Buka menu utama

Perubahan

11 bita ditambahkan, 6 tahun yang lalu
Sedangkan kepercayaan suku Meratus biasanya disebut agama [[Balian]] yang lebih menekankan [[upacara]] dalam [[kehidupan]], seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn yang melakukan upacara pesta panen Naik Dango di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi '''[[ngayau]]''' yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.
 
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga [http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/ Aruh Ganal]. Tarian ritual misalnya tari ''Babangsai'' untuk wanita dan tari ''Kanjar'' untuk pria. Suku Bukit tinggal di dalam rumah bersama yang dinamakan'' balai'' yang lebih tepat berfungsi sebagai rumah ritual adat. Istilah ''balai'' juga masih dipakai suku Banjar Hulu yang tinggal di pedalaman untuk menyebut surau/langgar, karena kesamaannya sebagai tempat ibadah/ritual.
 
''Balai'' merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan [[sesajen]]. Tiap balai dihuni oleh beberapa [[kepala]] [[keluarga]], dengan posisi hunian mengelilingi [[altar]] [[upacara]]. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan ''umbun''. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).
28.105

suntingan