Buka menu utama

Perubahan

Tidak ada perubahan ukuran, 5 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Marcel dilahirkan pada tahun 1889 di [[Paris]].<ref name="Harun"/> <ref name="Bertens">{{id}} Karl Bertens., ''Filsafat Barat Kontemporer - Perancis'', Jakarta: Gramedia, 2001</ref> Ayahnya seorang [[Katolik]] dan ibunya keturunan [[Yahudi]].<ref name="Bertens"/> Kematian ibu kandungnya membuat Marcel hidup dalam ketidakbahagiaan, karena ayahnya menikah lagi.<ref name="Bertens"/> Namun berkat kunjungannya ke luar negeri ([[Jerman]] dan [[Italia]]) menjadikan dia berpikir terbuka sejak semula menjadi filsuf.<ref name="Bertens"/> Ia mendapatkan gelar [[sarjana]] dalam filsafat pada tahun 1910 di [[Universitas Sorbonne]] pada usia 20 tahun.<ref name="Harun"/> Pada awalnya ia tertarik dengan [[idealisme]] dan menolah [[positivisme]], namun kemudian mengikuti [[eksistensialisme]].<ref name="Harun"/>
 
Ia mengajar di perbagai Lycees secara berpindah-pindah; Vendome (1911-1912), [[Paris]] (1915-1918, 1939-1941), Sens (1919-1922) dan di Montpeiller[[Montpellier]] (1941) yang tidak diduduki tentara [[Jerman]] di wilayah selatan.<ref name="Bertens"/> Lalu pada masa [[Perang Dunia ke I]] dia bekerja di [[Palang Merah]], dalam tugas pencarian orang-orang hilang, dia memiliki pandangan bahwa manusia kongkret tidak bisa disamakan dengan data yang terdapat dalam [[arsip]], [[formulir]], atau surat resmi lainnya.<ref name="Bertens"/> Pada tahun 1919 ia menikahi Jacqueline Boegner, kemenakan pendeta Boegner yang terkenal sebagai tokoh gerakan [[Oikumene]].<ref name="Bertens"/> Melalui pencarian yang panjang, akhirnya Marcel masuk [[Katolik]] pada tahun 1929.<ref name="Bertens"/> Di sini dia bertemu dengan penulis [[drama]] bernama Francois Mauriac.<ref name="Bertens"/> Mungkin hal inilah yang menyebabkan Marcel menolak sistematisasi dalam karya-karyanya.<ref name="Bertens"/> Marcel juga menulis karya-karya dalam bentuk drama sangat banyak jumlahnya.<ref name="Bertens"/>
 
Marcel sangat mencintai seni, hal ini terlihat dari [[musik]] yang juga menjadikannya berarti, misalnya tokoh [[J.S Bach]], seorang musisi pada zaman [[Barok]].<ref name="Edmund">{{id}}Karl-Edmund Prier., ''Sejarah Musik – Jilid 2', Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2007</ref> J.S Bach, bagi Marcel lebih penting dibanging [[Pascal]], St. [[Agustinus]] maupun pengaran siapa pun.<ref name="Bertens"/> Dia adalah pemain [[piano]] yang sangat profesional.<ref name="Bertens"/>
Kekaguman kepada apa yang ada pada diri kita, kemudian kita refleksikan apa yang kita kagumi. Fase kekaguman meliputi dua hal; 1. abstrak, analistis, obyektif, universal, dapat diverifikasi, dan 2. tidak memikirkan logika, namun dialog, tidak memikirkan obyek namun persona.<ref name="Sweetman"/> tahap ini dapat menguak Ada namun juga tetap tersembunyi. fase yang ketiga adalah eksplorasi yang melampaui pemikiran aktif, di sinilah kita menemukan yang ekspisit. Hal ini oleh Roger Troisfontaines disebut sebagai [[psikoanalis]]a [[ontologis]].<ref name="Sweetman"/>
 
== "Ada" dan "Mempunyai" ==
Bagi Marcel kata "mempunyai" atau "memiliki" memiliki dua makna, yang pertama memiliki secara otomatis dalam diri sendiri, dan yang kedua adalah memiliki dalam arti di luar diri.<ref name="Bertens"/> Dan secara tahapannya, "Ada" baru "mempunyai", bukan "mempunyai" kemudian "Ada".<ref name="Bertens"/> Relasi di antara dua makna itu nampak dalam tiga aspek [[relasi]]nya; [[ekslusivisme|ekslusivitas]] yaitu "milik saya pribadi" bukan orang lain, yang kedua adalah memelihara agar tidak hilang "apa yang kita miliki" itu, dan yang ketiga adalah adanya kuasa atas "apa yang kita miliki". Dalam hubungahubungan antara pemilik dan yang memiliki itu tidak bisa dipisahkan.<ref name="Bertens"/>
 
== Problem dan Misteri ==
"Problem" berasal dari bahasa Yunani "''pros''" artinya "di depan", dan "''ballo''" adalah "melemparkan", jadi "problem" adalah sesuatu yang diperhadapkan kepada kita di depan.<ref name="Bertens"/> "Problem" berasal dari luar diri kita, sedangkan "misteri" berasal dari dalam diri kita.<ref name="Bertens"/> Problem bisa dipecahkan dengan logika, namun misteri tidak pernah diajukan secara [[obyektif]] sehingga tidak bisa dipecahkan.<ref name="Bertens"/> Namun misteri bukan tidak bisa dimengerti sama sekali, namun melampaui pemikiran manusia karena bukan kegelapannya melainkan karena cahayanya yang mengagumkan. [[Misteri]] melibatkan diri dalam setiap hidup, namun bukan untuk dipecahkan melainkah untuk dialami dan dipercaya, hal ini bukan hanya dalam keagamaan.<ref name="Sweetman"/> Maka prolemproblem bisa dikatakan diliputi suasana "mempunyai" sedangkan misteri diliputi oleh "Ada" Hal selanjutnya adalah mengenai [[teori]] tentang [[tubuh]], kehadiran dan "Engkau [[Absolut]]" yang lebih bersifat misteri.<ref name="Sweetman"/>
 
'''Engkau Absolut''' berbicara mengenai [[Allah]]. Melalui relasi dengan orang lain, bagi Marcel dapat menghantarkan kita kepada kehadiran dari "Yang Lain" atau Tuhan.<ref name="Sweetman"/> Di sinilah maka kepercayaan, iman, dan harapan tidak memerlukan pembuktian sistematis maupun [[rasionalisme|logika]] yang [[empirisme|empiris]].<ref name="Sweetman">{{en}}Brendan Sweetman., ''The vision of Gabriel Marcel: epistemology, human person, the transcendent'', New York: Edition Rodopi B.V, 2008</ref>
147.545

suntingan