Tradisi mengikat kaki: Perbedaan antara revisi

564 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
k (Bot: Migrasi 26 pranala interwiki, karena telah disediakan oleh Wikidata pada item d:Q498231)
 
Dinasti Qing merupakan dinasti pertama yang mengeluarkan peraturan larangan terhadap tradisi ini. Namun karena kuatnya akar tradisi ini di kalangan suku Han, maka larangan ini tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Wanita dari beberapa kalangan seperti etnis Hakka yang diharuskan turun ke ladang untuk bercocok tanam tidak melaksanakan tradisi ini. Wanita dari suku Manchu juga tidak menerapkan tradisi ini secara luas.
 
Di Cina bagian selatan, wanita [[suku Hui]] yang beragama Islam dilarang melakukan tradisi mengikat kaki oleh imam setempat karena dianggap menyalahi ciptaan tuhan.<ref>{{cite book|url=http://books.google.com/books?id=fpcuAAAAYAAJ&q=mohammedan#v=snippet&q=mohammedan&f=false|title=The religions of China: Confucianism and Tâoism described and compared with Christianity|author=James Legge|year=1880|publisher=Hodder and Stoughton|location=LONDON|page=111|isbn=|pages=|accessdate=June 28, 2010}}(Original from Harvard University)</ref>
 
Sebelumnya, di zaman Dinasti Song dan [[Dinasti Ming|Ming]], ada beberapa sastrawan dan cendekiawan menyatakan keberatan mereka atas tradisi ini dalam beberapa tulisan sastra.
 
Setelah jatuhnya Dinasti Qing dan berdirinya [[Republik Cina]] pada tahun [[1911]], tradisi ini mulai ditinggalkan oleh wanita di kota besar di pesisir. Ini kemudian pelan-pelan menjalar ke pedalaman. Sampai pada tahun 1950-an, hanya tinggal beberapa dusun di [[Yunnan]] di mana kaum wanitanya masih menerapkan tradisi ini.
 
==Referensi==
{{reflist}}
 
Di [[Taiwan]] sendiri, sewaktu zaman pendudukan [[Jepang]], tradisi ini bersama dengan tradisi [[toucang]] dan mengisap [[candu]] dianggap sebagai 3 tradisi tidak sehat yang dilarang secara ketat.
Pengguna anonim