Teater Garasi: Perbedaan revisi

7 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
 
==Laboratorium penciptaan teater==
Fase ini ditandai dengan dua serial karya penyutradaraan Yudi Ahmad Tajudin yaitu tiga versi ''Waktu Batu'' (2001-2004) dan seri karya yang bersumber budaya pesisir Jawa yakni ''Je.ja.l.an'' (2008) dan ''Tubuh Ketiga'' (2010). Sepanjang proses ''Waktu Batu'', kelompok ini melakukan penyelidikan berbagai kanon sastra Jawa, naskah sejarah Asia Tenggara, dan juga khasanah pertunjukan di pulau Jawa. Ranah penyelidikan ini membuka keluasan kemungkinan bentuk dan pendekatan pertunjukan yang demikian luas. Terinpirasi oleh gagasan teater Grotowskgi[[Grotowski]] dan Euginio[[Eugenio Barba]], Tajudin mengenali kebutuhan untuk membangun ''training culture'', yaitu pembiasaan, penubuhan, dan penelusuran berbagai disiplin keaktoran secara rutin dan berkesinambungan. Kebutuhan ini disambut baik aktor dan performer Teater Garasi dengan terus mengeksplorasi dan menafsir tari Bali, tari klasik Yogya dan Solo, tari topeng Cirebon, dan pencak silat.
 
Di tengah fase ini, terutama pasca ''Waktu Batu#3: Deus Ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu'', aktor dan performer Garasi semakin intensif mengolah dimensi visual dan ketubuhan, sebagaimana ditandai oleh karya ''Mnem(a)syne'' (2006, produksi bersama Teater KuNauka Tokyo) dan ''King's Witch'' (kolaborasi [[Goenawan Mohamad]], [[Tony Prabowo]] dan Yudi Ahmad Tajudin, 2007).
51

suntingan