Sejarah Ordo Bait Allah: Perbedaan revisi

12 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-diantara +di antara)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-di abad +pada abad); kosmetik perubahan)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-diantara +di antara))
== Kelahiran dan perkembangan ==
[[Berkas:Al aqsa moschee 2.jpg|thumb|left|Masjid Al Aqsa]]
Sejarah [[Ordo Bait Allah]] bisa ditilik hingga periode tak lama setelah [[Perang Salib Pertama]]. Sekitar tahun 1119, seorang bangsawan Perancis dari wilayah Champagne, [[Hugues de Payens]], mengumpulkan delapan orang ksatria yang juga masih sanak saudaranya, termasuk diantaranyadi antaranya [[Godfrey de Saint-Omer]], dan memulai [[Ordo Bait Allah]], di mana mereka menyatakan misi mereka adalah untuk melindungi para peziarah yang dalam perjalanan untuk mengunjungi Kota Suci. Mereka mendekati Raja [[Baldwin II dari Yerusalem]] yang memperbolehkan mereka untuk mendirikan markas besar di sisi tenggara [[Al-Haram asy-Syarif|Bait Suci]], di dalam [[Masjid Al-Aqsa]]. Semenjak Bait Suci adalah lokasi [[Bait Salomo]] yang diceritakan di dalam Kitab Suci, ordo ini mengambil nama "'''Ksatria Bait Raja Solomo'''" (''The Knights of the Temple of King Solomon''), yang nantinya disingkat menjadi "Ordo Bait Allah".
 
Tidak banyak yang diketahui mengenai ordo ini dalam sembilan tahun pertama berdirinya. Namun pada tahun 1129, setelah mereka secara resmi di bawah pengawasan gereja di [[Konsili Troyes]], mereka menjadi sangat terkenal di seluruh Eropa. Kampanye-kampanye pengumpulan dana mereka meminta bantuan uang, tanah atau putra-putra bangsawan untuk bergabung dengan ordo ini, dengan implikasi bahwa donasi yang diberikan akan membantu baik dalam usaha mempertahankan [[Yerusalem]] dan memastikan pemberi bantuan suatu tempat di surga. Usaha-usaha ordo ini dibantu secara besar-besaran dengan dukungan [[Bernardus dari Clairvaux]], tokoh gereja saat itu, dan seorang keponakan salah satu dari sembilan pendiri Ordo Bait Allah.
[[Berkas:Bernhard von Clairvaux (Initiale-B).jpg|thumb|Santo Bernardus dari Clairvaux, pelindung Ordo Bait Allah]]
 
Donasi-donasi yang diberikan ke ordo ini jumlahnya sangat besar. Raja [[Aragon]], di [[Semenanjung Iberia]], mewariskan tanah yang luas setelah dirinya meninggal dunia pada tahun 1130-an. Anggota-anggota baru ordo ini juga dipersyaratkan untuk mengambil sumpah kemiskinan dan menyerahkan semua harta miliknya kepada persaudaraan para biarawan ini. Harta mereka antara lain tanah, kuda dan harta-harta lainnya yang bernilai, termasuk diantaranyadi antaranya kerja sukarela dan semua bidang niaga.
 
Pada tahun 1139, kekuasaan yang lebih besar dianugerahkan melalui perintah [[Paus Innosensius II]], yang menerbitkan [[Bulla kepausan]] ''[[Omne Datum Optimum]]''. Dokumen ini menyatakan bahwa para Ksatria Ordo Bait Allah dapat melewati semua perbatasan dengan bebas, tidak dikenai pajak, dan tidak tunduk pada siapapun kecuali pada Sri Paus. Hal ini merupakan suatu penegasan terhadap keberadaan para Ksatria Ordo Bait Allah dan misi-misi mereka, yang mungkin diajukan oleh sang pendukung ordo ini, [[Bernardus dari Clairvaux]], yang membantu [[Paus Innosensius II]] untuk maju menduduki tahtanya tersebut.
 
== Penurunan kekuatan ==
Keberhasilan Ordo Bait Allah ini menjadi kekhawatiran banyak ordo lainnya, dua ordo besar diantaranyadi antaranya yang bisa menyaingi kekuatannya adalah [[Ksatria Hospitaller]] dan [[Ksatria Teutonik]]. Banyak bangsawan lainnya juga memiliki kekhawatiran terhadap Ordo Bait Allah ini, terutama atas dasar alasan-alasan finansial, dan kekhawatiran atas suatu kekuatan militer mandiri yang bisa bergerak secara bebas melewati semua perbatasan.
 
[[Berkas:Hattin.jpg|thumb|right|Pertempuran Hattin]]
 
Kecerdikan militer Ordo Bait Allah yang telah lama terkenal mulai mengalami sandungan pada tahun 1180an. Pada tanggal 4 Juli 1187 terjadilah [[Pertempuran Hittin|Pertempuran di Tanjung Hattin]] yang fatal, yang menjadi titik balik dalam [[Perang Salib]]. Peristiwa ini sekali lagi melibatkan [[Saladin]], yang pernah dikalahkan oleh Ordo Bait Allah pada tahun 1177 dalam Pertempuran Montsigard dekat Tiberias yang terkenal itu, namun kali ini Saladin lebih siap siaga. Lebih daripada itu, Pemimpin Agung (''Grand Master'') Ordo Bait Allah, Gerard de Ridefort, yang baru saja memperoleh jabatan seumur hidup itu terlibat dalam pertempuran ini. Ia bukanlah seorang ahli strategi militer yang baik dan membuat beberapa kesalahan fatal, diantaranyadi antaranya melakukan perjalanan dengan kekuatan 80 ksatria-nya di bawah terik matahari padang pasir yang menyengat tanpa membawa persediaan air yang cukup. Para Ksatria Ordo Bait Allah ini dikalahkan oleh panasnya gurun pasir dalam waktu satu hari, dan kemudian dikepung dan dibantai oleh tentara Saladin. Ridefort kemudian membuat kesalahan lebih besar lagi yang benar-benar menjatuhkan semangat tempur seluruh ksatria [[Ordo Bait Allah]]: bukannya ia bertempur hingga mati sebagaimana yang dimandatkan sebagai Ksatria Ordo Bait Allah, Ridefort ditangkap dan dijadikan barang tebusan untuk menyerahkan [[Gaza]] pada Saladin. Ia mencoba menyerang pasukan Saladin lagi beberapa bulan kemudian dalam peristiwa Pengepungan Acre, namun hal ini juga berakhir dengan kegagalan dan ditangkapnya lagi Ridefort, kecuali kali ini ia dipenggal kepalanya.
 
Pertempuran ini menandai titik balik dalam Perang Salib, dan dalam waktu setahun pasukan Muslim berhasil merebut Yerusalem. Hal ini mengguncang kekuatan organisasi Ordo Bait Allah di mana alasan utama berdirinya adalah untuk mendukung segala perjuangan di [[Tanah Suci]]. Mereka mencoba untuk membangkitkan kembali dukungan di antara para bangsawan Eropa untuk kembali bertempur, namun setelah kegagalan yang ditunjukkan oleh Pemimpin Agung Gerard de Ridefort, Perancis menarik dukungannya. Tanpa dukungan negara-negara lain, bahkan kepemimpinan luar biasa dari Raja [[Richard I dari Inggris|Richard Berhati Singa]] tidaklah mencukupi. Ordo Bait Allah mengalami kekalahan satu demi satu, seperti di Pertempuran Jaffa tahun 1191. Dalam sebuah pertempuran yang sangat mengenaskan pada tahun 1244, 312 Ksatria Ordo Bait Allah tewas sementara 348 lainnya terluka.<ref name=Worlds>''Lost Worlds: Knights Templar'', July 10, 2006, video documentary on ''[[The History Channel]]''</ref> Kampanye Perang Salib lainnya yang dipimpin oleh Raja [[Louis IX dari Perancis]] dan Raja [[Edward I dari Inggris]] tidak berhasil. Dengan tiap kekalahan, seperti dalam Pertempuran al-Mansurah pada tahun 1250 atau Pengepungan Safad pada tahun 1266, Eropa semakin tidak tertarik untuk terlibat dalam kekalahan pertempuran di Perang Salib. Ordo Bait Allah semakin hari semakin banyak kehilangan tanah miliknya, dan setelah peristiwa Pengepungan Acre pada tahun 1291, mereka terpaksa memindahkan markas besar mereka ke pulau [[Siprus]].
 
=== Usaha terakhir untuk merebut kembali Tanah Suci (1298–1300) ===
Pada tahun 1298 atau 1299, ordo militer (Ordo Bait Allah dan Ksatria Hospitaller beserta para pemimpin mereka, termasuk diantaranyadi antaranya [[Jacques de Molay]], Otton de Grandson serta Pemimpin Agung Kaum Hospitaller, melakukan kampanye perang singkat di [[Armenia]], untuk mengusir serbuan kaum [[Mamluk]]. Mereka mengalami kegagalan dan tak lama kemudian Benteng Roche-Guillaume di Belen, [[Turki]] - pusat kekuatan Ordo Bait Allah di [[Antioch]], jatuh pada tentara Muslim.
 
Pada tahun 1300, Ordo Bait Allah, bersama-sama dengan Ksatria Hospitaller dan kekuatan tentara dari [[Siprus]] mencoba untuk merebut kota pantai [[Tortosa]]. Mereka berhasil untuk merebut Pulau Arwad, dekat [[Tortosa]], tapi tak lama kemudian kehilangan pulau itu. Dengan jatuhnya Arwad, para tentara [[Perang Salib]] kehilangan pusat kekuatannya di [[Tanah Suci]].<ref name=Worlds/>
Salah satu dari sekian banyak contoh adalah pada tahun 1299, ordo ini meminjamkan uang dengan jumlah yang besar sebanyak lima ratus ribu ''livres'' untuk mas kawin saudara perempuannya. Ia juga sangat membutuhkan aliran dana yang besar untuk biaya [[Perang Flemish]]. Ia telah menetapkan pajak yang sangat besar hingga menyebabkan beberapa warganya melakukan pemberontakan, sementara beberapa pihak lainnya telah berpikir untuk melakukannya. Saat berada dalam tekanan finansial yang sangat besar, ia menurunkan nilai mata uangnya hingga suatu pemberontakan besar terjadi di [[Paris]]. Selama adanya pemberontakan ini sang raja berlindung di balik tembok biara, dan adalah para Ksatria Ordo Bait Allah yang menyelamatkannya dari serangan para pemberontak.
 
Semua hutang budi ini menjadi suatu beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang raja yang berusaha untuk menjadikan dirinya seorang penguasa absolut. Sumber-sumber dananya telah habis dan pilihan tindakan lainnya hanya tinggal sedikit. Apabila ditanya mengapa Raja [[Philip IV dari Perancis|Philip]] menyerang Ordo Bait Allah dan bukannya Ksatria Hospitaller, jawabannya mungkin karena faktanya Ksatria Ordo Bait Allah saat itu lebih lemah diantaradi antara keduanya, sementara kerahasiaan yang menyelimuti ritual para Ksatria Ordo Bait Allah hanyalah suatu objek dari kecurigaan orang-orang belaka.
 
Rencana kemudian dibuat. Para menteri dan kaki-tangan Raja Philip seperti Guillaume de Nogaret, Guillaume de Plaisian, Eenaiid de Roye, dan Enguerrand de Marigny sangat senang dengan adanya suatu kesempatan untuk mengisi kembali kas kerajaan yang kosong; selain itu mereka sama sekali tidak ada masalah untuk membuat daftar kesaksian-kesaksian yang memberatkan Ordo Bait Allah, semenjak sejarah telah membuktikan bagaimana banyaknya bukti yang telah tersimpan dari para saksi yang terpercaya yang mendakwa [[Paus Bonifasius VIII]] atas kejahatan-kejahatan yang sama kejamnya. Banyak juga para mantan Ksatria Ordo Bait Allah yang dikeluarkan dari ordo karena tindakan-tindakan salah mereka, dan yang mau untuk melampiaskan rasa benci mereka kepada ordo tersebut. Ada juga para anggota ordo yang murtad yang dipenjara kalau tertangkap karena desersi dan para pembohong yang berjumlah cukup banyak di mana dari mereka ini para aparat kerajaan bisa memperoleh bukti-bukti dan kesaksian-kesaksian yang dibutuhkan untuk tujuan tertentu. Semua ini secara diam-diam dikumpulkan oleh Guillaume de Nogaret, dan disimpan dengan sangat rahasia di Corbeil di bawah tanggung jawab seorang biarawan [[Dominikan]], Humbert. Tentunya dari semua ini, ajaran sesat merupakan tuduhan yang paling mudah untuk diajukan.
Raja Philip memiliki alasan-alasan lain untuk tidak percaya kepada Ordo Bait Allah, setelah ordo ini menyatakan keinginannya untuk membentuk negara sendiri, mirip dengan bagaimana para Ksatria Teutonik mendirikan [[Prusia]]. Lokasi yang diinginkan oleh Ordo Bait Allah untuk hal ini adalah di [[Languedoc-Roussillon|Languedoc]], di sebelah tenggara Perancis, namun mereka juga memiliki rencana di pulau Siprus. Pada tahun 1306, Ordo Bait Allah mendukung gerakan kudeta di pulau tersebut yang memaksa Raja Henry II dari Siprus untuk [[Abdikasi|mengabdikasikan]] tahtanya dan menyerahkannya pada saudaranya, Amalric dari [[Tirus, Lebanon|Tirus]]. Hal ini menyebabkan Raja Philip menjadi waswas terutama hanya beberapa tahun sebelumnya ia diwarisi tanah di wilayah [[Champagne-Ardenne|Champagne]], Perancis, yang merupakan daerah markas besar Ordo Bait Allah. Ordo Bait Allah sudah merupakan suatu "negara di dalam negara", kaya secara institusi, tidak membayar pajak, dan memiliki tentara aktif yang berjumlah besar yang melalui perintah kepausan dapat bergerak bebas melintasi semua perbatasan Eropa. Namun, tentara ini tidak lagi ada di Tanah Suci, sehingga mereka tidak memiliki wilayah perang. Faktor-faktor ini, ditambah dengan fakta bahwa Philip mewarisi dari ayahnya sebuah kerajaan yang miskin dan yang telah berhutang banyak kepada Ordo Bait Allah, mungkin merupakan penyebab utama dari tindakan-tindakan terhadap Ordo Bait Allah.<ref name="Worlds"/><ref name="Martin"/>
 
Pada hari Jumat subuh, tanggal 13 Oktober 1307, beberapa Ksatria Ordo Bait Allah Perancis ditangkap secara bersamaan oleh para aparat Raja Philip, kemudian disiksa di beberapa lokasi seperti Menara Chinon, untuk mengaku atas kejahatan ajaran sesat yang dilakukan dalam ordo mereka. Lebih dari 100 tuduhan dijatuhkan kepada mereka, kebanyakan diantaranyadi antaranya adalah tuduhan-tuduhan yang sama yang sebelumnya pernah dituduhkan kepada [[Paus Bonifasius VIII]]: tuduhan atas penolakan terhadap Kristus, meludahi dan mengencingi salib, dan penyembahan setan. Proses interogasi para Ksatria Ordo Bait Allah ini di bawah pengawasan pihak [[Inkuisisi Abad Pertengahan]], suatu kelompok ahli interogasi dan rohaniwan berpengalaman yang berkeliling di seluruh Eropa yang selalu siap sedia untuk dimintai jasanya oleh bangsawan Eropa manapun.
 
Aturan interogasi ini menyatakan bahwa tidak boleh ada darah yang tumpah, namun hal ini tidak menghentikan tindakan penyiksaan. Satu sumber menceritakan bagaimana seorang Ksatria Ordo Bait Allah dibakar tumit kakinya hingga menyebabkan tulang-tulangnya rontok dan keluar melalui kulitnya. Sementara itu beberapa Ksatria Ordo Bait Allah lainnya digantung terbalik atau dipasangi ''thumbscrew'' (alat penyiksa yang menjepit jari hingga tulang jari remuk). Dari 138 Ksatria Ordo Bait Allah yang diinterogasi di Paris (di mana banyak diantaranyadi antaranya sudah berusia tua), 105 diantaranyadi antaranya "mengaku" melakukan tindakan menolak Kristus dalam proses inisiasi rahasia ordo mereka. 103 ksatria mengaku akan tindakan berciuman yang vulgar sebagai bagian dari upacara ordo, dan 123 mengatakan bahwa mereka meludahi salib. Di sepanjang pengadilan tidak pernah ada satu pun bukti fisik dari kesalahan yang dituduhkan, dan juga tidak ada saksi-saksi yang tidak berat sebelah; satu-satunya "bukti" didapatkan melalui pengakuan-pengakuan yang keluar dari tindakan penyiksaan.<ref name=HC/> Para Ksatria Ordo Bait Allah memohon bantuan Sri Paus atas peristiwa ini, dan [[Paus Klemens V]] memang mengirimkan surat kepada Raja [[Philip IV dari Perancis]] mempertanyakan penangkapan-penangkapan tersebut, namun ia tidak melakukan hal lainnya.
 
Walau faktanya semua pengakuan yang ada adalah hasil dari tekanan, semua pengakuan ini menyebabkan skandal di Paris di mana gerombolan-gerombolan massa menuntut dihukumnya ordo yang dianggap melakukan tindakan penghinaan terhadap agama ini. Sebagai tanggapan atas tekanan publik ini, bersama dengan paksaan dari Raja Philip, Paus Klemens menerbitkan bulla kepausan ''[[Pastoralis Praeeminentiae]]'', yang menginstruksikan semua monarki Kristen di Eropa untuk menangkap semua Ksatria Ordo Bait Allah dan menyita semua harta milik mereka.<ref>Martin, p. 118.</ref> Sebagian besar monarki tidak percaya akan tuduhan-tuduhan ini, walaupun tindakan penyelidikan dilakukan di [[Inggris]], [[Semenanjung Iberia]], [[Jerman]], [[Italia]] dan [[Siprus]],<ref>Malcolm Barber, ''The Trial of the Templars'', 2nd edn. (Cambridge, 2006), pp. 2, 217–58; also see Anne Gilmour-Bryson, ''The Trial of the Templars in Cyprus'', (Leiden, 1998).</ref> dengan kemungkinan adanya pengakuan sangat tergantung pada ada tidaknya tindakan penyiksaan untuk memperolehnya.
 
Pandangan umum menyatakan bahwa Raja Philip - yang menyita keuangan ordo dan menghancurkan sistem perbankan mereka, sangatlah cemburu pada kekayaan dan kekuasaan Ordo Bait Allah, dan menjadi frustrasi atas banyaknya hutang pada mereka - berusaha untuk menguasai sumber dana Ordo Bait Allah untuk dirinya sendiri dengan cara mengeluarkan tuduhan-tuduhan palsu kepada mereka di Pertemuan [[Tours]] pada tahun 1308. Sangatlah tidak mungkin untuk percaya bahwa di bawah pengaruh para penasehat yang dipilihnya secara hati-hati, ia benar-benar mempercayai bahwa semua tuduhan tersebut adalah benar. Adalah suatu hal yang diterima secara luas bahwa Raja Philip secara jelas membuat tuduhan-tuduhan tersebut di mana beberapa diantaranyadi antaranya sama persis dengan tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan pada Paus Bonifasius sebelumnya, dan bahwa Raja Philip tidak percaya bahwa ada Ksatria Ordo Bait Allah yang ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dituduhkan. Fakta menunjukkan bahwa sang raja mengundang [[Jacques de Molay]] untuk turut menjadi pembawa peto jenazah di pemakaman saudara perempuan sang raja satu hari sebelum dimulainya tindakan penangkapan terhadap para Ksatria Ordo Bait Allah.<ref name=Napier>Gordon Napier, ''The Rise and Fall of the Knights Templar'', 2003. ISBN 1-86227-199-2</ref>
 
Peristiwa penangkapan ini menyebabkan pergeseran dalam ekonomi Eropa, dari suatu sistem yang ditentukan oleh suatu badan militer (''military fiat'') kembali ke sistem uang Eropa, yang menghilangkan kekuasaan ini dari ordo gerejawi. Menyaksikan nasib Ksatria Ordo Bait Allah, para Ksatria Hospitaller juga diyakinkan untuk meninggalkan kegiatan perbankan saat itu juga.
Dokumen ini diikuti dengan [[bulla kepausan]] ''[[Ad providam]]'' pada tanggal 2 Mei 1312 yang menyerahkan semua tanah dan kekayaan Ordo Bait ALlah kepada kaum Hospitaller agar tujuan awalnya bisa dicapai, tidak menuruti harapan Raja Philip IV agar tanah-tanah di Perancis diserahkan kepadanya. Philip menguasai beberapa tanah tersebut hingga tahun 1318, dan di Inggris raja dan bangsawan menguasai sebagian besar tanah itu hingga tahun 1338; di banyak tempat di Eropa tanah-tanah ini tidak pernah diserahkan kepada [[Ksatria Hospitaller]], melainkan diambil-alih oleh kaum bangsawan dan kerajaan sebagai usaha untuk mengurangi pengaruh Gereja dan ordo-ordonya di wilayah mereka.
 
Dari para Ksatria Ordo Bait Allah yang tidak terbukti bersalah, atau mereka yang telah terbukti bersalah tapi telah diampuni oleh Gereja, beberapa diantaranyadi antaranya bergabung dengan [[Ksatria Hospitaller|Ordo Hospitaller]] (bahkan tinggal bersama di dalam rumah Templar yang sama); beberapa yang lain bergabung dengan rumah-rumah Ordo [[Augustinian]] dan Ordo [[Sistersian]]; dan sisanya kembali ke kehidupan awam dengan uang pensiun. Di [[Portugal]] dan Kerajaan Aragon, [[Tahta Suci]] menganugerahkan tanah milik Ordo Bait Allah kepada dua ordo baru: Ordo Kristus dan Ordo Montesa, di mana anggota keduanya sebagian besar adalah Ksatria Ordo Bait Allah di kedua kerajaan tersebut. Dalam bulla yang sama, Sri Paus mendorong mereka yang telah mengaku bersalah diperlakukan "sesuai dengan tegasnya keadilan."
 
[[Berkas:Templars Burning.jpg|thumb|right|Dua orang Ksatria Ordo Bait Allah dibakar hidup-hidup, dari manuskrip Perancis abad ke-15.]]
Pada akhirnya, hanya tiga orang saja yang dituduh melakukan ajaran sesat secara langsung oleh komisi kepausan: [[Jacques de Molay]], Pemimpin Agung Ordo Bait Allah, dan dua orang bawahannya langsung; mereka akan menyatakan menolak ajaran sesat mereka secara publik ketika de Molay memperoleh kembali keberaniannya dan menyatakan ketidak-bersalahan ordo dan dirinya bersama-sama dengan [[Geoffrey de Charney]]. Kedua orang ini ditangkap oleh aparat Perancis sebagai para pengikut ajaran sesat kambuhan dan dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup pada tahun 1314. Abu mereka kemudian dihaluskan dan dibuang di [[Sungai Seine]] supaya tidak meninggalkan relik apapun.
 
Di [[Inggris]] pihak kerajaan juga berutang banyak kepada Ksatria Ordo Bait Allah, dan mungkin atas dasar hal itu para Ksatria Ordo Bait Allah juga ditindas di sana, tanah-tanah mereka dirampas dan diambil-alih oleh pihak lain (tanah milik Ordo Bait Allah terakhir adalah tanah milik Hugh le Despenser, seorang rekan dekat Raja [[Edward II dari Inggris|Edward II]]). Banyak Ksatria Ordo Bait Allah di Inggris dibunuh; beberapa diantaranyadi antaranya melarikan diri ke [[Skotlandia]] dan tempat-tempat lain.<ref>The History of the Knights Templar, Temple Church and the Temple, by Charles G. Addison, Esq., London, P, 196, 350, not in copyright, available thru the Internet Archives gateway. .</ref> Di Perancis, Raja [[Philip IV dari Perancis|Philip IV]], yang juga kebetulan berhutang sangat besar kepada Ordo Bait Allah mungkin adalah penindas yang lebih agresif. Karena sangat besarnya ketidak-adilan dari kemarahan Philip terhadap Ordo Bait Allah sampai-sampai "Kutukan Ordo Bait Allah" menjadi suatu legenda: Konon diucapkan oleh Sang Pemimpin Agung [[Jacques de Molay]] saat diikat di tiang tempat ia akan dibakar hidup-hidup, ia berkata: "Dalam waktu satu tahun, Tuhan akan memanggil Klemens dan Philip untuk diadili oleh-Nya atas tindakan-tindakan ini." Kenyataan bahwa kedua penguasa meninggal dunia dalam waktu satu tahun, seperti yang diprediksi sebelumnya, hanya memperkuat skandal di seputar penindasan Ordo Bait Allah. Sumber legenda ini tidak berasal dari waktu sekitar hukuman mati [[Jacques de Molay]].<ref>Malcolm Barber, ''The New Knighthood: A History of the Order of the Temple'' (Cambridge University Press, 1993).</ref>
 
== Chinon dan Pengampunan ==
23.060

suntingan