Buka menu utama

Perubahan

3 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
 
==Batara Guru dalam mitologi Batak==
Batara Guru adalah salah satu dari [[Debata na Tolu]] (Dewata Tritunggal) yang menguasai [[Banua Ginjang]] (dunia atas, kediaman para dewa). Ia dan saudara-saudaranya -Debata Sori Pada dan Debata Mangala Bulan- terlahir dari tiga butir telur yang dierami seekor ayam betina raksasa, [[Manuk Patia RajaPatiaraja]], sesosok [[awatara]] dari Debata Asi Asi. Ia menikahi seorang dewi bernama Siboru Porti Bulan dan memiliki dua putra (Mula Songta dan Mula Songti) serta dua putri (Siboru Sorba Jati dan Siboru Deak Parujar). Siboru Deak Parujar selanjutnya menikahi Siraja Odap Odap dan melahirkan keturunan yang menjadi leluhur umat manusia yang tinggal di [[Banua Tonga]] (dunia tengah, yaitu Bumi).<ref name=Doniger>{{cite book|url=http://books.google.com/books?id=r4I-FsZCzJEC&pg=PA163&lpg=PA163 |pages=161–170, 179 |chapter=Divine Totality and Its Components: The Supreme Deity, the Divine Couple, and the Trinity in Indonesian Religions |title=Asian Mythologies |editors=Wendy Doniger, Yves Bonnefoy |edition=2d |publisher=University of Chicago Press |year=1993 |isbn=0226064565}}</ref>
 
[[Mulajadi na Bolon]] yang maha kuasa memberi Batara Guru kebijaksanaan, hukum peradilan, hukum kerajaan, pengetahuan, dan kemampuan untuk mengontrol takdir serta nasib umat manusia. Wilayahnya meluas dari Bukit Siunggas ke Bukit Parsambilan, termasuk surga bertingkat tujuh dimana pohon suci Hari Ara tumbuh. Batara Guru digambarkan mengenakan jubah hitam serta [[sorban]] berbentuk kapal besar dengan tiga warna yang disebut "Talungkup". Ia mengendarai kuda hitam dan di tangannya membawa timbangan yang disebut "Gantang Tarajuan". Ia memiliki seekor [[gagak]] berwarna hitam dan burung Nanggar Jati. Ia juga memiliki kemampuan untuk memberi kehidupan pada umat manusia serta membuka telinga mereka sehingga mereka dapat membedakan kata-kata baik dan jahat.(source: [http://batakone.wordpress.com/perjalanan-spiritual-ke-tanah-batak/cerita-dulu/ Mythology of Batak (Indonesian pages)])
7.257

suntingan