Bahasa Jawa Muria: Perbedaan revisi

105 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
k
wikify
 
k (wikify)
'''Dialek Pantai Utara Timur''' [[Jawa Tengah]] adalah sebuah dialek [[bahasa Jawa]] yang sering disebut '''dialek Muria''' karena beradadituturkan di wilayah sekitar kaki [[gunung Muria]], yang meliputi wilayah Jepara, Kudus, Pati, Blora , Rembang.
 
Ciri khas dialek ini adalah digunakannya akhiran -em (dengan e pepet) menggantikan akhiran -mu dalam bahasa Jawa untuk menyatakan kata ganti posesif orang kedua tunggal. Jadi kata "bukuem" berarti "bukumu", "montorem" berarti "montormu", "omahem" berarti "omahmu", dan sebagainya.
 
Ciri lainnya adalah sering digunakannya partikel "eh", dengan vokal e diucapkan panjang, dalam percakapan untuk menggantikan partikel bahasa Jawa "ta". Misalnya, untuk menyatakan: "Ini bukumu, kan?", orang Muria berkata: "Iki bukuem, eh?"(Bahasa Jawa standardstandar: "Iki bukumu, ta?"). Contoh lain :"Jangan begitu, dong!", lebih banyak diucapkan "Aja ngono, eh!" daripada " Aja ngono, ta!"
 
Beberapa kosakata khas yang tidak dipakai dalam dialek Jawa yang lain antara lain:
*"jengklong" berarti "nyamuk" (Bahasa Jawa standardstandar: nyamuk atau lemut)
*"mblojet" berarti "telanjang dada" (Bahasa Jawa standardstandar: ngliga)
*"wong bento" berarti orang gila" (Bahasa Jawa standardstandar: wong edan)
*"pet" berarti "pipa atau air ledeng" (Bahasa Jawa standardstandar: ledeng)
*"neker" berarti "kelereng" (Bahasa Jawa standardstandar: setin)
*"jengen" berarti "nama" (Bahasa Jawa standardstandar: jeneng)
 
[[Kategori:Bahasa Jawa]]