Buka menu utama

Perubahan

==Perjalanan Hidup==
 
SastrawanSeno yangGumira satu iniAjidarma adalah seprang sosok pembangkang. Putraputra dari [[Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo]], seorang guru besar Fakultas MIPA [[Universitas Gadjah Mada]] <ref name="seno g"> {{id}} http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/seno.html.</ref>. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong.
 
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau melanjutkan sekolah. Terpengaruh cerita petualangan [[Old Shatterhand]] di rimba suku [[Apache]], karya pengarang asal Jerman [[Karl May]], iadia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di [[Jawa Barat]], lalu ke [[Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar]]. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di [[Medan]]. Karena kehabisan uang, iadia mintameminta duituang kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
 
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan [[Old Shatterhand]] di rimba suku [[Apache]], karya pengarang asal Jerman [[Karl May]], ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di [[Jawa Barat]], lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di [[Medan]]. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam.
Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro.Seno ikut teater Alam pimpinan [[Azwar A.N]] selama 2 tahun.
 
Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan [[Azwar A.N]].
 
Tertarik puisi-puisi mbeling karya [[Remy Sylado]] di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra [[Horison]].
 
Tertarik puisi-puisi mbeling karya [[Remy Sylado]] di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Teman-teman Seno mengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra [[Horison]].Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
 
Pada usia 19 tahun, Seno bekerja sebagai wartawan, menikah, dan di tahun itu juga Seno masuk [[Institut Kesenian Jakarta]], jurusan sinematografi. <ref name="seno g"> {{id}} http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/seno.html.</ref>
 
KalauDia sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadimenjadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukankarena karya,terinspirasi tetapioleh [[Rendra]] yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong.
 
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: [[Manusia Kamar]] (1988), [[Penembak Misterius]] (1993), [[Saksi Mata]] (l994), [[Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi]] (1995), [[Sebuah Pertanyaan untuk Cinta]] (1996), [[Iblis Tidak Pernah Mati]] (1999). Karya lain berupa novel [[Matinya Seorang Penari Telanjang]][ (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat [[Sea Write Award]]. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh [[Dinny O’Hearn Prize for Literary]], 1997.