Bima (Mahabharata): Perbedaan revisi

627 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
| Pasangan = [[Dropadi]], [[Hidimbi]], Walandara
}}
'''Bima''' ([[Bahasa Sanskerta|Sanskerta]]: भीम, ''bhīma'') atau '''Bimasena''' ([[Sanskerta]]: भीमसेन, ''bhīmaséna'') adalah seorang tokoh protagonis dalam [[wiracarita]] ''[[Mahabharata]]''. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi [[Kunti]] dan dikenal sebagai tokoh [[Pandawa]] yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh<ref>{{cite book|last=edited|first=translated by Winthrop Sargeant ;|title=The Bhagavad Gita|year=2009|publisher=State University of New York Press|location=Albany|isbn=9781438428420|page=24|edition=25th anniversary ed.|coauthors=Smith, with a preface by Christopher Key Chapple ; foreword by Huston}}</ref>, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se'ayah'-nya ialah wanara yang terkenal dalam epos [[Ramayana]] dan sering dipanggil dengan nama [[Hanoman]]. Akhir dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna ([[moksa]]) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang [[Bharatayuddha]]. Cerita ini dikisahkan dalam episode atau lakon ''[[Prasthanikaparwa]]''. Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.
 
== Arti nama ==
Pada suatu hari ketika para [[Kurawa]] serta [[Pandawa]] pergi bertamasya di daerah [[sungai Gangga]], [[Suyudana]] menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan [[racun]]. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Ajaibnya, bisa ular tersebut berubah menjadi penangkal bagi racun yang dimakan Bima. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Antaboga.
 
Saat Antaboga mendengar kabar bahwa putera [[Pandu]] yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman, yang semangkuknya memiliki kekuatan setara dengan sepuluh gajah.<ref>{{cite web|url=http://www.sacred-texts.com/hin/m05/m05022.htm|title=Mahabharata Text}}</ref> Lalu Bima meminumnya tujuh mangkuk, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat, setara dengan tujuh puluh gajah. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, [[Duryodana]] kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para [[Pandawa]] menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.
 
== Pendidikan ==
Ketika Bima beserta ibu dan saudara-saudaranya berlibur di [[Waranawata]], ia dan [[Yudistira]] sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Pesuruh [[Duryodana]], yaitu Purocana, telah membangun rumah tersebut sedemikian rupa dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.
 
Pada suatu malam, Dewi [[Kunti]] mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, [[Nakula]] dan [[Sadewa]] berada di pahanya, sedangkan [[Yudistira]] dan [[Arjuna]] berada di lengannya.<ref>{{cite web|url=http://www.sacred-texts.com/hin/m02/m02029.htm|title=Mahabharata Text}}</ref>
 
Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di [[sungai Gangga]]. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh [[Widura]], yaitu menteri [[Hastinapura]] yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati [[Sidawata]] sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.
=== Istri dan keturunan ===
 
Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah [[Indraprastha]]. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak,<ref>{{cite web|url=http://www.sacred-texts.com/hin/m01/m01096.htm|title=Mahabharata Text}}</ref> yaitu:
# Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja,
# Dewi [[Hidimbi|Arimbi]], berputera Raden [[Gatotkaca]] dan
* [[Pandawa]]
* [[Mahabharata]]
 
== Referensi ==
{{reflist}}
{{Tokoh Mahabharata}}
 
7.163

suntingan