Buka menu utama

Perubahan

1.316 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
+info, refs
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Gezicht op de vulkaan Salak en de rivier vanuit Hotel Bellevue te Buitenzorg TMnr 60025402.jpg|thumb|300px|Ci Liwung di daerah Bogor dengan latar belakang G. Salak dari akhir abad ke-19. Foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam.]]
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM De Ciliwung tussen de havendammen TMnr 3728-842.jpg|thumb|300px|Muara Ci Liwung pada tahun 1880-an ([[litografi]] berdasarkan lukisan oleh [[Josias Cornelis Rappard]])]]
'''CiliwungCi Liwung''', atau biasa ditulis '''Ciliwung'''<ref>Nama aslinya adalah ''Ci'' (Air) Haliwung ("haliwung" adalah [[bahasa Sunda|Sd.]]: untukair) ''Haliwung'' (Sd: "keruh") dan disebut dalam naskah [[bahasa Sunda|Sunda]] "[[Bujangga Manik]]" (abad ke-15). </ref> adalah sebuahsalah satu [[sungai]] terpenting di [[Pulau Jawa]].; Sungai initerutama relatifkarena lebarmelalui danwilayah diibukota, bagian[[DKI hilirnyaJakarta]], duludan dapatkerap dilayarimenimbulkan oleh[[banjir]] perahutahunan kecildi pengangkutwilayah barang daganganhilirnya.
 
Panjang aliran utama sungai ini adalah hampir 120 km dengan daerah pengaruhnyatangkapan airnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi.<ref>{{aut|Hendrayanto}}. 2008. [http://www.suiri.tsukuba.ac.jp/pdf_papers/tercbull08s2/t8supple2_14.pdf Transboundary watershed management. A case study of upstream-downstream relationships in Ciliwung watershed]. Proceedings of International Workshop on Integrated Watershed Management for Sustainable Water Use in a Humid Tropical Region, JSPS-DGHE Joint Research Project, Tsukuba, October 2007. ''Bull. TERC'', Univ. Tsukuba, No.'''8''' Supplement, no. 2, 2008</ref> Sungai ini relatif lebar dan di bagian hilirnya dulu dapat dilayari oleh perahu kecil pengangkut barang dagangan. Wilayah yang dilintasi Ci Liwung adalah [[KotaKabupaten Bogor]], [[KabupatenKota Bogor]], [[Kota Depok]], dan [[Jakarta]].
 
Hulu sungai ini berada di dataran tinggi yang terletak di perbatasan Kabupaten Bogor dan [[Kabupaten Cianjur]], atau tepatnya di [[Gunung Gede]], [[Gunung Pangrango]] dan daerah [[Puncak]]. Setelah melewati bagian timur Kota Bogor, sungai ini mengalir ke utara, di sisi barat Jalan Raya Jakarta-Bogor, sisi timur Depok, dan memasuki wilayah Jakarta sebagai batas alami wilayah [[Jakarta Selatan]] dan [[Jakarta Timur]]. Di daerah Manggarai aliran Ci Liwung banyakbermuara dimanipulasidi untukdaerah mengendalikan[[Luar banjir.Batang]], Jalurdi aslinyadekat mengalir[[Pasar melaluiIkan]] daerahsekarang. Cikini,Di Gondangdia,sebelah hingga Gambirbarat, namun setelah Pintu Air [[Masjiddaerah aliran Istiqlalsungai|IstiqlalDAS]] jalurCi lamaLiwung tidakberbatasan ditemukandengan lagiDAS karena dibuat[[Ci kanal-kanalSadane]], sepertiDAS di[[Kali sisi barat Jalan Gunung SahariGrogol]] dan KanalDAS [[MolenvlietKali Krukut]]. Sementara di antarasebelah Jalantimurnya, GajahDAS Madaini danberbatasan dengan DAS [[JalanKali VeteranSunter]].<ref>Kanal Molenvlietdan dibangunDAS pada pertengahan abad ke-17[[Ci Pinang|(lihatKali) [[Batavia#Sejarah|BataviaCipinang]]).</ref>BPDAS DiCitarum-Ciliwung. Manggarai,2011. dibuat''Penyusunan [[BanjirRencana KanalTindak Barat]]Pengelolaan yangDAS mengarahCiliwung''. ke barat,Fakultas laluKehutanan membelokIPB kedan utaraBP melewatiDAS Tanah AbangCitarum-Ciliwung, Tomang,Kementerian JembatanKehutanan Lima,RI. hingga(tidak ke Pluitditerbitkan)</ref>.
 
==Pengendalian banjir==
Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukiman-pemukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena [[daerah aliran sungai]] (DAS) di bagian hulu di Puncak dan Bogor yang rusak, DAS di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensi penyebab banjir di Jakarta menjadi besar.
Di daerah Manggarai aliran Ci Liwung banyak dimanipulasi untuk mengendalikan banjir. Jalur aslinya mengalir melalui daerah Cikini, Gondangdia, hingga Gambir, namun setelah Pintu Air [[Masjid Istiqlal|Istiqlal]] jalur lama tidak ditemukan lagi karena telah dibuat kanal-kanal semenjak [[zaman kolonial Belanda|zaman Belanda]] dulu, seperti kanal di sisi barat Jalan Gunung Sahari dan Kanal [[Molenvliet]] di antara [[Jalan Gajah Mada]] dan [[Jalan Hayam Wuruk]].<ref>Kanal Molenvliet dibangun pada pertengahan abad ke-17 (lihat [[Batavia#Sejarah|Batavia]]).</ref> Di Manggarai, dibuat [[Kanal Banjir Barat]] yang mengarah ke barat, lalu membelok ke utara melewati Tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima, hingga ke Pluit. Sedangkan [[Kanal Banjir Timur]] direncanakan mulai dari sekitar wilayah [[Kampung Melayu]] ke timur, menghubungkan aliran-aliran Ci Liwung, Ci Lilitan, Ci Pinang, Kali Sunter, [[Kali Buaran]], [[Kali Cakung]], hingga ke wilayah [[Marunda]]<ref>Pemda DKI. [http://www.jakarta.go.id/web/news/2008/01/Pengembangan-Kawasan-Banjir-Kanal ''Pengembangan Kawasan Banjir Kanal Timur''], diakses 01/01/2014.</ref>.
 
Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Ci Liwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan karena ia mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak perkampungan, perumahan padat, dan pemukimanpermukiman-pemukimanpermukiman kumuh. Sungai ini juga dianggap sungai yang paling parah mengalami perusakan dibandingkan sungai-sungai lain yang mengalir di Jakarta. Selain karena [[daerah alirantangkapan sungai]] (DAS)airnya di bagian hulu di wilayah [[Puncak]] dan Bogor yang rusak, DASbadan sungai di wilayah Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan yang mengakibatkan potensidaya penyebabtampung banjirair disungai Jakartamenyusut, menjadidan besarmudah menimbulkan banjir.
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di Katulampa (Bogor), Depok, Manggarai, serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di Gadog, Megamendung, Bogor sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.
 
Sistem pengendalian banjir sungai ini mencakup pembuatan sejumlah pintu air/pos pengamatan banjir, yaitu di [[Katulampa]] (Bogor), Depok, [[Pintu Air Manggarai|Manggarai]], [[Pintu Air Karet|Karet]], serta Pintu Air Istiqlal; serta dengan membagi aliran Ci Liwung melalui kanal-kanal banjir seperti yang diuraikan di atas. Pemerintah pernah merencanakan untuk membangun Waduk Ciawi di [[Gadog, Megamendung, Bogor]] sebagai cara untuk mengendalikan aliran sejak dari bagian hulu.
 
== Catatan kaki ==
== Galeri ==
<gallery>
File:Ciliwung di dekat Pintu Air Katulampa.JPG|SungaiCi CiliwungLiwung sebelum memasuki Pintu Air Katulampa
File:Ciliwung 090419-7685.JPG|Ci Liwung di timur [[Pulo Geulis]], Bogor
File:Ciliwung 090419-0298 pg.jpg|Ibu-ibu mencuci di tepian Ci Liwung. Pulo Geulis
5.901

suntingan