Jayakatwang: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Wic2020 (bicara | kontrib)
baru
 
keluarga & saat meninggal, +referensi
Baris 1:
'''Jayakatwang''' atau disebut juga '''Jayakatyeng''', '''Aji Katong''', atau '''Haji Katang''' adalah menantu raja [[Kerajaan Singhasari|Singhasari]] [[Wisnuwardhana]], dan menjadi penguasa lokal di bawah [[Kerajaan Singhasari]]. Jayakatwang masihmemerintah keturunandi rajaGelang-rajakGelang atau Daha sejak kunotahun [[Kerajaan Kadiri|Kadiri1271]].
 
Jayakatwang masih keturunan raja-raja kuno [[Kerajaan Kadiri|Kadiri]]. Ia beristrikan Turukbali, yang adalah saudara perempuan [[Kertanagara]]. Selain itu, putra Jayakatwang bernama Arddharaja.
Jayakatwang kurang suka dengan peralihan kekuasaan dari Wisnuwardhana ke [[Kertanagara]], karena ia mengklaim sebagai keturunan langsung Kadiri, serta ingin melakukan balas dendam terhadap Singhasari yang telah menghancurkan Kadiri. Jayakatwang kemudian memberontak terhadap Singasari. Kertanagara akhirnya meninggal dalam pemberontakan tersebut (1292).
 
Jayakatwang kurang suka dengan peralihan kekuasaan dari Wisnuwardhana ke [[Kertanagara]], karena ia mengklaim sebagai keturunan langsung Kadiri, serta ingin melakukan balas dendam terhadap Singhasari yang telah menghancurkan Kadiri. Jayakatwang kemudian memberontak terhadap Singasari. Kertanagara akhirnya meninggal dalam pemberontakan tersebut (1292).
Sementara itu, pada bulan November 1292, pasukan [[Mongol]] mendarat di [[Kabupaten Tuban|Tuban]] dengan tujuan membalas perlakuan Kertanagara yang dahulu pernah menolak membayar upeti terhadap Mongol. Namun, Kertanagara telah tiada. [[Raden Wijaya]], menantu Kertanagara memanfaatkan bersekutu dengan Mongol untuk menyerang Jayakatwang yang menduduki Singhasari. Aliansi Mongol dan Raden Wijaya kemudian menyerang Jayakatwang di Daha (Kediri). Jayakatwang kemudian menyerah. Pertempuran ini mengklaim telah menewaskan 5000 rakyat Kediri.
 
SementaraSetelah itu, pada bulanawal Novembertahun 12921293, pasukan [[Mongol]] mendarat di [[Kabupaten Tuban|Tuban]] dengan tujuan membalas perlakuan Kertanagara yang dahulu pernah menolak membayar upeti terhadap Mongol. Namun, Kertanagara telah tiada. [[Raden Wijaya]], menantu Kertanagara, memanfaatkan bersekutu dengan Mongol untuk menyerang Jayakatwang yang menduduki Singhasari. Aliansi Mongol dan Raden Wijaya kemudian menyerang Jayakatwang di Daha (Kediri). Jayakatwang kemudian menyerah. Pertempuran ini mengklaim telah menewaskan 5000 rakyat Kediri.
 
Menurut kitab ''[[Pararaton]]'' dan Kidung Panji Wijayakrama, Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Ia meninggal di dalam tahanan.
 
==Referensi==
*Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). ''Sejarah Nasional Indonesia''. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
 
==Lihat pula==