Buka menu utama

Perubahan

k
←Suntingan 39.216.121.40 (bicara) dibatalkan ke versi terakhir oleh Hysocc
| dauref = (2013)<ref>{{cite web|url=http://www.djpk.depkeu.go.id/regulation/27/tahun/2013/bulan/02/tanggal/04/id/873/|title=Perpres No. 10 Tahun 2013|date=2013-02-04|accessdate=2013-02-15}}</ref>
}}
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Kalkrotsen en rijstvelden bij Pangkadjene TMnr 60025411.jpg|thumb|300px|Gunung kapur di Pangkajene (foto diambil di akhir abad ke-19)]]
'''Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan ''' (dahulu bernama '''Pangkajene Kepulauan''', biasa disingkat '''Pangkep''') adalah salah satu [[kabupaten]] di [[Provinsi]] [[Sulawesi Selatan]], [[Indonesia]]. Ibukotanya adalah [[Pangkajene]]. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km², tetapi setelah diadakan analisis bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 Km² dengan luas wilayah daratan 898,29 Km² dan wilayah laut 11.464,44 Km².
 
== Penduduk ==
Pada hasil Sensus tahun 2010 menyatakan penduduk Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan sekitar 305.737 Jiwa yang terdiri atas 147.229 Laki-Laki, dan 158.508 Jiwa Perempuan.
 
== Intoleransi ==
Jemaat GKSS (Gereja Kristen Sulawesi Selatan) di Kabupaten Pangkep, yang
<nowiki> </nowiki>terletak sekitar 75 Km dari Makassar – Parepare, terkejut ketika
mendapat surat dari Pemkab Pangkep tanggal 28 November lalu. Surat
bernomor 33/WASBANG-PUTR/XI/2013 yang ditandatangani oleh Ir. H.
Sunandar sebagai Pembina TK-I, memerintahkan penyegelan dan “pembongkaran sendiri” gedung gereja mereka.
 
Isi kutipan dari surat itu: “Untuk itu diminta kepada saudara kiranya
<nowiki> </nowiki>menghentikan seluruh kegiatan/pekerjaan yang bersifat fisik bangunan
dimaksud diatas dimana bangunan ini kami Segel dan diminta kepada
saudara untuk segera melakukan pembongkaran sendiri terhadap bangunan
tersebut diatas.” Alasan perintah itu dikeluarkan hanya dituding gereja itu didirikan tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
 
Tentu saja keputusan tersebut dirasa
menyakitkan bagi jemaat GKSS. Apalagi beredar ultimatum agar jemaat GKSS
<nowiki> </nowiki>Pangkep diberi waktu untuk membongkar sendiri bangunan gereja mereka
sampai hari ini (4/12). Jika tidak, maka pihak Pemkab Pangkep akan membongkarnya.
 
Melalui akun Facebooknya, Pdt. Dr.
Zakaria Ngelow, sejarawan dan anggota MPH (Majelis Pekerja Harian) PGI
menyayangkan keputusan Pemkab Pangkep itu. “Gedung gereja itu adalah
satu-satunya tempat beribadah umat Kristen di ibukota Kabupaten ini,” tulisnya. “Sudah setahun lebih jemaat GKSS mengusahakan izin, tetapi
selalu ditolak oleh sekelompok masyarakat.”
 
Di kota Pangkep, sudah sejak tahun
1960-an ada komunitas Protestan, yang terutama terdiri dari para
pegawai, polisi, guru, dll. Komunitas ini mula-mula dilayani oleh GKSS
Maros, sampai akhirnya menjadi jemaat mandiri. Mereka beribadah dengan
berpindah-pindah, memanfaatkan fasilitas umum milik Kepala Pengadilan,
Kepala Kantor Telepon, atau Bupati.
 
Tahun 1985, gedung semi permanen untuk
siswa Kristen dapat didirikan, dan sejak 1989 menjadi gedung gereja atas
<nowiki> </nowiki>izin lisan Bupati. Tahun 2011 ada izin lisan Bupati untuk renovasi
tiang dan atap bangunan yang sudah mulai keropos dimakan rayap.
 
Tetapi justru rencana inilah yang
kemudian memicu penolakan. Agustus 2011 lalu ada penolakan masyarakat
dan ormas Muslim yang tergabung dalam FBUI Kab. Pangkajene dan
Kepulauan, dengan tuduhan rumah tinggal disulap jadi gereja. Fihak Dinas
<nowiki> </nowiki>PU Kab. Pangkep juga menuntut IMB.
 
Begitu juga, FKUB (Forum Kerukunan Umat
Beragama) meminta agar jemaat mengurus proses perijinan gedung baru
sesuai syarat-syarat yang disebut dalam Peraturan Bersama 2 Menteri No. 9
<nowiki> </nowiki>dan 8 thn 2006, sementara pihak majelis jemaat dan panitia meminta agar
<nowiki> </nowiki>pembangunan itu diperlakukan sebagai renovasi, bukan ijin bangunan
baru.
 
Sementara mereka menunggu, tiba-tiba
datanglah jawaban yang mengejutkan mereka dan ultimatum untuk membongkar
<nowiki> </nowiki>sendiri gedung gereja satu-satunya itu. Upaya mediasi dengan pemerintah
<nowiki> </nowiki>dan pihak keamanan, baik itu Bupati, Kapolsek, Dandim dll, tampaknya
berujung di jalan buntu. Bahkan dikabarkan, siang ini Kadim PU Pangkep
mengulangi ultimatum mereka: “Bongkar sekarang atau kami yang bongkar!”
 
Sungguh Ironis!!! Padahal mereka sudah meminta Izin, tetapi selalu ditolak mentah-mentah oleh Pemkab Pangkep.
 
== Referensi ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Kalkrotsen en rijstvelden bij Pangkadjene TMnr 60025411.jpg|thumb|300px|Gunung kapur di Pangkajene (foto diambil di akhir abad ke-19)]]
[[http://indonesiatoleran.or.id/2013/12/gkss-pangkep-mau-renovasi-atap-gereja-malah-diancam-bongkar/]]
{{reflist}}