publik yang cukup besar antara lain juga Gedung Dekranasda, Guest House Sultan Sulaiman, Pengembangan RSUD [[Ratu Zalecha]], pembangunan Gedung Iqra yang direncanakan sebagai tempat pengkajian Alquran dan syiar [[Islam]] dan pembangunan Taman Terbuka Hijau atau Alun Alun [[Ratu Zalecha]] sebagai salah satu bentuk upaya perbaikan lingkungan hidup dan fasilitas rekreasi masyarakat Kota [[Martapura]].
 
Gusti [[Khairul Saleh]] mencanangkan gagasan pengembangan wilayah kota [[Martapura]] ke arah Timur, dengan direncanakannya pemindahan Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten [[Banjar]] di kawasan baru yang dinamakan beliau [[Martapura]] Jadid. [[Martapura]] Jadid akan menjadi menjadi bukti betapa visi pembangunan Gusti [[Khairul Saleh]] meliputi seluruh kegiatan pembangunan fisik maupun non fisik.
 
[[Martapura]] Jadid merupakan tonggak awal perkembangan Kota [[Martapura]], yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan perencanaan tata ruang (eco-friendly and spatial based city development). Didirikan diatas lahan seluas 100 Ha, yang berada di Kecamatan [[Martapura]] dan Kecamatan [[Karang Intan]]. Konsep [[Martapura]] Jadid mengacu pada kehidupan masyarakat [[Banjar]] yang akrab dengan air, dengan luasan ruang terbuka hijau yang melebihi 50% luas kawasan komplek perkantoran, meliputi danau, kanal, dan hutan kota serta taman.
 
Di era kepemimpinannya, Kota Martapura berhasil meraih anugerah nasional untuk bidang kebersihan yaitu [[Adipura]] [[2012]] untuk Kategori Kota Kecil. Penghargaan ini juga membuktikan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup. Penghargaan Adipura memang tidak mudah didapat dan hanya pada masa kepemimpinan Gusti Khairul Saleh penghargaan ini bisa diraih.
 
 
Menjadi [[Sultan]] [[Banjar]]
 
Berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi sosial kultural masyarakat yang terancam kehilangan jati diri, apalagi bagi masyarkat Banjar atau Urang [[Banjar]], mendorong Gusti [[Khairul Saleh]] berfikir keras mencari solusi dengan pendekatan yang tepat. Kekaguman dan ketertarikannya terhadap budaya dan sejarah [[Banjar]] membuatnya berfikir tentang perlu dibangkitkannya kembali Kesultanan Banjar sebagai akar budaya dan sejarah Urang [[Banjar]]. [[Kesultanan Banjar]] hanya menjadi sejarah semenjak dibubarkan pemerintah kolonial [[Belanda]] 152 tahun yang lalu.
 
Budaya [[Banjar]] yang berakar pada Kesultanan [[Banjar]] telah lama tertidur, untuk itu harus dibangunkan dan dipelihara sebagai benteng kearifan budaya lokal menghadapi derasnya budaya global. Menurut Pria murah senyum ini Kesultanan [[Banjar]] ini hanya sebagai simbol budaya, identitas dan pemersatu orang [[Banjar]]. Sejak [[Kesultanan Banjar]] dibubarkan oleh Pemerintah Kolonial [[Belanda]], Urang [[Banjar]] tidak lagi memiliki wadah berhimpun yang menjadi ikon budaya dan perwujudan indentitas.
 
Upaya Gusti [[Khairul Saleh]] ini mendapat dukungan dari para tetuha (tokoh dan kaum tua) dan mengisitilahkan upaya ini sebagai upaya “maangkat batang nang tarandam” (mengangkat batang kayu yang terendam) sebagai personifikasi mengangkat budaya, adat dan tradisi yang tenggelam.
 
Mewujudkan keinginan luhur ini tidaklah mudah. Namun dengan tekad dan upaya yang tidak kenal menyerah Gusti Khairul Saleh berhasil menjalin kerja sama dengan sejumlah tokoh, khususnya kerabat Kesultanan [[Banjar]] yang tersebar tidak hanya di Kalsel tetapi juga di berbagai penjuru Indonesia dan bahkan mancanegara.
 
Maka melalui musyawarah Tinggi Adat, para zuriat yang tergabung dalam Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar ([[LAKKB]]), di Hotel [[Arum Banjarmasin]], 24 Juli 2010. Musyawarah membai’at dan menganugerahkan gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan [[Banjar ]] kepada H. Gusti [[Khairul Saleh]].
 
Dengan status dan gelarnya sebagai Raja Muda, Pangeran [[Khairul Saleh]] terus menjalin silaturahmi dengan tokoh-tokoh raja dan sultan se-[[Nusantara]]. Baik melalui forum komunikasi kekerabatan ditingkat nasional maupun internasional. Silaturahmi internasional antara lain pentas kesenian budaya Banjar pada acara [[Tong-Tong]] Fair, [[Denhaag]], [[Belanda]] di bulan Mei 2011. Ini terselenggara atas undangan Kementerian Budaya dan Pariwisata RI kepada Delegasi Seni Budaya [[Kesultanan Banjar]]. Karena dinilai sukses maka Pemerintah Pusat melalui Kementerian Budaya dan Pariwisata RI kembali meminta [[Kesultanan Banjar]] tampil pada acara yang sama bulan Mei 2012.
 
Tekad dan ketulusan Gusti [[Khairul Saleh]] dalam upaya pelestarian adat dan tradisi budaya Banjar membuat sosok pria rendah hati ini makin terkenal di kancah nasional maupun internasional sebagai salah satu tokoh pelestari budaya nasional. Atas dasar kerja kerasnya dalam melestarikan kearifan budaya lokal, melalui Rapat Dewan Mahkota [[Banjar]] yang terdiri dari para tokoh adat dan tetuha dzuriat [[Kesultanan Banjar]], bertepatan dengan peringatan puncak Milad ke- 508 [[Kesultanan Banjar]], Pangeran H. [[Khairul Saleh]] dinobatkan sebagai Sultan [[Banjar]]. Tepatnya pada November 2012, dengan nama dan gelar kesultanan [[Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah]] zuriat dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman.
 
Sebagai catatan, pada masa kemelut [[Perang Banjar]], hanya Pangeran Singosari (saudara Sultan Adam) dan Pangeran Surya Mataram (anak [[Sultan Adam]]) yang masih dipercaya oleh rakyat [[Banjar]] sebagai tempat mengadukan segala permasalahan pada masa itu. Pangeran Singosari merupakan "perwakilan" [[Kesultanan Banjar]] di Banua Lima.
 
Meski dilantik sebagai Bupati Banjar untuk kedua kalinya, namun Khairul Saleh akan dilantik dengan nama berbeda dibanding lima tahun sebelumnya. Jika pada periode pertama pemerintahannya ia menggunakan nama '''H. Gusti Khairul Saleh''', maka pada periode kedua ini, nama resminya menjadi '''Pangeran H. Khairul Saleh'''. Hal ini menyusul terpilihnya dia sebagai Raja Muda Banjar pada Musyawarah Tinggi Adat Kesultanan Banjar di Hotel Arum Banjarmasin, [[24 Juli]] [[2010]]. Ia dianugerahi gelar ''Pangeran'' oleh pemangku adat yang berasal dari 13 kabupaten/kota di Kalsel.<ref>[http://www.radarbanjarmasin.co.id/index.php/berita/detail/59/4131 Radar Banjarmasin - Khairul Pakai Nama Baru]. Diakses 11 Agustus 2010</ref><ref>http://mirror.unpad.ac.id/koran/mediaindonesia/2010-12-14/mediaindonesia_2010-12-14_009.pdf</ref>Sejak hari Minggu, 25 November 2012, bersamaan dengan pelaksanan Milad Kesultanan Banjar ke-508, namanya menjadi Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah.<ref>http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/11/25/gelar-khairul-saleh-berubah-jadi-sultan-banjar</ref><ref>[http://www.antaranews.com/berita/345233/khairul-saleh-dikukuhkan-jadi-sultan-banjar Khairul Saleh dikukuhkan jadi Sultan Banjar ]</ref>
<!--
Gusti Khairul Saleh adalah anak dari Gusti Jumri Bin Gusti Umar bin Pangeran Haji Abubakar bin Pangeran Singosari Bin [[Sulaiman_dari_Banjar|Soeltan Soelaiman (Sulaiman Saidullah II/Sulaiman al-Mu'tamidullah)]] bin [[Sultan_Tahmidullah_II|Sultan Tahmidillah/ Tahmidullah II (Pangeran Nata Dilaga/Panembahan Batuah)]]. Gusti Khairul Saleh dilantik sebagai Pangeran dan dinobatkan sebagai Raja Muda Banjar oleh Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar pada tanggal 24 Juli 2010 dalam sebuah Musyawarah Tinggi Adat yang dilaksanakan di Kota [[Banjarmasin]].
-->
== Riwayat ==
* SLTP : ST Negeri Banjarmasin / SMPN (1979)
* SLTA : STMN Banjarmasin, Banjarmasin (1982)
* S1 : Sarjana Fakultas TeknikTeknis UNLAM, Banjarmasin (1989)
* S2 : Pasca Sarjana STIE IPWI, Jakarta (1998)