Buka menu utama

Perubahan

487 bita ditambahkan, 6 tahun yang lalu
k
 
== Budaya Bukit ==
Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di [[Kalimantan Tengah]] (SukuRumpun Dayak Ngaju atau Rumpun Barito), yang banyak menekankan [[ritual]] upacara kematian. Sukudalam Dayak Bukit lebih menekankanagama [[upacaraKaharingan]]. dalamSalah [[kehidupan]],satu sepertiSuku upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku KanayatnDayak di Kalimantan Barat.Selatan Suku Dayak Bukityang juga tidakbanyak mengenalmenekankan tradisi[[ritual]] '''''ngayau'''''upacara yangkematian adaadalah zaman[[Suku dahuluDayak padaDusun kebanyakan suku DayakDeyah]].
 
Sedangkan kepercayaan suku Meratus biasanya disebut agama [[Balian]] yang lebih menekankan [[upacara]] dalam [[kehidupan]], seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn yang melakukan upacara pesta panen Naik Dango di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi '''[[ngayau]]''' yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga [http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/ Aruh Ganal]. Tarian ritual misalnya tari ''Babangsai'' untuk wanita dan tari ''Kanjar'' untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan'' balai''.
 
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga [http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/ Aruh Ganal]. Tarian ritual misalnya tari ''Babangsai'' untuk wanita dan tari ''Kanjar'' untuk pria. Suku Bukit tinggal dalamdi dalam rumah besarbersama yang dinamakan'' balai'' yang lebih tepat berfungsi sebagai rumah ritual adat. Istilah ''balai'' juga dipakai suku Banjar yang tinggal di pedalaman untuk menyebut surau/langgar, karena kesamaannya sebagai tempat ibadah/ritual.
 
''Balai'' merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan [[sesajen]]. Tiap balai dihuni oleh beberapa [[kepala]] [[keluarga]], dengan posisi hunian mengelilingi [[altar]] [[upacara]]. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan ''umbun''. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).
28.231

suntingan