Buka menu utama

Perubahan

61 bita ditambahkan, 6 tahun yang lalu
==Perjalanan Hidup==
 
SASTRAWANSastrawan yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA [[Universitas Gadjah Mada.]] Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong.
 
Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan [[Old Shatterhand]] di rimba suku [[Apache]], karya pengarang asal Jerman [[Karl May]], ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di [[Jawa BaratBara]], lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di [[Medan]]. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.
Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam.
Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro.
 
Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan [[Azwar A.N]].
 
Tertarik puisi-puisi mbeling-nya karya [[Remy Sylado]] di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. SemuaTeman-teman padaSeno ngenyekmengatakan Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra [[Horison]].
 
Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.
 
Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk [[Institut Kesenian Jakarta]], jurusan sinematografi.
 
Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi [[Rendra]] yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong.
 
Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: [[Manusia Kamar]] (1988), [[Penembak Misterius]] (1993), [[Saksi Mata]] (l994), [[Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi]] (1995), [[Sebuah Pertanyaan untuk Cinta]] (1996), [[Iblis Tidak Pernah Mati]] (1999). Karya lain berupa novel [[Matinya Seorang Penari Telanjang]][ (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat [[Sea Write Award]]. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno mempe[roleh Dinny O’Hearn Prize for Literary]], 1997.