Daeng Soetigna: Perbedaan revisi

1.082 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
 
== Karya ==
Karya terbesar Pak Daeng Soetigna adalah memodifikasi [[Angklung]] yang tadinya bernada pentatonis menjadi diatonis. Angklung ini kemudian diberi nama kehormatan sebagai [[Angklung Padaeng]].
 
=== Guru ===
Dalam menciptakan angklung Padaeng, Daeng Soetigna berguru kepada: <ref name=Sumarsono2009" />
* Pengemis tua (tidak tercatat namanya), yang memainkan lagu "Cis kacang Buncis" dengan angklung tradisionil. Pak Daeng kemudian membeli peralatan angklung tersebut, dan mendapat inspirasi untuk memakai angklung sebagai alat mengajar seni musik, menggantikan alat seperti mandolin dan biola yang saat itu sangat mahal.
* Pak Djaja (dibaca Jaya), seorang empu pembuat angklung yang saat itu sudah sepuh. Pak Djaja dengan senang hati menerima ide Pak Daeng untuk membuat angklung diatonis, dan menurunkan pengalaman puluhan tahunnya, sehingga angklung dengan tangga nada diatonis itu berhasil terwujud.
* Pak Wangsa, adalah petani yang memberi tahu bahwa bambu akan awet jika di potong pada saat uir-uir berbunyi. Itu adalah tanda musim kemarau sudah mulai dan bambu berada pada keadaan kering.
 
 
=== Murid ===
Sebagai guru, Murid Pak Daeng Soetigna sangat banyak. Namun mereka yang secara khusus kemudian berhasil menjadi tokoh-tokoh angklung adalah: <ref name="Sjamsudin1986">Helius Sjamsudin dan Hidayat Winitasasmita, Daeng Soetigna bapak Angklung Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta, 1986.</ref>
103

suntingan